Tag Archive | catatan harian

jalani


ada seorang anak kecil yang sedang dimandikan orang tuanya. ia menangis. teriak-teriak. kedinginan. takut.

sang orang tuapun tetap pada keputusannya. ia harus memandikan anak kecil itu yang sudah lusuh. kotor. bau.

namun, anak kecil itu menolak. meronta. mengaduh. kabur. ingin bermain lagi.

dibiarkannya memang. sementara.

lalu, anak itu diajak lagi ke kamar mandi. dimandikan kembali agar bersih. ia kembali menolak. kabur. dan bermain lagi.

Kadangkala, kita tak begitu mengerti apa maksud yang menimpa pada diri kita. Bisa jadi, apa yang terjadi itu merupakan kumpulan ujian-ujian yang bertujuan baik. Ujian yang sebetulnya untuk membersihkan kita dari kotornya hati dan lusuhnya jiwa.

karena itu, jalani setiap ujian yang menghampiri. Agar segera bersih dan suci kembali. Jauh dari kerak-kerak dosa yang lama menyelimuti.

#CHSI #CatatanHarianSelepasIsya

Pernikahan: Peristiwa Peradaban


“Kita seringkali menganggap bahwa pernikahan itu adalah peristiwa hati. Tapi pada dasarnya pernikahan itu adalah peristiwa peradaban.” ~ Anis Matta

Pernikahan itu bukan sekedar peristiwa dari sepasang manusia yang jatuh cinta lalu meresmikan cintanya itu dalam bentuk akad. Ini adalah satu peristiwa peradaban yang mengubah komposisi demografi manusia secara keseluruhan. Dan kita sebagai ummat Islam mengagung-agungkan peristiwa ini karena ia adalah peristiwa hati dan juga peristiwa peradaban. Sehingga kalau kita bisa mengatakan bahwa insya Allah, salah satu sebab penyebaran umat Islam di dunia ini nanti sebagian besar karena faktor pernikahan

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Nikahilah wanita-wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian –pada hari kiamat- di hadapan umat lain.” (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 1784).

di sisi lain peradaban barat yang sudah rusak karena sex bebas dan aborsinya semakin lama semakin menurunkan persentase kelahiran generasi baru. Penduduk Eropa, diperkirakan akan menurun 14 persen antara tahun 2013 dan 2100. Karenanya, tak perlu ada perang dunia yang baru untuk bisa menaklukkan peradaban barat. tapi kita perlu memperbanyak peristiwa pernikahan. Heuheu..

Setelah menikah, seorang manusia akan memiliki tempat tinggal baru untuk menjalani kehidupan bersama dengan pasangannya. Rumah itu adalah satu sayap dalam kehidupan manusia. Sayapnya yang lain adalan dunia pekerjaan. Kalau ia gagal dalam rumah tangga hampir bisa dipastikan ia akan mengalami kesulitan dalam bekerja, tapi kalau ia sukses dalam rumah tangga hampir juga bisa dipastikan insya Allah ia akan sukses di dunia di luar rumahnya. Rumah adalah benteng jiwa kita semua. Kalau di dalam benteng itu kita mendapat energi yang memadai, insya Allah di luar benteng itu kita akan menjadi sangat produktif.

Sejak awal, Islam menjadikan rumah tangga sebagai basis sosial yang paling kokoh. Perlu dirawat, perlu diperbaiki, dan perlu dijaga. Karena dari sinilah seseorang akan mendapatkan sumber energi. Kata sakinah berasal dari kata sakan yang artinya tempat tinggal (menetap). Yang menunjukkan stabilitas. Kalau kita tidak stabil kita tidak bisa menghadapi goncangan dalam kehidupan berumah tangga.

Dunia pekerjaan adalah dunia yang penuh goncangan. Apakah kita akan menjadi pengusaha, politisi, pekerja sosial. Apapun pekerjaan kita di luar rumah itu pasti akan dipenuhi dengan goncangan yang dahsyat. Dan kita akan kuat kalau kita punya sakan, tempat tinggal, tempat jiwa kita menetap, tempat hati kita menemukan stabilitasnya. Dan itu ada di dalam rumah kita. Kalau kita tidak menemukannya di dalam rumah kita, kita tak akan kuat menghadapi goncangan-goncangan tersebut.

Dari awal, Islam tidak hanya memberikan anjuran untuk menikah, tapi juga memberikan tools bagaimana menjadikan rumah itu sebagai sumber stabilitas. Bukan sekedar tenang. Sebab ketenangan itu seperti air yang teduh di atasanya, tetapi ada gelombang yang dahsyat di dalamnya. Ada orang yang tenang, tapi tenang lalai. Bukan ini yang dimaksud. Akan tetapi tenang yg lahir dari awareness. Ketenangan yang lahir dari keasadaran, tenang yang lahir dari kemantapan hati. Dan manusia akan menjadi tenang manakala kebutuham-kebutuhannya akan terpenuhi secara komprehensif.

Yang membuat kita bisa bertahan dalam beban yang panjang adalah persepsi awal yang kita bangun saat akan menikah, dan persepsi awal ini terutama terkait tentang cara kita mempersepsikan cinta. Kalau cinta kita pahami sebagai rasa ketertarikan, ini pasti cepat pudar. Sebab begitu beban datang, yang teruji itu bukan fisik tapi jiwa. Apakah kita rela memikul lebih banyak ataukah ingin memikulkan beban ini kepada orang lain lebih banyak. Yang diuji itu apakah kita jenis manusia pemikul beban atau justru sumber beban. Karena itu definisi cinta yang paling mendalam adalah dorongan memberi yang tidak pernah habis kepada orang yang kita cintai.

