Arsip | Cuplak-Cuplik RSS for this section

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja


Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama istrinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang istri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP istrinya tanpa istri merasa dicurigai dan istri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan istri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan istrinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara istri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua istri dan istri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga istrinya dan istri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…

Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau istri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan istri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…

Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang istrinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan istri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang istri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan istripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan istrinya…

Keluarga akur itu sederhana saja; Jika istri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa ‘dibuntuti’ sedangkan istri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai…

Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada istri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap istri dan marahnya istri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.

Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas istri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan istri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya. . ..

sumber: http://manhajuna.com/keluarga-bahagia-itu-sederhana-saja/

Merindu Jiwa


Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Menjalani hari dengan selaksa harapan

Menghias waktu bercengkrama riang dengan sang karib

Sesekali sepi itu datang, sang jiwa kerontang merindu

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Sesekali ingin mengetuk-ngetuk pintu Lauh Mahfudz

Biar saja melodi waktu yang mengaturnya

Untuk sebuah pertemuan..berujung barakah

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Yang kini keduanya sedang sibuk menyamakan gontai

Alunannya tengah berdesir menuju hempasan suatu muara

Ia akan tergenapkan..jika sang jiwa telah mengiyakan amanah

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu,

merindu untuk tergenapkan

Untai doa tiada keluh mengalir..beharap..melukis asa

Tangan-tangan itu menengadah..mengiba kesempurnaan dien

 

Ia akan datang, pasti akan datang

Membawa cahaya bintang di jelaga hati

Mengukir pualam mega pada desah jiwa

 

Ia akan datang dan pasti akan datang

Diiringi kepakan sayap para malaikat suci yang mengangkasa pada Arasy

Memberitahu pada penduduk langit

Bahwa sang Fulan telah menemukan serpihan jiwa

Sang Khalik pun tersenyum, menghendaki derajat sang Fulan meninggi dihadapanNYA

Memberi ruang padanya untuk mengokohkan pilar-pilar bersyurga

 

sumber: http://kolikolifamily.blogspot.com/2013/08/merindu-jiwa.html

Berharap Napas yang Panjang


dakwatuna.com – Di antara gejolak-gejolak kejiwaan yang berpotensi untuk mengganggu jalannya dakwah adalah gejolak heroisme. Di sini, bukan berarti heroisme adalah salah satu sikap yang harus dihindari. Akan tetapi dalam buku Tegar di jalan dakwah-nya Ust. Cahyadi Takariawan, yang dimaksud Gejolak Heroisme adalah semangat heroisme yang sudah tidak proporsional. Menjadikan ghirah sebagai bahan bakar utama dakwah yang tak henti-hentinya dipacu tanpa mempedulikan apakah ketersediaan bahan bakar itu cukup untuk menjalankan roda estafet dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu kita.

Jalan ini masih panjang. Karenanya butuh energi yang cukup agar keberlanjutan proses transformasi masyarakat minazh zhuumaati ilannuur tak berhenti saat ini juga. Boleh jadi apa yang diusahakan pada saat ini, belum bisa dirasakan keberhasilannya pada saat ini juga, namun setahun, dua tahun atau bahkan baru sampai pada generasi selanjutnya keberhasilan dari sebuah proses bernama dakwah ini akan bisa dirasakan.

Banyak mungkin yang terlihat saat ini, mereka yang begitu aktif dalam dakwah kampus, setelahnya tak terlihat lagi pendar semangat yang terlihat dari aktivitas dakwahnya, tak ada lagi retorika dan strategi cemerlang yang pernah menjadi senjatanya dalam dunia kampus dulu. Bahkan kini tenggelam tertutup serpihan-serpihan kehidupan yang menutupi aura kebaikannya.

Adakalanya hak-hak raga ini juga perlu diperhatikan, agar tak layu sebelum berkembang, agar tak ada yang gugur sebelum kemenangan dicapai, dan agar tak ada yang berhenti saat perjalanan baru saja menapaki jejak yang masih sangat pendek.

Bukankah Rasulullah SAW juga pernah mengatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang sedikit namun terus menerus dilakukan. Tidak membumbung tinggi semangat di awal, namun hanya terjadi beberapa saat, setelahnya tak terlihat lagi.

Napas panjang, sangat dibutuhkan. Capek? memang…. karena perjuangan dakwah memang panjang. Dan tak ada istirahat sebelum kaki kita menginjak Jannah….

Semoga kita semua dikuatkan untuk memiliki napas panjang itu,, Untukmu para pejuang dakwah, perjuangan kita bukan kerja-kerja satu atau dua minggu saja, melainkan sepanjang hayat  selalu ada amanah dalam meniti jalan kebaikan ini. Ada banyak pekerjaan yang membutuhkan energi dan napas yang panjang. Oleh karenanya, tetaplah berjamaah dan terus isi nutrisi hati agar setiap derap langkah kita diberkahi. Semoga Allah menguatkan kita di jalan dakwah ini…. Aamiin…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20158/berharap-napas-yang-panjang/

Cara bikin passport ?


Tips Umum:
1. Datanglah pagi-pagi sekali ke kantor imigrasi terdekat
2. Hari Selasa
3. Lengkapi Dokumen
4. Berpakaian Rapi Sopan dan Bersepatu
5. Bawa Alat tulis
6. Bawa Lem perekat
7. Siapkan materai 6000 (kalo dibutuhkan)
8. Hindari Calo dan Sabar

Dokumen Penting (semua asli dan fotocopy):
1. Akte Lahir
2. Kartu Keluarga yang masih berlaku
3. Kartu Tanda Pengenal (ktp/sim)
4. Ijasah Terakhir
5. Surat Nikah (bagi yang menikah)
6. Surat Rekomendasi Perusahaan/Instansi (asli aja)
7. Photo 4×6 2 lembar

Prosedur Umum Pembuatan Paspor:
1. Datang Ke Kantor Imigrasi
2. Ingat Bawa Dokumen Penting
3. Ambil Formulir di loket Pendaftaran (harusnya gratis)
4. Isi formulirnya (bisa baca tulis khan?)
5. Jika di isi pekerjaan swasta maka butuh Surat Rekomendasi (tulis aja wiraswasta)
6. Tempelkan photo 4×6 1lbr pada bagian depan PERDIM II
7. Masukkan semua berkas asli maupun fotocopy
8. Berikan ke Petugas di LOKET B2 (penerima)
9. Tunggu untuk dipanggil dan pengembalian berkas asli ke pemilik.
10.Pulang dengan membawa selembar kertas pendaftaran.

