Tag Archive | random

Terimakasih Senja


Gambar

Terimakasih senja, engkau telah mengingatkanku akan pentingnya terang mentari pagi.

Terimakasih senja, engkau mengajarkanku untk ikhlas melepas sang mentari pergi, berganti dengan datangnya sang rembulan.

Terimakasih senja.. Saat sesuatu hilang dan pergi menjauh. Itu pertanda akan ada yg lain datang menghampiri.

Terimakasih senja, mentari pergi bkn berarti tak lg mencinta bumi. Tp ia sdg menyinari belahan bumi yang lainnya.

Terimakasih senja. Rembulan tak pernah sembunyi. Ia hanya sedang menunggu. Datang tepat pada waktunya.

Terimakasih senja. Kita memang selalu butuh cahaya. Entah pagi, ataupun malam.

Terimakasih senja. Engkau merona merah saga. Menjadi saksi jutaan penghuni bumi kembali ke peraduannya.

Terimakasih senja.. Mentari memang tak selalu terlihat, tp yakinlah ia senantiasa ada. Menerangi bumi penuh cinta.

Terimakasih untuk semuanya.. Senja datang. Siang berganti malam. Begitulah siklus kehidupan. Ada awal dan pasti ada akhir segalanya.

 

Untuk adik-adikku


Entah mau dimulai darimana, saya pun bingung untuk menyampaikannya.. yang pasti beberapa baris ini mungkin akan sedikit menjadi catatan penting yang harus kalian ketahui agar tak menjadi masalah lagi di kemudian hari.

Saya minta maaf karena tak bisa memperbaiki ‘sistem’ dari dalam. itulah kekurangan saya. Berat untuk menjadi sosok dualisme dimana satu sisi berupaya untuk memperbaiki sistem namun disisi lain terpaksa harus mengikuti sistem. Cukuplah ini menjadi pelajaran bagi kalian nanti di kemudian hari, bahwa keresahan-keresahan yang kalian sampaikan dan kritikan-kritikan yang kalian lontarkan sebenarnya takkan berarti apa-apa jika dikemudian hari tersebut kalian tetap terbawa oleh sistem. Sistem ini dibuat oleh manusia, yang sudah pasti ada kemungkinan khilaf dan salahnya. Oleh karena itu bukan sebuah aib jika kalian berupaya untuk menghadirkan sesuatu yang baru yang tentunya lebih baik. Hadirkan solusi kreatif namun masih ada di jalur yang baik. Bukankah kalian dulu sering mengatakan bahwa kalian sudah jumud, jenuh dengan sistem yang selama ini ada.

Dulu, pun saya seperti itu mengkritisi sistem, namun apa daya, ketika sudah masuk ke dalam sistem itu sendiri. Sulit sekali untuk menyadarkan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem ini. Berkaca pada iklan sebuah produk kopi instan, “BONGKAR KEBIASAAN LAMA.”, kalian sudah lebih cerdas, kalian lebih beruntung sudah saling mengenal sejak dini, tidak seperti kami yang….. *ah geram kalau diteruskan*, kami yang di-sia-sia-kan karena tiadanya kepercayaan lalu disalah-salahkan oleh kebijakan sistem itu sendiri.

Pesan saya yang terakhir, terus belajar, terus mendekatkan diri pada Sang Maha Pemberi Solusi,, hidup perlu dinamisasi.. bukan terus memaksakan status quo yang jelas-jelas sudah banyak cacatnya. Kalian lebih progresif, dan saya yakin kalian lah yang akan bisa memperbaiki sistem itu.

Semangatttt!!!!

Allah dulu, Allah lagi…. Allah terus


Sampai pada titik ini saya semakin menyadari bahwa jika semua yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini adalah jawaban atas setiap do’a-do’a yang terpanjatkan. Allah tempat bergantung segala urusan, Allah pula satu-satunya tempat meminta. Allah tempat curhat yang paling setia, Dia yang akan memberikan solusi atas segala curhatan atas problematika yang kita hadapi.

Segala sesuatu yang ada di dunia ini milikNya. Harta dunia, keindahan semesta, bahkan sampai hati manusia dikendalikan oleh Nya. Dia lah Yang Maha Membolak-balikkan hati. Dia pula yang bisa menggerakan hati-hati manusia agar bisa tertunduk dihadapanNya.

Jika menginginkan sesuatu, mintalah hanya pada Allah. Dimulai dengan ikhtiar yang benar, ibadah yang memperkuat amal, dan tawakkal yang menegarkan setiap hasil keputusan. Prinsip Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus memang benar adanya. Jika semua kesulitan hidup dianggap sebagai sebuah fase kehidupan yang harus dijalani, maka cara menghadapinya bukan menghindar, melainkan meminta ketegaran dan kekuatan untuk bisa menghadapinya dengan baik.

Selama Allah masih dijadikan satu-satunya tempat bergantung, insya Allah, Dia takkan pernah membiarkan kita terjerembab dalam kesulitan-kesulitan atas problematika yang ada. Allah lah jalan keluar atas segala harap dan pinta kita. Yang terpenting adalah, istiqomah selalu di atas jalan yang dikehendakiNya.