*Habis denger khutbah nikahnya Anis Matta di pernikahan salah satu alumni Insan Cendekia

Selamat Jalan Saudariku..


entah apa rasanya kondisi hati kala itu, di saat pertama kali mendengar kabar duka dari seorang teman sudah lebih dari satu tahun saya tak pernah mendengar kabarnya lagi. sore hari ketika mendengar kabar kepergiannya, ada penyesalan dalam hati, “kenapa saya tak pernah tau kondisinya selama ini?” , padahal waktu itu domisili saya masih di Bekasi, beliau sudah menjalani pengobatan di sana. menyesal karena tak sempat menjenguk karena tak pernah tahu kabar akan sakitnya… argh. saudara macam apa saya ini!. bahkan sakit temannya sendiri tak tahu…

beliau adalah salah seorang teman terbaik sewaktu menjadi tim PMB UGM. beliaulah yang menjadi ‘otaknya’ penyambutan mahasiswa baru angkatan 2011, saat saya meninggalkan tim yang beranggotakan 5 orang itu, beliaulah yang menggantikan saya untuk mengkoordinir tim. beliau pula yang selalu menyemangati tim ini untuk bisa menyelesaikan program tepat waktu. beliau yang begitu gigih membuat proposal, mencari dana ke dosen-dosen, ke alumni. menyambut dengan penuh cinta kehadiran adik-adik baru. beliau yang aktif turun ke lapangan saat saya tinggal KKN, beliau yang menggantikan semuanya T.T… jika saja saya tahu bahwa pada saat itu ia sudah menderita sakit, saya pasti akan meminta bantuan teman2 lain untuk menggantikannya, kerena beban yang ia pikul sangat berat. sempat kala itu, di saat sibuk-sibuknya persiapan penyambutan mahasiswa baru ia berseloroh, “Jup, kami mau main ke tempat KKN antum ya.

Sedih bahkan sayapun tak kuasa menitikkan air mata, saat selang beberapa bulan ia bertanya, “Jup, bagaimana kelanjutan LPJ nya?” …dan sayapun menjawab “nanti dulu ya, saya masih menyelesaikan laporan KKN.” , hingga datang sms ke-2, “Jup, LPJ nya sudah jadi, nanti langsung kukirim ke atas.”

saya belum pernah bertemu tatap muka langsung dengannya, meski berada dalam satu amanah yang cukup singkat, namun kepergiannya mengehentakkan memori dakwah yang pernah sama-sama kami jalani. saat berita duka itu datang, saya pun langsung mencari tiket banjarmasin-jogja yang masih tersisa. namun hingga menjelang tengah malam, tak ada satupun satu tiket penerbangan yang tersisa. pasrah, berserah diri padanya, semoga esok pagi ada keajaiban. entah apa pula yang menggerakkan saya waktu itu ketika hari ahad pukul 3 pagi sudah terbangun dan harus memecah gulitanya jalan dari rumah ke bandara untuk mencari tiket, berharap masih ada sisa-sisa tiket yang dibatalkan oleh pemesannya. dan alhamdulillah, 30 menit sebelum boarding atau satu penumpang yang membatalkan perjalanannya ke jogja. Allahu Akbar, syukur yang tak terkira padaMu ya Rabb yang telah mengizinkanku untuk menjalankan kewajibanku sebagai saudaranya, mengantarkan jenazah seorang akhwat yang paling saya segani, Annisah Dini Juniarti.

Selamat jalan saudariku, Allah mencintaimu, dan kami semua juga mencintaimu. Terimakasih atas inspirasinya, atas pengorbananan dan bantuannya. Terimakasih pula sudah mengunjungi blog ini. Semoga kita dipertemukan kembali di surgaNya kelak.  Aamiin

Allahummaghfirlaha warhama wa’afiha wa’fu anha..

anissah dini

sebuah tulisan terakhir di blogmu:

Ingin pulang ke kampung halaman

Rinduku sudah tak terbendung

Ingin ku segera bersama ibu dan adik ku

Maafkan aku Bapak yang meninggalkan mu lebih dulu

Aku tetap ingin menjadi anak kalian di surga kelak

Ijinkan ku ya Allah

Ijinkan ku untuk segera bersama ibuku

Ijinkan ku untuk dapat masuk ke jannah-Mu

bismillah. lawan!


“pertarungan terbesar adalah pertarungan melawan diri sendiri.”

ketika mimpi dan cita-cita tak kunjung juga direalisasikan karena rasa malas. ketika target belum juga tercapai karena usaha kita yang belum maksimal. ketika tujuan-tujuan kecil yang lebih diprioritaskan dibanding tujuan yang lebih besar. ketika semangat untuk mengubah keadaan berbalik menjadi kepasrahan. ketika banyak alasan-alasan tak penting sebagai sebuah permakluman diutarakan. ketika itulah saatnya kita mulai bertarung dengan diri sendiri.

bertarung dengan kemalasan, bertarung dengan kepasrahan, bertarung dengan nafsu, bertarung dengan ketidak berdayaan, bertarung dengan kekerdilan yang medannya tak sebesar pertarungan yang kau idam-idamkan dan banggakan. cukup bertarung dalam sekeping hati. kecil, sempit, namun disitulah terjadinya pertarungan yang teramat besar bagi seorang yang belajar untuk menjadi manusia besar. disitulah letak pertarungan besar mengendalikan godaan bernama nafsu. bukan mengalahkan, tapi mengendalikan.

mungkin karena pertarungan berat itulah, Dia menyelipkan makna tersirat dalam kalam an-naas dan al-falaq Nya.

Dalam surat Al-Falaq, kita berlindung kepadaNya dari empat kejahatan, dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan tukang sihir dan dari kejahatan para pendengki. Dia menyebut hanya satu sifatNya dalam surat tersebut, yaitu Rabbul Falaq (Penguasa subuh).

Sedangkan dalam surat An-Nas, kita berlindung kepada Allah dari satu kejahatan: Yaitu kejahatan bisikan setan. Dan untuk itu disebutkan tiga sifat Allah yang utama, yaitu Rabbunnas (Tuhan manusia), Malikinnas (Raja manusia) Ilaahinnas (Tuhan sembahan manusia).

bisikan, godaan, nafsu, rasa malas, futur, dan sejenisnya adalah satu hal yang bisa membuat kita menjadi tak berdaya karena dikuasai olehnya. karena itulah, sebelum kita dikuasai, kalahkan mereka. lawan!

berat? memang. susah? iya…

bahkan sayapun masih labil ketika menghadapi pertarungan ini. namun, sejauh mana ikhtiar kita untuk melawannya itulah yang akan berbicara pada kita nanti. bismillah. lawan!

teringan pesan gurunda ustadz M. Arifin Ilham

 

KETAHUILAH sahabatku, JIHAD TERBESAR dalam HIDUP KITA adalah, SAAT KITA SUDAH ASYIK TENGGELAM dalam MA’SIYAT, lalu KITA BERJUANG KELUAR untuk TIDAK MELAKUKANNYA LAGI!…INGAT!, Dunia ini bukan tempat kita sebenarnya, sebentar lagi kita akan jadi BANGKAI, SUNGGUH AKHIRAT itulah TEMPAT KEHIDUPAN KITA SEBENARNYA!.