Prosedure Lanjutan Pembuatan Paspor:
1. Kita akan datang 3-4 hari setelah penyerahan dokumen
2. Jangan lupa bawa kertas pendaftaran
3. Serahkan kertas pendaftaran ke Loket B2 (loket awal)
4. Tunggu panggilan (cepet kok pas sepi cuma 15 menit)
5. Setelah dipanggil, kita menuju ruang Photo Biometric (antri)
6. Dandan yang rapi, bercermin kalo acak-acakkan
7. Berphoto, harus senyum nggak boleh nangis
8. Finger Print, photo 10 sidik jari tangan kita
9. Wawancara perihal arsip, dokumen dan tujuan imigran.
10. Bayar di loket pembayaran, minta kwitansi untuk pengambilan.
11. Tanda Tangan Paspor

Biaya Yang harus dikeluarkan:
1. Adminitsrasi: Rp. 5000
2. Paspor 24: Rp. 225.000
3. Paspor 48: Rp. 275.000

Pengambilan Paspor :
1. 3-4 hari kemudian bawa kwitansi sebagai bukti untuk pengambilan
2. Serahkan Kwitansi ke Loket B1 (penyerahan)
3. Tunggu hingga dipanggil
4. Tanda tangan Pengambilan
5. Simpan paspor dengan baik dan bawa pulang.
6. Selesai

 

berikut ada beberapa tips dalam ngurus paspor sendirian:

1. ngambil nomor utk serahkan berkas. Nah ane perhatiin kemarin, banyak calo2 yg belon dapet objekan itu ngambilin nomor2 tersebut buat dijual ke calon pemakai jasa mereka. Dan yg parahnya ada yg nggak ngerti ngambilin terus nomor antrian tersebut dan akhirnya cuma dibuang aja.. Pengalaman ngambil antrian jam 8:30 baru bisa masukkan berkas jam 13:30. 😦 Sebaiknya dateng sepagi mungkin untuk dapatkan nomor antri yg nomor awal2.

2. Dokumen KK, KTP, Akte lahir, paspor lama dan dokumen lain lain agan JANGAN sampe beda nama, karena akan jadi pertanyaan panjang. Misalnya “Budhi Susilo Abidin” (maaf ya cuma contoh saja jika ada yg namanya sama) di KTP taunya di akte kelahiran cuma “Bhudi” aja. di Ijazah terakhir “Budi S. Abidin”. Akan jadi pertanyaan dan bisa bolak balik ngurusin itu doang.

3. jangan termakan rayuan calo. Sejago jago2nya mereka ngurus kurang satu hari jamin diatas 1 jeti. ane sudah coba nanya sama Travel agent se biasa2nya itu 500 ribu dua hari kerja; sekarang urus2 dokumen, besok foto dan nunggu selesai.

4. Total ngurus sendiri itu cuma tiga kali dateng; pertama serahkan berkas (karena ane apes jadi setengah hari). 4 hari kemudian serahkan ambil berkas dan foto (45 menit). 3 hari kemudian dateng buat ambil (15 menit)

– untuk yang bikin baru harus cek KTP dulu (bayar 5rb)
– untuk suami istri harus bikin surat pernyataan suami istri (tempel materai)
– datang pagi-pagi sekali soalnya nomor antrian awal biasanya untuk calo2
jadi walaupun dateng pagi, nomor antrian bisa dapet nomor 80-an

Pada dasar nya :

1. kalo para agan punya waktu lebih, mo nambah pengalaman trus seneng bolak balik & menunggu di sana sih, gpp kl mo ngurus sendiri. ( minimal 3 x kedatangan, yaitu :

KEDATANGAN I :
sebisa mungkin sudah ada ditempat jam 06.00, silahkan buruan isi daftar antrian yang tersedia di dekat pintu masuk utama (ada petugas nya koq) dan letakan map / amplop yang sudah berisi data2 bersama2 dengan tumpukan berkas pemohon yang lain.

nah pasti nanti agan2 semua pd bingung, koq tumpukan berkas nya kebanyakan map berwarna kuning keluaran kantor imigrasi. beda sendiri ya? gpp koq, di situ cuman buat ngebooking nomor antrian ke loket 1 / loket permohonan. nanti setelah diberikan nomor antrian dan dikembalikan berkas nya ( sekitar jam 8 kurang 5 menit ),

silahkan kalo para agan2 mo beli map+formulir+materai (beli di koperasi yang ada di belakang gedung sebelah kanan, biasanya baru bukan jam 7.30an), nah trus diisi dah formulir dan surat pernyataan + tempel materai . + copy KTP + copy KK + copy Akte Lahir atau Surat Kenal Lahir + copy Ijazah SD atau SMP atau SMA + Surat Sponsor (Surat Pernyataan dari perusahaan tempat agan bekerja yang menyatakan bahwa agan benar karyawan perusahaan tersebut).

Trus kalo ada salah tulis dan ga bawa tip-x, jangan malu, minta lagi aj ama koperasi nya ( inget y, “minta !!!” ), karena pada dasar nya yang bayar tuh cuman map nya doang, kalo formulir & surat pernyataan sih gratis.

KEDATANGAN II :
kalo saat kedatangan I semua data sudah lengkap, pasti diberikan tanda terima untuk sesi FOTO & WAWANCARA keesokan harinya.

Nah, kedatangan ke II ini juga harus diusahakan sudah tiba di tempat jam 06.00. Tapi untuk x ini, langsung menuju LOKET 2, cobloskan TANDA TERIMA untuk wawancara pada tempat yang tersedia.