Menjadi hamba yang di cintaiNya adalah dengan melaksanakan amalan-amalan yang dicintaiNya dan amalan-amalan kekasihNya, Rasulullah SAW.

Dan.. kemarin siang, Allah menunjukkan ke-Maha-Besaran-Nya kembali saat ujian pendadaran yang jauh di luar dugaan saya sebelumnya. Bahkan dosen pembimbingpun terheran-heran dengan proses sidang yang berjalan satu setengah jam itu. Lagi-lagi saya meyakini bahwa Allah lah penggenggam hati manusia, yang bisa membolak-balikkan hati sesuai kehendakNya. Hingga akhirnya, saat tetes terakhir gerimis siang hari kemarin menyentuh bumi… terucapkan.

“mohon maaf, kami tidak bisa memberi nilai yang lebih lagi pada anda, hanya ini nilai yang bisa kami berikan.”

seorang penguji lain kemudian berkatan, “ya, kami tidak bisa memberi nilai lebih lagi karena nilai kamu sudah maksimal.’

Allahu Akbar…. tak henti-hentinya terucap dalam hati kala itu. Proses persidangan yang belum pernah terbayangkan dan terpikirkan oleh saya sebelumnya, bahkan oleh dosen pembimbing sekalipun.

fabiayyi a-laa-i rabbikuma tukadzdzibaan .

 

Depok, Sleman 18 Oktober 2012

hatiku seperti apa?


seperti apakah sebenarnya hati mereka itu saat ini… 

seperti batu kah? hmm.. jawabannya mungkin bukan. karena kerasnya bukan keras kepala.

seperti baja? mungkin saja, Hati mereka setegar baja, kokoh tak bergeming menghadapi semua persolan ini.

 

Lalu aku?

Dilema #2: Bidukku sedang terbakar api


Diam…Terdiam di sudut geladak kapal. Merenung, menahan emosi yang semakin membuncah. Perjalanan berbulan-bulan mengarungi samudera biru itu ternyata salah arah.

“Bukan kesana, tapi kalian harusnya ke arah sebaliknya.” 

Sontak, statement itupun membuat sang ABK (Anak Buah Kapal) geram.

“Bukankah dulu ketika masih di dermaga, semua ABK bahkan nahkoda sekalipun diinstruksikan  untuk ke arah yang sedang kami tuju?”  Lalu dengan mudah instruksi di dermaga berubah.

“Maaf, yang dulu kalian dengar itu salah, ini instruksi pimpinan tertinggi.”

Sampai berapa kali kami harus mendengar kalau ini instruksi pimpinan tertinggi, kalau tiap hari, tiap minggu, tiap bulan selalu ada instruksi yang berbeda. Dari pimpinan tinggi yang berbeda pula.

“Lalu gimana tuan nahkoda, apa kita harus berbalik arah menelusuri jejak berbulan-bulan yang telah kita lewati, atau kini menantang badai yang sudah menanti di depan?”

***

Siluet jingga diufuk barat nampak begitu indah. Di ujung haluan kapal ABK itu berdiri menatap ujung bumi di kejauhan. Hari-demi hari, para ABK yang tak tahan terombang-ambing di tengah lautan memutuskan untuk kembali ke dermaga, sebagian ada yang sampai, sebagian lagi hilang entah kemana.

Ya, kapal ini memang sudah tak layak disebut kapal perang, para ABK nya sudah diambil satu persatu oleh kapal perang yang lain. Senjatanya mulai dipindahkan ke kapal lain yang lebih bagus, bocor di sana-sini yang tadinya kecil namun berubah menjadi semakin besar. Dan kini hanya SEGELINTIR saja ABK yang masih ada di dalam kapal.

“Menunggu ajal”, ah rasanya bukan suatu hiperbol bila berkata seperti itu. Jumlah ABK dan teknisi yang ada kini tak lagi cukup untuk mengatasi kebocoran di seluruh dinding kapal. Navigator pun kini sudah kewalahan mengendalikan kapal dengan derasnya ombak dan badai yang menerjang. Ditambah, ocehan dari kapal-kapal lain untuk segera membakar kapal ini. Argggh,, Sempat terbersit harap, seandainya dulu sang ABK tidak naik ke dalam kapal itu, dan berlayar di kapal lain. Tapi,, tak pantas bila harus berandai-andai.

“Kita berdiam disini saja, biarpun ada badai, tapi tak sekencang badai yang ada di puluhan kilometer di depan kita.” titah sang nahkoda.

“Apa?? Berdiam diri disini hanya untuk mencari ‘ketenangan’ , sementara kita butuh perbekalan, mungkin saja beberapa kilometer lagi ada daratan”

“Tidak, kita di sini saja. Tak usah menantang badai”

***

Tubuhku lelah sekali
Berdayung tak pernah pasti
Bidukku layarnya kertas
Yang sedang terbakar api 

(Layar Kertas)

*Random lagi,,, Semoga Kapal itu bisa terselamatkan… atau diselamatkan..

Sabtu, 21 Syawwal 1433 H