 

Banjarmasin, 7 Januari 2013

Menanti…


Siapapun dari kita tidak bisa terlepas dr yg namanya menanti. Hidup ini penuh penantian. Menanti kapan datangnya rizki, dengan siapa kita berjodoh, kapan saatnya ajal menjemput dan segala hal misterius yang membuat kita harus terus menanti. Ya, hidup itu sebetulnya adalah menanti takdir. Apa yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir Allah. Kita berencana, itu juga merupakan takdir Allah. Namun apakah rencana kita sesuai takdir Allah? Allahu a’lam…

Tidak semua yang kita anggap baik, baik pula menurut pandangan Allah, dan tidak pula apa yang kita anggap buruk, tercela di hadapan Allah.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Dalam masa penantian kita menuju datangnya takdir, ada dua kemungkinan jenis kesibukan yang dilakukan oleh manusia. Yang pertama adalah menunggu takdir dalam keadaan sibuk berbuat kebaikan dan yang kedua menunggu takdir dengan sibuk dalam kesia-siaan.

Pertanyaannya sekarang. kita sibuk dalam apa? dalam kebaikan atau dalam kesia-siaan?

Kalaupun kita sibuk dalam kebaikan, mungkinkah yang datang takdir buruk? Mungkin saja. Tapi, bagi orang beriman, selalu ada hikmah yang Allah berikan di setiap takdir yang dijalaninya.

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu. Jika ditimpa kesulitan, dia bersabar dan itu baik baginya.”(HR. Muslim).

Namun di sisi lain, jika dalam masa penantian itu mereka sibuk dalam kesia-siaan, maka jikapun datangnya takdir baik akan ia pahami sebagai sesuatu hal yang merugikan dirinya.

Pesan Cinta Katak Pada Rembulan


Dahulu kala, ada seekor katak yang senantiasa memandangi indahnya rembulan. Tiap malam, bahkan dalam rintik hujan pun, sang katak selalu setia menunggu kehadiran rembulan. Gelisah rasa sang katak ketika tak ditemuinya rembulan utuh, hanya sebagian bahkan sebagian kecil saja.

Tiap malam, mereka bercengkerama, hingga pada suatu ketika rembulan hadir mendekati sang katak. Ia yang dulu hanya ditatapnya dari kejauhan, hadir lebih dekat. Bahkan dekat sekali. Sang katak tak menduga sebelumnya. Rembulan terlihat begitu indah di dekatnya. Di atas kolam tempatnya biasa berenang.

Katak yang semula ada di pinggir kolam, mulai mendekati rembulan. Bergetarlah bulatan sempurnanya. Ia menjawab cinta sang katak? Ah, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Katak kemudian mendekat lagi, ia ingin menyentuh rembulan yang dicintainya. Getaranpun semakin hebat. Terjawabkah cintanya? Belum… Sampai suatu saat katak hendak melompat langsung ke tengah-tengah kolam untuk mendekati rembulan. Tanpa dinyana, hancurlah bentuk rembulan itu. Tak bulat utuh.

Katakpun menyesal, bahwa cintanya pada rembulan seharusnya hanya tersampaikan dari jauh saja. Semakin mendekat, ia justru semakin merusak sang rembulan.

Ya, cukup dari jauh saja…

Pesanggrahan-Jakarta, 6 Syawwal 1434 H

Pesan Cinta Laut Pada Sang Langit


Laut memendam cinta terdalam pada langit. Ia begitu mencintai langit hingga dirinya pun berusaha serupa dengan warnanya. Saat langit berwarna biru, dengan pengorbanan cinta sang laut ia merubah warnanya menjadi biru. Di malam hari saat langit gelap dan hitam pekat, laut pun terlihat gelap. Ia berusaha menunjukkan cintanya pada langit. Membuktikan bahwa ada rasa yang dimilikanya. Ia seolah ingin menarik perhatian langit. Namun, dia masih malu-malu.

Tanpa dikira, hal itu juga terjadi pada langit. Diam-diam… ia selalu memandangi laut, tiap hari bahkan  dalam sepi malam pun, langit tak pernah absen memandanginya.

Suatu ketika, kala senja datang, laut memberanikan diri mengutarakan cintanya pada langit. Ia membisik dengan kelembutan, “aku mencintaimu”… Setiap kali mendengar bisikan dari kejauhan itu, wajah langit berubah kemerah-merahan. Indah sekali. Merah saganya hanya sebentar. Ia pun tersipu malu, lalu menutup wajahnya hingga hanya terlihat bintang gemintang berkilauan. Begitu seterusnya, hingga perasaan cinta tumbuh di antara keduanya.

Di lain hari, datanglah pihak ketiga. Awan mendekati langit. Begitu melihat kecantikannya, seketika itu pula awan jatuh hati padanya. Namun sayang, langit sudah menetapkan hati untuk hanya mencintai laut. Sebab, ialah yang pertama kali menyapa langit saat pagi dan petang hari.

Ditolak. Awan pun sedih. Ia mencari berbagai cara agar laut tak lagi menatap langit dan begitu pula langit tak bisa memandangi laut. Ia menghalangi, berupaya agar cinta langit tertuju padanya. Di setiap sela-sela bisikan cinta laut dan langit, awan menyusup diantara keduanya. Ia mengumpulkan tenaga untuk mengembangkan diri. Membesarkan bentuknya agar penghalang antara langit dan laut semakin besar. Agar langit dan laut tak bisa lagi saling memberi warna.

Laut marah. Emosi,,, karena cintanya pada langit terhalang oleh sang awan. Ia berusaha mengusir awan. Menggelontorkan deburan-deburan ombak. Memecah karang-karang. Agar semuanya tahu, bahwa ia begitu tersiksa tanpa kehadiran langit yang dicintainya. Namun, segala upaya belum berhasil.