Trus nunggu lagi deh ampe jam 08.30 ( lebih lama 30 menit?? )
Di LOKET 2 ini, agan2 nunggu diberikan nomor antrian (antrian lagi??) ya gan ngantri untuk bayar biaya pembuatan paspor ( 200 rb u paspor 48 halaman & 50 rb u paspor 24 halaman + biometrik 55rb + sidik jari 15rb ). jadi total biaya resmi untuk paspor 48 halaman = 270 rb & 120 rb untuk yang 24 halaman.

Setelah bayar, tinggal nunggu 2 x lagi, yang 1x nunggu untuk pengambilan foto dan sidik jari dan nunggu yg ke-2 untuk sesi wawancara.

KEDATANGAN III
Setelah semua sesi selesai, silahkan DATANG UNTUK YANG KE-3 X nya, (biasanya 4 hari setelah sesi foto & wawancara) untuk mengambil PASPOR yang sudah ta’ sabar menanti diajak agan2 semua ke luar negeri.:maho

NB. :
– para agan harus paaanjang …. sabar kalo melihat para pemohon yang datang lebih siang dari agan tapi lebih dulu dilayani oleh petugas.
(“biasa gan, kalo bisa dipersulit, ngapain juga dibikin gampang ” & beda harga = beda pelayanan nya, mungkin itu prinsip yang dianut)

2. Kebalikan dari yang pertama, kalo agan2 mo bikin paspor tp udah ga punya waktu lagi buat ngurusin tetek bengek kaya begitu & ikhlas memberikan “sumbangan jasa” sekitar 250 – 300 rb, silahkan cari biro jasa yang telah dikenal.

passport 24 dan 48 hanya berbeda di jumlah halamannya saja, bila para juragan sering keluar negri ane saranin pake passport yang 48 halaman. lain kata passport 24 akan lebih cepat habis dibanding passport yang 48

 

sumber: agan-agan kaskuser

Dirosat


Ada baiknya sesekali kita berkaca ulang. Menimbang kembali apa yang sedari dulu kita mau, apakah kini sudah terjadi. Atau apa yang kita mau di masa mendatang, bagaimanakah cara kita membuatnya nyata. Maka semua diawali dari seperti apa definisi kemauan kita.

Tidak mudah mendefinisikan apa yang kita mau. Sebab, itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Semua itu akan sangat mempengaruhi bagaimana kita memilih untuk menjadi apa.

~Tarbawi~

500 Tokoh Muslim Paling berpengaruh


Berikut ini saya hanya menampilkan tokoh-tokoh yang dari Indonesia saja, untuk lebih lengkapnya bisa mendownload dokumen di bawah ini.

(klo mau protes nama-namanya, ke pihak penyelenggara ya ~>themuslim500.com<~ , saya cuma mempublish disini :))

Edisi 2009:

1.Prof. Dr. Tuty Alawiyaah

2. Syafi’i Anwar

3. Azyumardi Azra

4. Haidar Bagir

5. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

6. Syafii Maarif

7. Lily Zakiyah Munir

8. Dr. KH. Achmad Hasyim Muzadi

10. Helvy Tiana Rosa

11. Prof. Dr. M. Din Syamsudin

12. Hj. Maria Ulfah

13. Dr. Nasarudin Umar

14. Abdurrahman Wahid

15. Susilo Bambang Yudhoyono

Edisi 2010:

1.  Prof. Tuty Alawiyaah

2. Irfan Amalee

3. Haidar Bagir

4. Abu Bakar Baasyir

5. Anies Baswedan

6. Endy M. Bayuni

7. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

8. Sri Mulyani Indrawati

9. Syafii Maarif

10. Sahal Mahfudz

11. Goenawan Mohammad

12. Husein Muhammad

13. Tri Mumpuni

14. Helvy Tiana Rosa

15. Quraish Shihab

16. Dr. KH. Said Aqil Siradj

17. Prof. Dr. M. Din Syamsudin

18. Hj. Maria Ulfah

19. Dr. Nasaruddin Umar

20. Susilo Bambang Yudhoyono

21. Nani Zulminarni

Edisi 2011:

1. Prof. Dr. M. Din Syamsudin

2. Anies Baswedan

3. KH. Achmad Mustofa Bisri

4. Syafii Maarif

5. Dino Pati Djalal

6. Sahal Mahfudz

7. Dr. Nasaruddin Umar

8. Prof. Tuty Alawiyaah

9. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

10. Quraish Shihab

11. Haidar Bagir

12. Husein Mohammad

13. Sri Mulyani Indrawati

14. Tri Mumpuni

15. Helvy Tiana Rosa

16. Hj. Maria Ulfah

17. Endy M. Bayuni

18. Goenawan Mohammad

19. Abu Bakar Baasyir

20. Habib Rizieq Shihab

21. Dr. KH. Said Aqil Siradj

22. Susilo Bambang Yudhoyono

Nasyid Permata Tarbiyah (Tribute To Bunda Yoyoh Yusroh)


By: Izzatul Islam

Angin malam berhembus

sendu mengiris kelam
sepoi membelai jiwa
hanyut dalam buaian
bagai menyambut sukma
mujahidah mulia
songsong janji setia
dalam peluk ridho-NYA
malam menagih dalam rindu
saat waktunya tiba
kita berpisah dalam fana
kelak kita berjumpa
Duhai permata tarbiyah
anggun dalam keteguhan
duhai penyemai bunga dakwah
harum mewangi buana
jejak langkah kau semaikan
kan terpatri dalam diri
jejak langkah kau semaikan
kan abadi dalam hati
Ya Robb, aku sedang memikirkn posisiku kelak di akhirat nanti. Mungkinkah aku berdampingan dengan ‘penghulu para wanita:  seperti Khodijah Alkubro yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafsah binti Umar yang dibela oleh Allah saat akan diceraikan karena showamah dan qowamahnya? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500an hadist, sedangkan aku…ehmmm 500 juga belum…atau dengan ummu Sulaim yang shobiroh, atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad?… Atau dengan siapa ya?…  Ya Allah tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka sehinga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka ditaman firdaus-Mu