Sahabat sejati laut, angin, yang biasa membantunya mengarahkan deburan ombak pun tak tinggal diam. Ia merasa bahwa awan sudah keterlaluan. Menggganggu hubungan cinta laut dan langit. Akhirnya, angin pun meniupkan tenaga sekencang-kencangnya ke awan agar ia segara hilang dan tidak lagi menghalangi cinta laut dan langit. Awan pun akhirnya tercera-berai. Gumpalannya kini sudah mulai mengecil. Satu per satu bahkan menghilang seiring dengan kekecewaannya. Ia sedih, bahwa cintanya tak ditanggapi langit. Deraslah air matanya… membasahi seluruh permukaan bumi.

 Bekasi, 5 Syawwal 1434 H

Kita akan di uji pada titik terlemah kita….


Kita akan di uji pada titik terlemah kita…

Di setiap daya dan kekuatan manusia pasti ada celah yang bisa menembus titik terlemahnya.

Di setiap kelebihan dan keunggulan manusia akan akan sisi dimana titik-titik yang menjadi mangsa siap untuk menggerogoti kehebatannya.

Kita akan di uji pada titik terlemah kita…

Beda karakter, beda posisi, beda usia beda jabatan… namun semuanya pasti akan diuji.

Di uji pada titik terlemahnya.

Allah Maha Adil, semuanya akan diuji. Semuanya harus bisa melewati tahapan-tahapan yang sudah Dia rancang.

Di tiap-tingkatan dan tahapan berbeda kualifikasinya. Di tiap tingkatan dan tahapan itu pula berbeda tingkat ujian dan kerumitannya.

Seorang alim, jangan dikira tak pernah diuji. atau jangan mengira akan diuji dengan ujian yang selevel orang-orang pada umumnya. Mungkin dia sudah lolos pada tahap ujian kebanyakan orang, tapi ia akan terus menerus di uji sampai tingkatan tertinggi yang bisa ia capai.

Orang kaya berbeda ujiannya dengan yang papa. Mahasiswa berbeda ujiannya dengan mereka yang SD pun tak kelar lulusnya. Ustadz, guru, politisi, pebisnis punya jatah sendiri ujian yang harus ia hadapi. Di sinilah seninya hidup. Kita harus siap dengan diri kita. Kitapun harus tahu dimana titik terlemah kita. Jangan bangga tidak tergoda dengan harta, jangan bangga tidak tergoda dengan tahta, jangan bangga tidak tergoda dengan wanita. Selalu ada celah yang bisa menjerumuskan manusia untuk menjauh dariNya.

Kesabaran adalah kuncinya. Sabar untuk menahan diri dari maksiat. Sabar untuk tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu setan. Sabar untuk terus menerus berada dalam ketaatan pada Allah hingga ajal menjemput.  “…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)

Bekasi, 29 Sya’ban 1434 H

00.05 WIB

Puzzle #3: Insan ke-tiga


“INSAN” …. ini Insan ke-3 yang menjadi bagian dalam kehidupan saya. “Insan” pertama adalah sebuah komunitas kecil yang telah mengantarkan saya menuju “insan” kedua. Dan ternyata, hanya selang setahun setelah meninggalkan “insan” kedua, saya sudah dipertemukan dengan “insan” ke tiga.

Islamisasi Ilmu. Itulah tema yang diberikan oleh penguji kala penilaian lulus atau tidaknya saya menapaki insan ke-3. Berkompetisi dengan orang-orang hebat untuk bisa menempati sebuah asrama di pinggiran kota. Semuanya hebat. Semuanya cerdas. Dan semuanya memiliki kesempatan yang besar untuk bisa lolos. Namun, dalam hati kecil saya masih bertanya, “adakah kesempatan itu akan diberikan pada saya lagi?”

Tepat sepekan sebelumnya, sebuah pertemuan forum keilmuan yang ada di kampus mengambil tema serupa dengan tema yang sedang diujikan kali ini. Entah kebetulan atau tidak. Yang pasti saya meyakini bahwa di setiap guguran daun, hempasan angin dan putaran waktu yang terus bergulir ada kuasaNya yang menjadikan segala sesuatu tunduk mengikuti perintahNya. Kali ini, seolah saya hanya meng-copy paste apa yang didapatkan dari pertemuan pekan lalu itu ke dalam sebuah ujian presentasi terkait tema yang sama. Persis.

Detik berlalu, menit terus melaju. Dan seakan semuanya sudah dipersiapkan dengan teks tertulis yang lengkap. Selesailah momen ujian itu. Bergiliran, satu per satu melakukan hal serupa. Dan saya yakin ke-15 orang yang akhirnya terpilih itu akan mengalami hal serupa, dengan cara dan perantara ilmuNya yang berbeda.

Serba guna dan tahan lama. Kalimat yang selalu teringat dalam hati kami selama 2 tahun berada dalam insan ke-3. Tiap ba’da subuh, sebuah persidangan kecil selalu di agendakan untuk menginterogasi seluruh penghuni asrama. Bertanya seputar kuliah, organisasi, IP, tentang kamar mandi, tentang piring-piring yang berserakan di ruang tamu, tentang televisi, tentang jam malam, tentang bolos kajian bahkan tentang menu makan pagi yang akan disantap setelahnya.

Sebuah cuplikan kata-kata yang tak ada bosannya terucap mendentangkan gendang telinga kami di pagi hari….

Kalian harus selesai dengan diri kalian sendiri…!!!

Tidak peduli apakah itu ketua BEM, ketua KS, ketua SKI, ketua Partai, ketua HM. Tidak peduli itu teknik, tidak peduli itu kedokteran. Semuanya harus selesai dengan diri sendiri. Kalau kalian tak bisa mengatur dan disiplin pada diri sendiri, bagaimana mungkin bisa mengatur dan mengelola orang lain dalam jumlah yang banyak? Apatah lagi bila kalian nanti mengelola negeri ini???

Tasikmalaya, 15 April 2013

22.20 WIB

Puzzle #2: Penjara Suci


Holy Jail… Penjara Suci… Tempat hijrah…

Begitulah para penghuninya menyebut sebuah asrama di kawasan bekas rawa nan gersang itu. Hampir tiap  pagi buta, ayat-ayat suci diperdengarkan seluruh pelosok asrama. Bahkan sampai terdengar ke  kelas tempat kami belajar sehari-harinya.  Pukul empat pagi, bahkan tak jarang lebih awal lagi lantunan ayat suci sudah mulai terdengar masuk ke telinga kami. Meski, tak jarang, bahkan sering kami tak mendengarnya karena menutup pintu rapat-rapat dan menutup telinga berlapis-lapis dengan bantal.. Ahhh…

Iqamat.. Gedoran pintu dan teriakan sang katib menghentakkan seluruh penghuni asrama. “Lima.. Empat… Tiga… Dua… Satu..”

Di penjara suci ini, telat satu hitungan saja, badan ini harus siap-siap ambil posisi pemanasan di pagi buta. Push up. Dan setiap keterlambatan akan terakumulasi poin yang akan dipertanggung jawabkan tiap hari ahad pagi. Satu kali telat… Satu kali lari mengelilingi lapangan sekolah.

Tak jarang, banyak yang kemudian beralasan sakit, pusing, demam, dan lain sebagainya. Alasan-alasan khas anak asrama yang sudah bisa ditebak. Bahkan sang katib ketika mendatangi kamar-kamar mereka seolah sudah bisa memprediksi apa yang akan terucap dari mulut penghuni kamar ini. Membuka pintu, hanya membuka sedikit, dan berkata, “oh iya….”. Itu berlaku kalau katibnya adalah adik kelas yang tak mau berkonflik dengan kakak kelasnya. Lain hal jika si katib ini adalah teman sendiri, apalagi koordinator kedisiplinan asrama, siap-siap saja anda akan diinterogasi dan dipastikan apakah benar-benar sakit atau tidak. Nah, yang lebih parah lagi kalau sampai pembina asrama datang langsung menginspeksi kamar, siap-siap alibi yang rasional untuk beralasan tidak berangkat ke masjid.

Subuh hari, dengan mata masih setengah asa menatap dunia -hehe bagi sebagian orang sih- berduyun-duyun mendatangi masjid. satu dua tiga.. lompatan… sambil berlari. menghindari lirikan pembina yang pasti akan ketahuan kalau shalatnya masbuk. Selesai salam, suara dengkuran bertalu-talu menyaingi gemuruh zikir bersama dan tilawah anak muda. Pemimpin bacaan nas-aluka pun masih tetap berasyik ria menyenandungkan asma-Nya meski banyak dipojok-pojok sudut masjid bergelimpangan manusia yang sudah tak sadarkan diri. Tidur setelah subuh… Ahhhh lagi…

Dengan peci, masih tertancap seadanya dan sarung tak karuan bentuknya, beramai-ramailah langkah kaki menuju kantin asrama. Antri.. bukan satu dua orang… Tapi ratusan orang. Saling melempar loyang, garpu sendok bahkan gelas pun terkadang ikut melayang. Emosi… antrinya kelamaan. Argggh…. akhirnya sebagian kaum adam menerobos masuk ke antrian hawa yang sudah tak lagi banyak antriannya. Maklum, mungkin karena program diet yang sedang ditekuninya, hingga jarang yang ikut antri, hanya menyisakan susu dan roti di kamar tercintanya.

Anak bandel… kamu.. eh kamu juga.. Siapa? saya? Iya… Kamu juga seperti itu kan??? Hmmm… kayaknya nggak deh.. Hayo ngaku aja. Beneran nggak… Ah tak pedulilah, biarlah itu menjadi sekelumit rentetan peistiwa anak-anak yang pernah membagi cintanya di sebagian masa pencarian jati diri. Anak-anak labil yang masih mudah untuk dibentuk dan diubah. Bukan masalah dulu atau sekarang. Dulu kau begini dan begitu. Dulu rajin shaum sunnah ini dan itu. Dulu sering bolos kajian dan apel ini itu.

Bukan…. itu semua masih proses. Saat inilah keampuhan penjara suci itu diuji.. siapa yang masih tetap istiqomah dengan kebaikannya ataupun yang enggan sedikitpun mau berubah….

Tasikmalaya, 15 April 2013

Pukul 09.52 WIB

Puzzle #1: Lingkaran Cinta


LA17… begitu kami menamainya. Sebuah lingkaran kecil yang sudah dirangkai sejak hari-hari pertama masuk kuliah. Pertemuan yang tidak kami rencanakan, namun yang pasti Dia sudah merencanakannya begitu sempurna. Kalau boleh dibilang, lingkaran cinta kami merupakan lingkaran cinta terawet dan terlengkap yang ada di UGM. Sejak semester pertama hingga akhir-akhir masa kuliah kami tetap bersama. Disaat beberapa lingkaran cinta yang lain sudah mengalami perombakan dan penyusutan berkali-kali, namun kelompok kami tetap awet bahkan kemudian beranak pinak. Baru kemudian, menjelang tahun kelima satu-persatu dari mereka mundur teratur… Bukan mundur begitu saja, namun karena ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan mereka ‘mundur’. Karena sudah menikah dan pindah ke kota lain, karena sudah kerja, dan karena beberapa di antara kami sudah menyelesaikan tugas akademik sebagai mahasiswa.

2005 awal, tepatnya ketika memasuki semester kedua SMA, saya mulai berkenalan dengan lingkaran cinta pertama. Berawal dari diskusi biasa, perkenalan hingga keakraban menjadi penyelimut hubungan pertemanan kami, dan dari situlah kemudian lingkaran cinta itu terbentuk.

Lingkaran ini tak lama menghiasi perjalanan hidup, saya sudah harus pergi meninggalkan kota asal untuk merantau menimba ilmu di sekolah yang lain. Tidak jauh memang, namun karena kehidupan berasrama, tidak memungkinkan saya untuk menghadiri lingkaran pekanan yang sudah biasa kami lakukan.

Saya menyadari bahwa bukan seberapa lama kita melakukan proses pembinaan, namun seberapa efektif dan intens proses pembinaan itu kita jalani.

Selama di sekolah baru, tidak ada lingkaran cinta yang serupa memang, namun dari sanalah saya belajar bahwa meningkatkan daya imun itu lebih didahulukan daripada sekedar menjaga sterilitas.