Download disini

kestabilan jiwa


Alhamdulillah, selama ini perantara jamaah selalu memahami kita, menjaga kita, memelihara kita,agar hati kita terpelihara, jangan sampai menjadi nufus murtabikah,  jangan menjadi jiwa yang guncang, jiwa yang kalut dalam menghadapi tantangan. Dan bahkan Allah Taala telah mengarahkan kepada kita bagaimana agar istiqrarun nafsi (Ketenangan dan kestabilan jiwa) itu bisa dipelihara, maka kemudian Allah mewajibkan dan menyunahkan akan adanya sunnah berumah tangga dan berkeluarga. Karena berkeluarga adalah salah satu jenjang, salah satu sarana, salah satu wadah untuk memelihara nufus mustaqirrah.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Ruum: 21)

Istiqrarun ‘aili, ketenangan dan kestabilan keluarga para dai dan daiyat, bahwa keluarga duat dan daiyah tidak seperti keluarga kebanyakan manusia. Dari mulai munthalaq-nya, pangkal bertolaknya mereka berumah tangga, dimana rumah tangga itu dibangun dengan mahabbah fillah. Apa lagi sama-sama dibangun melalui wihdatul aqidah, wihdatul fikrah dan wihdatul minhaj.

Bahkan selalu seiring bergandengan tangan dalam perjalanan dakwah dengan segala pengorbanannya, maka ikatan mahabbah fillah yang didasari wihdatul aqidah (satu akidah), wihdatul fikrah (satu pemikiran) dan wihdatul manhaj (satu konsep) itu diikat pula oleh ikatan romantisme dakwah. Ikatan romantika dakwah yang mengikat rumah tangga kita. Allahu akbar walillahil hamd.

 

~majalah al-intima~

 

KP di Edwar Technology


alhamdulillah ini hari ke-2 saya KP di Edwar Technology, lab nya Pak Warsito, sang Penemu alat pemindai 4D. Entah kenapa juga saya bisa ‘terjebak’ di lab ini. awal mulanya daftar di BTL-BPPT, tapi kemudian di pondah di MEPPO-BPPT dan akhirnya atas kebaikan hati dosen pembibing saya di BPPT akhirnya berlabuh di tempat yang merupakan tempat orang-orang hebat ini.

*semoga ilmunya bisa nular juga 🙂

Istiqamah: Konsisten, Persisten, Konsekuen


dakwatuna.com – Ketika membicarakan apa itu istiqamah, akan banyak sekali interpretasi yang muncul berkaitan dengan maknanya. Satu kata ini memang memiliki makna yang sangat dalam sehingga ketika ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, ajarilah aku tentang Islam yang aku tidak akan menanyakan ini lagi kepadamu?”. Maka Rasul pun menjawab “Berislamlah, berbuat baiklah lalu istiqamah”. Karena amalan yang paling disukai oleh Allah bukan sekedar amalan yang besar semata. Tapi juga amal yang dijalankan secara kontinyu dan terus mengalami peningkatan.

Saya teringat dengan sebuah kajian yang disampaikan oleh Ust. Arief Munandar beberapa tahun yang lalu di Masjid Fakultas Kehutanan UGM, beliau menjelaskan bahwa ada beberapa makna Istiqamah yang bisa kita ambil hikmahnya, di antaranya adalah, Konsisten, Persisten, dan Konsekuen. Ketiga unsur makna ini adalah bentuk dari perwujudan sebuah makna keistiqamahan dalam berjuang dengan idealisme dakwah yang tinggi., yang akan tetap memperjuangkan dakwah dengan keistiqamahan idealisme hingga syahid menjadi penutup akhir hidup seorang manusia.

1. Konsisten

Idealisme  tidak dibatasi oleh waktu. Ia tak hanya berumur 4 atau 5 tahun dan bersemayam di jiwa hanya ketika berada di kampus. Idealisme harus dibentuk dengan penuh pemahaman bahwa apa yang selama ini diperjuangkan dan diyakini adalah memang sebuah kebenaran. Bukan hanya sekedar taklid, mengikut tanpa tahu maksud. Idealisme tidak akan bertahan lama bila dibangun di atas fondasi pemahaman yang rapuh. serta tidak ditegakkan secara konsisten. Karena hanya orang-orang beridealisme tinggilah yang mampu menghadapi berbagai gelombang ujian kehidupan. Konsisten berarti apa yang dikatakannya hari ini adalah juga merupakan perkataannya hari esok.

2. Persisten

Ketika sebuah usaha mengalami kegagalan atau menemui berbagai macam benturan kepentingan yang saling melemahkan, maka persistensi seseorang yang memiliki idealisme tinggi harus menjadi senjata ampuh untuk bisa menjadi tameng dalam menghadapi beratnya cobaan itu. Ketika terjatuh, ia harus kembali bangkit, bukan sekedar menyesali kesalahannya. Introspeksi memang penting, tapi jauh lebih penting lagi bila kita tak hanya menyesali kesalahan, akan tetapi juga mampu mencari solusi untuk bangkit dari kegagalan. Karena orang yang kuat bukan hanya yang mampu melewati terpaan ujian semata, tapi mampu kembali mendongakkan wajah saat raganya mulai tersungkur dan mampu mengepalkan kembali semangat juang dari keterjatuhan. Persisten harus dibangun dalam diri setiap mujahid-mujahid dakwah karena akan banyak sekali tenaga yang dibutuhkan dalam memperjuangkan kalimatullah dan kemenangan dakwah di muka bumi ini.

3. Konsekuen

Hal yang menjadi penting bagi seseorang yang memiliki idealisme adalah ia harus konsekuen dengan apapun yang ia perbuat. Ia harus mampu berada di garis terdepan ketika banyak orang yang mencela. Bukan sembunyi dibalik ketakutan yang menghantui. Apapun yang telah kita perjuangkan pasti ada konsekuensinya. Memperjuangkan dakwah berarti kita harus siap dengan segala macam hambatan dan musuh-musuh dakwah yang pasti akan selalu mencari celah untuk menghancurkan kita. Memperjuangkan dakwah berarti kita harus rela mengorbankan segala potensi yang kita miliki, selama itu masih bisa kita lakukan. Harta, waktu, tenaga bahkan jiwa adalah potensi-potensi itu. Dakwah ini membutuhkan orang-orang yang tetap tegar memperjuangkan dakwah sehingga ia mampu menjadi seorang pejuang yang tak kenal lelah. Karena kelelahan hanya akan membuat kita semakin terpedaya untuk meminimalisir waktu perjuangan yang ada. Kelelahan hanya akan membuat produktivitas dakwah ini menurun. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali energi pembaharu semangat dakwah yang akan menjadi obat bagi kelelahan menyusuri jalan Perjuangan ini.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15696/istiqamah-konsisten-persisten-konsekuen/#ixzz1bxjMaAl0

Sepanjang Hidup-Maher Zain


Sepanjang Hidup_Perjalanan Cinta

aku bersyukur kau di sini kasihdi kalbuku mengiringi
dan padamu ingin ku sampaikan

kau cahaya hatidulu ku palingkan diri dari cinta
hingga kau hadir membasuh segalanya
oh inilah janjiku kepadamu

reff:
sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmuhingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannahku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu

repeat reff

yakini hatiku bersamamu ku sadari inilah cinta
tiada ragu dengarkanlah
kidung cintaku yang abadi

repeat reff

http://www.4shared.com/audio/3cV0L5Oq/maherzain-sepanjang_hidup.html

Mau Tahu Sejarah Banten? Nonton Film Ini ‘Titisan Tanah Banten’


Ada berita baru dari dunia perfilman Indonesia. Kali ini, insya Alloh film yang mendidik yang mengajak kita mengetahui sejarah banten dalam balutan film. 
Film yang akan diputar di televisi ini (FTV)  berjudul ‘Titisan Tanah Banten’   dengan Episode Perdana “Cahaya Kewalian”. Anda bisa menyaksikan di Jak TV pada  Minggu, 16 OKtober 2011 Pukul 20.00 WIB. Yang mengejutkan adalah  pemeran utama dalam film ini adalah seorang Ulama yang juga anggota DPR yakni Al Ustadz H Jazuli Juwaeni. Ternyata Ustadz bisa acting juga ya.
Film ini mengungkapkan karakter banten yang terkenal dengan jawaranya dan ulamanya. Ketika moral yang “biadab” merajalela, muncullah ulama yang membebaskan banten dari moral ‘rendahan’ itu. Film ini dibuat untuk menggambarkan Banten di masa jaya saat dipimpin oleh ulama. 
Penasaran kan? Tunggu sampai tanggal 16 Oktober ya. Stay tuned on your own television, guys! Check out this trailer first!

If only I could say…


Anladım diyemem ki! Suçluyum 
Belki ben anlatamadım sana kendimi 
Tutuştum, yandım da yokluğunda her gece 
Yine gözyaşlarımla söndürdüm kalbimi 
Her gün her dakika seni özlerdim 
Bitmezdi kederim senin yanında bile 
Susardım, gözlerime baktığın zaman 
Mermer bir heykelin çaresizliğiyle 

 

Oysa neler düşünürdüm sen yokken 
Sana kavuşunca neler söylemek isterdim 
Dakikalar bir ışık hızıyla geçerdi 
Ayrılık başlayınca ben biterdim 
En kötüsü beni koyup gitmendi 
O öyle bir yalnızlıktı anlatılmaz 
Hep yarım kalmış heyecanlar hazlar içinde 
Biterdi bir kış, geçerdi bir yaz 
Ve nice yıllar kovalardı birbirini 
Gözlerimde gitgide büyürdü mesafeler 
Bütün teselliler uzaklarda kalırdı 

 

Bütün çiçekleriyle solardı bahçeler 
Ne olurdu saadetlerin en büyüğü 
İşte ellerimde al, diyebilseydim 
Anlardın, ve hiç gitmezdin, değil mi 
Bir gün duyduğum gibi kal diyebilseydim.

 

Ümit Yaşar Oğuzcan-

Nol


“kalau wanita mempunyai akhlak baik dan cara berfikir positif, maka ia adalah angka 1.
kalau ia juga cantik maka imbuhkan 0, jadi 10.
kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0, jadi 100.
kalau ia pintar dan cerdas, imbuhkan lagi 0, jadi 1000.
kalau seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak memiliki yang pertama maka ia hanya 000.” –Al-Khawarizmi

sms pagi hari


“Apa jawaban Ayah, nila teman kantor tanya mengapa Tuhan tidak menampakkan dirinya? Memperlihatkan dirinya?”

 

“Karena….karena, ya itu, kalai Tuhan menampakkan dirinya, berarti Tuhan tidak adil.”

 

“Kenapa?”

 

“Iya, berarti kasihan orang buta. dia tidak bisa melihat.”

(Pidi Baiq)

(Cerpen) Muwaffaqah…


“Jadi kesimpulan pertemuan kita hari ini adalah tidak ada cara baku dalam mengajarkan Islam. Perlu banyak inovasi dan penyesuaian dengan kondisi saat ini,” Ustad Alamsyah menyimpulkan mentoring kami hari ini dan menutup pertemuan dengan Hamdallah.

“Akhirnya selesai juga Wat, kita bisa main basket sekarang,” ujar Salim. Salim adalah teman baikku, teman di rohis, dan juga teman satu kelompok mentoring. Aku dan Salim adalah siswa di SMA N 4 Lahat, Sumatera Selatan. Aku baru 8 bulan kenal mentoring dan menurutku mentoring cukup efektif sebagai metode mengajarkan Islam, setidaknya aku diangkat menjadi kepala divisi di rohis SMA, lebih dikenal sebagai Rohis Ash-Shaff, belum lama sejak ikut mentoring. Aku mempunyai nama yang cukup asing, Kurenai Wataru, namun aku bangga dengan nama itu. Basket, menulis, dan mentoring adalah kegiatan rutinku setiap minggu. Aku dikenal cukup pintar, tidak begitu alim, ramah, dan usil, kombinasi sifat yang aneh memang.