Imunitas seorang kader akan menentukan seberapa kuat ia bisa menjalani beragam tantangan dalam hidupnya. Ketika imunitas rendah, maka ia akan sangat mudah terpengaruh dengan lingkungannya. Namun, bila seseorang sudah membangun imunitas dalam dirinya lalu kemudian dengan terus menjaga sterilitas, maka itu sebaik-baik proses penjagaan diri.

Selama di sekolah baru, memang saya tidak aktif dalam lingkaran cinta, namun justru lingkaran itu sudah terpatri dalam diri saya bahwa membangun lingkaran cinta dalam diri sendiri itu jauh lebih penting.

Dan, saat ini genap sudah 9 tahun saya mengenal lingkaran cinta. Sebuah kurun waktu yang sudah seharusnya saya menjadi lebih baik, namun saya menyadari bahwa masih ada beberapa hal yang menjadi PR terbesar saya untuk memperbaiki diri. Dan lingkaran cinta itulah yang senantiasa menjadi sumber inspirasi dan motivasi dikala ujian keistiqomahan datang bermunculan.

Menunggu lingkaran cinta baru, di tempat baru dengan seorang kawan baru……

Surabaya, 12 April 2013

Pukul 23.07 WIB

Puzzle #0


Teringat beberapa bulan lalu masih menggeluti aktivitas sebagai mahasiswa. November-Desember-Januari-Februari… 4 bulan terakhir dimana saya masih menjalani aktivitas sebagai mahasiswa meskipun statusnya bukan lagi mahasiswa aktif. Rapat hampir tiap hari, dengan agenda dan tempat yang berbeda-beda. Bolak-balik kampus, menghadiri undangan baik sebagai perwakilan lembaga maupun sebagai pembicara. Diskusi -atau lebih tepatnya menerima curhatan dari beberapa adek angkatan- hehe. Kunjungan dosen (MIPA, Peternakan, Teknik, Hukum, Pertanian). Dan sampai pada agenda-agenda perpisahan beberapa lembaga yang pernah mampir ke hati saya.

Kalau bisa dibilang 4 bulan itulah, masa-masa paling berkesan, sekaligus susah untuh dilupakan. Saat-saat terakhir dimana saya harus meninggalkan jogja. Tempat dimana hampir 4,5 tahun menjadi daerah perantauan saya. Tempat dimana banyak hal yang berubah drastis, baik dalam pola pikir maupun perilaku. Tempat dimana saya menyusun rangkaian puzzle-puzzle akademik dan dakwah. Tempat dimana idealisme itu benar-benar bisa diperjuangkan dan dipertahankan. Disinilah tempat yang menjadi saksi, bahwa hijrah adalah salah satu cara untuk memperbaiki diri. Mengubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi aktifitas baru yang lebih produktif serta menjadikan setiap aktifitas itu memiliki nilai lebih dari sekedar rutinitas.

Teman-teman juga pasti akan merasakan nanti bahwa kerinduan dan rasa cinta itu akan semakin nyata kala kita sudah tak lagi bersamanya. Saya rindu jogja, saya cinta ugm dengan segala suka dukanya. Saya cinta kalian yang telah menjadi partner perbaikan diri. Mengubah sesorang yang dulu bukan siapa-siapa… dan sekarang (sebenarnya masih bukan siapa2 juga :D)… tapi saya bersyukur bahwa kehidupan dijogja telah menghentakkan sebagian ‘syaraf-syaraf tidur’ saya.

Hidup 6 bulan di kos, 6 bulan di masjid, 2 tahun di asrama, 2 bulan di tempat KKN, dan 1,5 tahun di kontrakan menjadi pelengkap keseluruhan aktifitas selama di kampus. Dan Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk merasakan perbedaan di tempat-tempat tersebut. Men-tarbiyah diri dengan menempatkan saya pada ruang dan waktu yang berbeda.

Lingkaran Cinta… Puzzle pertama yang akan menjadi pembuka penyusunan bingkai kehidupan ini.

#random (entah yang keberapa)


Ucapan “Alhamdulillah” mungkin yang bisa mewakili perasaan saya hari ini.. (dan memang seharusnya tiap hari seperti itu). Bertemu dengan orang-orang hebat, dapet ilmu baru, dapet tmn baru, dapet pengalaman-pengalaman yang sejatianya merupakan puzzle yang masih harus saya rangkai kembali. Meski belum terbentuk untuh, saya meyakini bahwa puzzle-puzzle yang saat ini sedang dirangkai adalah sesuatu yang indah. Insya Allah.

Cirebon, 4 April 2013

Jumatan bersama Syeikh Saad Al Gomidi


Siang tadi Alhamdulliah Allah memberikan kesempatan langsung kepada saya untuk bisa shalat berjamaah dengan Imam Haramain, yaitu Syeikh Saad Al Gomidi. Beliau menjadi Imam Shalat Jumat di Masjid at Taqwa, Kebayoran Baru. Berangkat jam setengah 9, ternyata pas jam 10 nyampe sana masjidnya udah penuh. Udah banyak mobil polisi juga yg jaga-jaga. Tapi Alhamdulillah, msh sempet berada di shaf pertengahan.

Jamaah shalat jumat terlihat begitu sangat menanti-nanti bisa diimami oleh Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tersebut. Berharap semoga suatu saat nanti bukan hanya bersama Imamnya saja, tapi juga bisa shalat langsung di tanah suci itu.

Ustadz Yusuf Mansur, selaku Khatib menyampaikan khutbah yang begitu menyentuh hati. Bener… serius,, sampe saya menitikkan air mata.. (eh ini gk cengeng yak…). Beliau menyampaikan betapa kita harus bersyukur, didatangkan langsung seorang Imam yang biasanya mengimami ratusan ribu tamu Allah di tanah suci. Dan kini,, di sebuah masjid yang mungkin jarang begitu di dengar publik… Allah memberikan kesempatan kepada jamaah untuk bisa shalat jumat berjamaah langsung dengan sang imam. Aamiin…

Emang bener ya, kalau orang baik itu, kata-katanya selalu dirindukan, bacaan qur’annya jleb banget, sampe masuk ke hati dan tiap tatap matanya terkandung aura keshalehan. Sesuatu yang sangat dirindukan dari syeikh.