Banyak yang bilang anak rohis itu tidak mengenal cinta semasa remaja. Pada saat mentoringpun Ustad Alam berulang kali mengingatkan untuk tidak terjebak cinta sampai kita benar-benar sudah siap. Seorang perempuan membuatku menjadi anak rohis yang merasakan anehnya cinta itu. Perempuan itu bernama Mio Fadlillah, adik kelasku sendiri.

Awal kisahnya adalah sekitar lima bulan yang lalu ketika siswa baru masuk kesekolahku. Saat itu baru lewat dua minggu aku diangkat menjadi kepala divisi media rohis Ash-Shaff dan aku mendapatkan sms dari seseorang yang tidak kukenal.

“Assalamualaikum kak, apakah siswa baru seperti saya boleh menyumbangkan tulisan di buletin Al Banna?”

Bukan hal yang mengherankan jika aku sering mendapatkan sms mengenai buletin Al Banna karena nomor hp ku tertera di bagian kanan bawah buletin sebagai pusat informasi. Buletin Al Banna adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh divisi media rohis SMA-ku, lebih tepatnya akulah yang memberikan nama Al Banna. Nama tersebut berasal dari nama ulama besar yang sangat memperhatikan pengajaran dan pendidikan Islam, Hasan Al Banna. Sengaja aku pilih nama itu karena aku sangat konsen dalam mencari metode pendidikan Islam yang efektif di zaman sekarang ini, dan media merupakan salah satu pilihan yang kurasa cukup baik.

Kubalas sms itu dengan penjelasan cara-cara mengirimkan tulisan untuk buletin dan kuakhiri smsku dengan menanyakan identitas pengirim. Namun tidak ada balasan sama sekali. “Paling orang yang iseng aja,” batinku.

Sabtu siang jam 1, seperti biasa, aku memimpin rapat koordinasi dan penyusunan buletin Rohis Ash-Shaff. Rapat koordinasi kali ini berlangsung cepat, dan memang selalu cepat. Penyusunan buletin lah yang cukup lama. Proses penyusunan dimulai dari pemilihan tulisan yang dikirim oleh para siswa. Salim membawa sebuah kotak yang biasanya menempel di dinding dekat pintu sekretariat rohis dan memeriksa isinya. Aku ingat sekali kotak itu sebenarnya adalah kardus supermie yang aku minta di warung pak hol, sebuah warung di pojok sekolah. Kardus tersebut telah disulap menjadi kotak cantik oleh perempuan-perempuan di divisi media yang memiliki kreativitas di atas rata-rata, itu pendapat subjektifku.

“Ada berapa tulisan yang masuk minggu ini?” tanyaku pada Salim.

“12 artikel dan 23 jawaban kuis”

“Seperti biasa” jawabku pelan. Jumlah artikel dan jawaban kuis yang masuk setiap minggunya memang berkisar di angka itu. Angka itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Buletin yang mempunyai 6 halaman ini berisi 2 artikel kiriman, 1 artikel tetap dari ketua divisi media yang merangkap menjadi ketua redaksi (aku maksudnya), dan sisanya berbagai tulisan maupun hiburan non-artikel yang dikumpulkan tim media. Hasil wawancara terhadap beberapa orang yang artikelnya dimuat menunjukkan bahwa ada dua motivasi utama yang membuat mereka semangat mengirim tulisan. Motivasi yang pertama adalah hadiah menarik dari tim media, sebuah Alma’ Tsurat sumbangan alumni yang langsung didatangkan dari tempat kerjanya, Mesir. “Ingin eksis,” itulah motivasi lain para penulis artikel. Alasan yang masuk akal karena memang nama penulis tertulis jelas di bawah judul artikel, bahkan di bold.

“Akh Wataru, ini ada tulisan bagus, tapi tidak ada nama pengirimnya,” ucap Nurul, salah satu anggota divisiku, sambil menyerahkan secarik kertas. Kubaca tulisan itu, judulnya Qurotta Ayyun. Kubaca paragraf pertama dalam tulisan tersebut.

—————————————– Qurotta Ayyun Sudah kenalkah anda dengan identitas sebenarnya dari perempuan? Allah SWT menciptakan perempuan pertama, Hawa, dari tulang rusuk Adam. Hawa berasal dari kata hayyun yang artinya hidup atau bisa dimaknai bahwa pada hakikatnya penciptaan perempuan adalah untuk selalu menampakkan kehidupan, selalu menunjukkan semangat, selalu memperlihatkan keceriaan, dan poin utama adalah Qurotta Ayyun, menjadi penyejuk pandangan bagi lingkungan di sekitarnya. —————————————–

“Tulisannya diawali dengan kata-kata yang cukup menarik, namun terlalu cepat menyampaikan gagasan utama, pasti paragraf berikutnya akan kurang menarik” batinku. Setelah membaca sampai tuntas, aku sadar pendapatku tadi salah. Paragraf demi paragraf berisi tulisan dengan ide-ide segar yang baru namun tidak keluar konteks besar mengenai Qurotta Ayyun. Seni menulis yang digunakan bervariasi, mulai dari sastra elok yang membuatku mendayu-dayu, bahasa lugas dengan definisi-definisi singkat, sampai analisis mendalam dengan paduan kata-kata yang sangat efektif. Kekagumanku yang utama bukan pada gagasan dan seni menulis, namun sihir yang diciptakan yang memain-mainkan perasaanku seenaknya. Di paragraf-paragraf awal, perasaanku dibuat tersentak dengan masih sangat minimnya pengetahuanku mengenai perempuan, lalu aku dibuat bergetar dan merinding dengan caranya menginterpretasikan ayat-ayat Quran, kemudian hatiku dibuat berseri-seri dan mulutku dibuat tersenyum dengan humor ringan, dan bagian akhir, sungguh sangat mengharukan, aku tidak bisa menahan air mataku keluar.

“Hei Wat, ada apa?” tanya Salim yang juga membuat aku tersadar dari dunia perasaanku.