Rakaat pertama, surah Al- a’la dan rakaat kedua dengan surat al Ghasiyyah sukses membuat para jamaah menitikkan air mata. Bahkan tak sedikit yang tak kuasa menahan isak tangisnya. Lagi-lagi ini bukan lebay ya, emang beneran kok.. Seolah-olah jamaah tersebut terbayang sedang shalat beneran di Masjid Nabawi.

Setelah shalat jumat berakhir, syeikh al Ghomidi kemudian memberikan tausiyah singkat terkait keutamaan surat al Ashr. Seluruh jamaah dipimpin untuk membaca tartil surah tersebut dan gemuruh suara jamaah yang berada di lantai 1 dan 2 mengikuti lantunan bacaan sang Imam.

Terakhir, ada satu permintaan dari ustadz Yusuf Mansur kepada Syeik al Ghomidi, yaitu meminta beliau keluar masjid tidak lewat pintu mimbar, tapi berjalan ditengah-tengah para jamaah dengan kondisi semua jamaah diharuskan untuk tetap duduk di tempat agar bisa memandang wajah sang imam.

Aduh, jarang banget bisa liat Imamnya langsung, padahal ketika di Masjid Nabawipun, kata Ustadaz YM sulit sekali bertatatapan wajah langsung dengan Syeikh al Gomidi….

Termakasih ya Allah untuk hari ini…

ini ada rekaman Khutbah Jumat Ust. Yusuf Mansur dan Syeikh Al Ghomidi saat memimpin shalat Jumat –>

https://soundcloud.com/deddi-nordiawan/imam-al-ghomidi-memimpin?utm_source=soundcloud&utm_campaign=mshare&utm_medium=twitter&utm_content=http://soundcloud.com/deddi-nordiawan/imam-al-ghomidi-memimpin

Kutipan Taujih M. Taufiq Ridha


Parpol punya keterbatasan karena dia dibatasi oleh bemacam perundang-undangan. Padahal dakwah itu tidak ada batasnya, dalam semua sisi kehidupan kita harus masuk. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan yang sifatnya politik itu hanya sebagian kecil saja dari dakwah yang kita lakukan. Karena dakwah lebih besar dari partai politik atau kegiatan-kegiatan yang besifat politis. Oleh sebab itu, parpol tidk bisa menjangkau semua sisi/medan kehidupan dakwah. Oleh sebab itu hal-hal yang tidak bisa dijangkau dari sisi-sisi itu, maka dimainkanlah bermacam-macam waijhah (wasilah). Wasilah bisa bermacam-macam. Dan kalau kita sudah berbicara wasilah, maka sifatnya adalah feksibel, jangan berpikir hanya satu-satunya. Yang penting adalah bagaimana kita melihat marketnya dulu, kira-kira wajihah apa yang cocok dengan marketnya. Kenapa? Karena kadang-kadang kita bikin wajihah ternyata tidak cocok dengan pangsa pasarnya. Jadi, kalau kita berbicara wasilah dakwah, maka fleksibilitas (cocok dengan karakter market dakwah) harus menjadi sebuah prinsip. [M. Taufiq Ridha]

_Cimuncang, 27 Maret 2013

17.53 WIB

Saya baru paham sekarang….


Saya baru paham sekarang kenapa dulu ‘tercebur’ dalam organisasi yang dulunya sama sekali tak menjadi minat saya….

Saya baru paham sekarang kenapa dulu hanya sedikit kaum adam yang ada di medan tempat saya berkecimpung…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu saya dipindahkan dari pos satu ke pos yang lain…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu tiap pekan bahkan hampir tiap hari ada rapat-rapat beruntun (a.k.a syuro) yang dijalani….

Saya baru paham sekarang kenapa dulu dipaksa membuat laporan rutin tiap bulan, laporan perkembangan, laporan evaluasi dan lain sebagainya…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu hidup berasrama hampir 5 tahun…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu harus menunda kerja praktek dan mengubah judul skripsi…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu harus menunda kepulangan lebih lama untuk terus berada di kampus…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu mengalami tribulasi amanah yang begitu deras…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu harus dioper kerja prakter hampir ke tiga tempat…

Saya baru paham sekarang kenapa saya ditakdirkan kuliah di jogja, kota budaya kota pendidikan…

Saya baru paham sekarang kenapa bisa terpilih dari ribuan pendaftar sekolah Insan Cendekia…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu dipertemukan dengan… ah terlalu banyak yang baru saya mengerti sekarang….

Dan… mungkin.. apa yang terjadi pada saat ini, baru akan saya mengerti pula dikemudian hari. Kuncinya…. Sabar… Ikhlas… Ridho…. atas segala ketetapanNya. 

Meski terkadang amat berat, aku tetap percaya bahwa hidup ini tidak hanya kau kehendaki, tapi juga kau atur demi kebaikanku. Biarlah kehendakMu yang selalu terjadi, bukan keinginanku.

Bandung, 25 Maret 2013

Hujan deras menemani dinginnya malam

Hadapilah


Seiring berjalannya waktu, manusia dihadapkan pada permasalahan dimana waktu menuntutnya untuk belajar bersikap. Menuntut dirinya untuk mengambil keputusan yang terkadang sulit dilakukan dalam masa-masa yang sempit. Hambatan, tantangan, persoalan setiap manusia berbeda kadar dan jenisnya disetiap jenjang waktu yang ada. Kondisi hari ini, akan jauh berbeda dengan hari kemarin. Pun, begitu juga esok hari. Kita memiliki kesempatan untuk terus belajar memaknai hidup, dan mengambil hikmah untuk terus memperbaiki sikap dalam menghadapi segala persoalan tersebut.

Manusia, dengan segala jenis kareakternya harus mampu melewati perjalanan waktu semasa hidupnya dalam kesuksesan menghadapi setiap persoalan. Ketika ia datang, lari dari masalah bukanlah pilihan yang tepat. Karena bila kita menghindar dari satu masalah, kitapun akan bertemu dengan masalah yang lain. Lalu, apakah hidup ini kumpulan masalah?? Bukan… bukan itu yang saya maksud.