Tanpa menjawab aku mengumumkan, “Subhanallah, tulisan ini aku tetapkan masuk di bagian utama buletin kita edisi ini!”

“Bukannya gak ada identitasnya ya? Nanti kita tulis dari mana dong sumbernya?”

Aku segera memeriksa setiap sudut kertas itu, namun ternyata memang tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada tulisan “dari seorang perempuan yang berharap mendapat petunjuk”. Setelah merenung sejenak, aku mendapatkan ide, “buat aja Muwaffaqah sebagai nama pengarangnya.” Muwaffaqah berasal dari bahasa Arab yang artinya yang mendapatkan petunjuk. Pemilihan nama itu sekaligus sebagai doa bagi pengirim supaya beliau mendapatkan petunjuk yang terbaik baginya.

Sejak saat itu, hampir setiap minggu tulisan perempuan misterius itu terbit dalam buletin Al Banna. Dulu pembaca hanya penasaran dengan nama Shabwah, sekarang ditambah lagi dengan Muwaffaqah. Ohiya, sejak awal aku tak pernah menggunakan nama Kurenai Wataru untuk tulisan-tulisan di buletin, aku hanya memperkenalkan nama Shabwah. Tentu seluruh anggota divisi media mengetahui hal itu, tapi aku minta dirahasiakan untuk menjaga keikhlasan dalam menulis.

Tidak terasa tinggal 2 bulan lagi aku akan menyelesaikan SMA-ku. Aku sudah tidak aktif lagi di rohis, mengirim tulisan di buletin pun sekali-sekali saja. Saat ini ada dua hal yang menyita konsentrasiku, ujian kelulusan SMA dan seleksi beasiswa kemitraan. Keduanya bisa dibilang sama pentingnya. Lulus SMA tentu tidak perlu ditanyakan lagi buat apa. Beasiswa kemitraan adalah program pemerintah daerah untuk menyekolahkan putera daerahnya ke salah satu dari tiga perguruan tinggi negeri, yaitu ITB, UGM, atau Unsri. Kondisi ekonomi keluargaku yang pas-pasan semenjak bapak meninggal 8 tahun yang lalu dan tekat bulatku untuk tidak membebani emak membuatku begitu mengharapkan beasiswa ini.

Pagi itu aku duduk di teras kelasku sambil menunggu waktu dimulainya tryout ujian akhir. Udara begitu sejuknya, beberapa teman sekelasku, seperti biasa, kebanyakan sedang membaca Alma’ Tsurat di dalam kelas. Kebetulan aku sudah membacanya usai sholat subuh tadi.

“Assalamualaikum” ada suara asing tapi merdu menyapaku dari belakang.

“Waalaikumsalam” jawabku sambil berbalik menatap sang penyapa. Hatiku tergetar, untuk beberapa detik mataku tak bisa lepas dari wajahnya sebelum akhirnya kutundukkan pandanganku. Perasaanku terasa aneh, siapa dia?, yang pasti dia adik kelasku karena aku yakin mengenal semua teman seangkatanku.

“Ini kak, saya mau nitip buletin Al Banna dibagikan di kelas kakak.” Kuambil buletinnya, sekarang aku yakin dia berasal dari divisi media rohis. Memang sejak keluar dari rohis aku tidak begitu memperhatikan organisasi tersebut.

“Baik dek, anggota divisi media ya?” kucoba membuka percakapan karena entah kenapa aku ingin lebih lama lagi didekatnya.

“Yupp, tapat sekali kak. Wah, mantan ketua divisi sudah tidak memperhatikan divisinya dulu toh.” Aku tersenyum simpul, kuberanikan menatap wajahnya kembali, kali ini lebih lama. Aku merasakan ketenangan dan kesejukkan luar biasa. Seumur hidup aku belum pernah merasakan seperti perasaan seaneh ini, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?

“Maaf kak, buletinnya jangan diremas gitu dong, nanti gak kebaca.” Mukaku merona merah, tanganku bergerak salah tingkah, dan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku saking bingung dan malunya.

“Udah dulu ya kak, bentar lagi tryout-nya akan dimulai, saya juga harus segera ke kelas. Terima kasih atas bantuannya.”

“Eh iya, sama-sama.”

Perempuan itu pun berbalik dan baru dua langkah berjalan aku menghentikan langkahnya. “Maaf dek, namanya siapa ya?”

“Bisa dilihat di buletin, yang bikin artikel di halaman 3,” sahutnya kemudian melangkah kembali. Mataku mengikuti langkahnya sampai ia menghilang di belokan ruang matematika.

“Ngapain wat tadi berduaan aja dengan Mio?” tiba-tiba Salim menghampiriku.

“Mio?”

“Iya, Mio Fadlillah, kamu gak kenal dengan penerusmu sendiri?”

“Maksudmu lim?”

“Wah, kamu benar-benar terlalu fokus belajar nih, Mio itu kepala divisi media yang baru, penggantimu. Dia cantik kan?”

“Hush, kamu ngomong apa sih lim, astaghfirullah,” aku beristighfar halus, namun ada rasa senang di dalam hatiku, aku dan dia sama-sama pernah menjadi kepala divisi yang sama di rohis.

“Bercanda kok Wat, eh masuk yuk, bentar lagi tryout akan dimulai,” ujar Salim sambil melangkah ke dalam kelas.

Baru satu langkah mengikuti Salim aku baru ingat sesuatu, kubuka buletin halaman tiga. Judul artikel dan penulisnya tertera jelas di baris paling atas, “Sang Kekasih Allah by Muwaffaqah”. Kalau tadi aku heran dengan perasaan anehku ketika bertemu dia, sekarang aku benar-benar terkejut mengetahui bahwa dialah penulis misterius yang tulisannya membuatku menangis, bahkan nama yang kuberikan padanya masih ia gunakan dalam tulisannya, Muwaffaqah.

“Mio Fadlillah atau Muwaffaqah, tulisanmu dan dirimu, keduanya telah membuat hatiku terpikat pada saat pertama kali aku membaca tulisannmu dan pada saat pertama kali aku melihat wajahmu,” ucapku dengan sangat pelan.