Hidup memang dihiasi denngan beragam bentuk warna dalam rangkaian keping-keping skenarioNya. Semua kepingan itu pasti baik menurutNya, meski kadang dalam pandangan manusia kurang baik. Begitu juga dengan masalah. Mungkin, bagi sebagian manusia, persoalan hidup yang membelitnya adalah jurang kehancuran yang melumat asa hidupnya. Tapi, justru di sebagian manusia lain, persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi menjadi batu loncatan untuk melangkah lebih jauh, melompat lebih tinggi dan menatap kehidupan yang penuh tantangan dengan optimisme.

Ada satu hal yang membuat kita bertahan dalam menghadapi ujian dan tantangan hidup. Ridha. Ikhlas menerima semua ketetapanNya dan ikhlas menjalani setiap proses yang dikehendakiNya. Biarlah keinginanNya yang mewarnai setiap jejak langkah hidup kita, bukan keinginan nafsu yang mengendalikan diri. Setiap perisetiwa pasti ada hikmahnya. Tere Liye, dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu mengajarkan kita untu ikhlas dan ridha dalam menjalani hidup ini. Semua yang terjadi pada diri kita, pasti ada sebab akibat yang sejatinya merupakan pilihan terbaik untuk hambanNya.

 

Walau hujan badai, kan terus menerpa

Walau amuk gelombang, tak henti menerjang

Walau kelam mencekam

Walau mentari kan membakar

Jangan letih menapaki kehidupan

 

Ujian bagaikan terik sinar sang surya

Hadir ke dunia bersama berjuta karuni

Janganlah bertekuk lutut dalam pelukan putus asa

Janganlah bersimpuh di hadapan duka

 

Hadapilah segala tantangan

Sambutlah harimu dengan suka cita

 

~Hadapilah | Shoutul Harokah

 

 

_siap-siap menuju Bandung

Senin, 25 Maret 2013

Pukul 06.03 WIB

… ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu…


Mengapa manusia sering gelisah? Tak pernah tenang menghadapi perjalanan hidup yang sedang ia jalani?

Mengapa manusia tak pernah bersyukur atas segala keputusan dan peristiwa yang mewarnai garis kehidupannya?

Mengapa, ia yang katanya makhluk paling sempurna tak juga mengerti bahwa ada begitu banyak sekali hikmah yang diturunkanNya bersama beragam bentuk skenarioNya?

Mungkin, ada satu penghalang mereka seperti itu. Mereka?? Ah jangan-jangan aku juga. Aku yang sering tidak bersyukur, aku yang sering mengeluh, aku yang sering tidak puas, aku….. yang dhaif dan banyak dosa ini…… Seringkali tak mampu membaca makna disetiap tanda-tanda kekuasaanNya.

 

Dulu…. Dulu… sekali. Ada seorang remaja yang sangat memimpikan melanjutkan sekolah di SMA terbaik di kota seberang. Nilai ujiannya sudah sangat cukup. Uang? Meski tak mampu membiayai sendiri, ada orang yang berbaik hati menawarkan, “sudah daftar dulu saja, nanti masalah biaya kami yang mencarikan.” Namun, takdir berbicara lain.. akhirnya remaja itu ‘hanya’ bisa melanjutkan SMA di ‘sekolah kampung’.

Hati kecilnya bertanya, “Mengapa aku tak diizinkan untuk sekolah disana?”

Dalam keheningan ada sayup-sayup suara meyentuh bilik hati, “ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.”

Benarkah?? Entahlah.. Hari demi hari berlalu. Melewati beragam peristiwa yang mewarnai perjalanan hidupnya. Selang satu tahun kemudian, pertanyaan pertama itu terjawab. Oh.. rupanya benar apa yang ia dengar sayup-sayup di bilik hati kala itu,, “ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.”

Ia tak hanya diberikan sekolah terbaik di kota itu, tapi Madrasah terbaik negeri ini. Madrasah peringkat pertama di negeri ini. Madrasah kebanggan ummat dan bangsa yang konon katanya didirikan oleh bapak presiden yang jenius itu.

Ah, rupanya ia masih belum sadar. Ia masih melamun. Mencerna. Apakah ini jalan yang sudah ditetapkan baginya. Jalan yang mengantarkannya pada sebuah takdir lain yang menjadi jawaban atas kegelisahannya kala gagal masuk SMA impian. Ia menyadari, bahwa kegagalannya dulu merupakan penundaan atas jalan hidup yang lebih baik dariNya.

Jalan Allah memang yang terbaik. Skenario Allah merupakan yang sempurna. Manusia sering tidak bersyukur dan mengambil hikmah disetiap jalan hidup yang dialami. Padahal, disetiap guguran daun dan tetes hujan pun mengandung pesan-pesan tersirat yang menjadi pelajaran manusia. Saat kita gagal meraih mimpi, saat kita gagal menggapai cita, yakinlah bahwa kegagalan itu merupakan keberhasilan kita melewati proses dengan baik, justru ketika kita tak mau berusaha, ketika kita tak mau berproses, itulah kegagalan yang sebenarnya.

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang baru akan kita temui jawabannya suatu saat nanti. Entah sebulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun….. Sikap kita sebagai hambaNya diuji saat mendapati takdir yang menurut kita kurang baik. Gagal masuk SMA impian, Gagal masuk PTN impian, Gagal diterima Perusahaan impian, Gagal mendapat Beasiswa, Gagal menang lomba, Gagal lulus tepat waktu dan kegagalan-keggalan lainnya. Lagi-lagi… mungkin itu definisi kegagalan yang kita artikan sendiri. Allah Maha Mengetahui atas semua masa depan kita. Dia yang telah mengatur jalan hidup ini. Berbuatlah yang terbaik, maka kitapun akan diberikan yang terbaik pula.

Disetiap ‘kegagalan-kegagalan’ itu selalu tersimpan makna “ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.”

Saat kamu gagal masuk SMA Impian,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kamu gagal masuk PTN Impian,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kamu gagal diterima kerja di perusahaan impian,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kamu gagal mendapat beasiswa studi lanjut,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kelulusanmu tertunda hingga berbulan-bulan,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat amanahmu membuatmu harus berbagi pikiran antara kampus dan oganisasi,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat… Saat setiap peristiwa yang menyapamu tak sesuai keinginan,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Pun.. saya berpesan pada hati ini bahwa ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

 

_senja gerimis di pinggiran Jakarta

Sabtu, 23 Maret 2013 | 17.00 WIB