Dalam hati aku berdo’a, “Ya Allah, jika aku jatuh cinta, labuhkanlah cintaku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu.” —————————————–

“Barokallah wat, kamu udah jadi sarjana nih,” ucap Froskhan, teman satu jurusanku di ITB.

“Benar, aku sarjana sekarang.” Aku menghela nafas panjang dan pikiranku menerawang jauh ke masa beberapa tahun yang lalu. Man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh – sungguh, maka akan mendapatkannya. Impianku untuk mendapatkan beasiswa kemitraan terwujud, bahkan peringkat pertama. Hasil ini membuatku disodorkan pilihan untuk dibiayai kuliah di salah satu dari 3 universitas, ITB, UGM, atau Unsri. Setelah meminta banyak saran, terutama pencerahan dari emak, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil ITB. Alasan utamaku berkaitan erat dengan ketertarikanku untuk mencari metode paling tepat dalam pengembangan metode pengajaran Islam. ITB, sebagai kampus teknologi, aku yakini bisa memberikan pencerahan.

“Hei Wat, kenapa kamu melamun? Aku tahu, memang berat wisuda tidak dihadiri emakmu, yang tabah ya bro.”

Aku membalas ucapan Froskhan dengan senyuman. Ada dua orang yang begitu ingin temui sekarang. Pertama adalah emakku di Lahat yang tidak bisa menghadiri wisudaku karena kondisi kesehatan beliau yang sedang tidak baik. Kedua adalah Salim, teman karibku di SMA, yang entah kenapa tidak bisa kuhubungi sejak tahun kedua kuliahku.

“Ayo khan, kita pulang,” ajakku. —————————————–

“Bismillahirrahmanirrahim”

Aku telah siap berangkat. Pakaian yang kukenakan pagi ini cukup berbeda, kemeja muslim khas Rabbani berwarna merah marun dipadukan dengan celana panjang hitam. Pagi ini, 4 bulan dari kelulusanku di ITB, aku memberanikan diri menemui Novri, mahasiswa S2 di Universitas Padjajaran. Tujuannya adalah untuk mengatakan bahwa aku mencintai dan ingin menikahi Mio Fadlillah, adik kandungnya. Aku memang berhasil menahan rasa cintaku pada Mio selama tiga tahun lebih. Aku tidak ingin terjebak dalam cinta yang tidak diridhoi Allah. Namun aku tetap tidak bisa melupakannya. Pertemuan tidak sengaja dengan Novri membangkitkan kembali harapanku padanya. Sekitar 1 tahun lalu, aku bertemu dengan Novri dalam pertemuan mahasiswa muslim asal Sumatera Selatan se-Bandung. Aku dari ITB dan Novri, yang 2 tahun lebih tua dariku, dari Unpad. Dari obrolan yang cukup singkat, ternyata Novri mempunyai adik yang pernah satu sekolah denganku yang bukan lain adalah Mio. Sejak saat itu kami cukup akrab, satu bulan sekali kami bersama-sama menghadiri pengajian Aa’Gym di Daarut Tauhid.

Kantin Masjid Salman ITB, itulah tempat aku dan Novri akan bertemu. Sengaja aku datang setengah jam lebih awal untuk mempersiapkan diri. Kupilih meja di pojok kiri karena disana nyaris tidak ada orang. Aku mulai berpikir mengenai diriku dan mencoba menguji apakah diriku layak untuk melamar Mio. Aku lulusan terbaik di SMA-ku, mendapatkan beasiswa kemitraan, belum pernah pacaran, cukup alim, sarjana dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, sudah mendapatkan pekerjaan tetap, dan gemar menulis. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Lalu kubuka ranselku dan kuambil beberapa lembar kertas dan itu adalah kumpulan tulisan Mio di buletin Al Banna. Setiap kerinduan datang aku pasti membaca tulisan-tulisan itu dan setiap membaca tulisan itu aku pasti menangis. Baru saja air mataku akan keluar, Novri datang menghampiriku.

“Assalamualaikum Akhi”

“Waalaikumsalam Warohmatullah,” jawabku.

Kami berbincang-bincang singkat mengenai kabar dan aktivitas masing-masing sampai akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan maksud sebenarnya.

“Kak Novri, dengan mengharapkan ridho dari Allah, aku sebenarnya ingin melamar adikmu, Mio Fadlillah untuk kujadikan penyejuk hatiku.” Tidak kusangka kata-kata tersebut mengalir dengan tegasnya dari mulutku. Kulihat Novri terdiam dan menunjukkan wajah yang lebih murung. Hatiku bertanya-tanya, apakah aku tidak pantas untuk melamar adiknya?

“Subhanallah…Sungguh maha suci Allah. Aku sangat senang dengan kejujuran hatimu. Bagiku, tidak ada alasan untuk menolak lamaranmu. Aku kenal baik dirimu. Aku tahu keteguhan hatimu. Aku tahu perjuangan kerasmu dalam menegakkan Agama Allah. Aku tahu prestasimu-prestasimu. Hanya saja…” ucapan Novri terhenti.

“Ada apa kak?”

“Maafkan aku belum menceritakan ini padamu. Sekitar 3 minggu yang lalu, Mio sudah menerima lamaran dari orang lain. Pria ini adalah orang ketiga yang melamarnya.” Aku sungguh kecewa, hatiku sakit sekali rasanya. Walaupun suaraku bergetar, kucoba bertanya, “Siapa pria beruntung itu?”

“Aku belum pernah bertemu dengannya Wat. Dia melamar Mio langsung di rumah, sedang aku berada di Bandung. Dari kabar yang kuterima, namanya Salim Yuandi, dia satu SMA dengan Mio dan berarti saru sekolah denganmu juga. Mungkin kamu mengenalnya.”

Jika tadi aku terkejut mendengarkan Mio sudah dilamar, sekarang aku jauh lebih terkejut. Jika tadi hatiku sangat sakit, sekarang beribu kali lebih sakit bahkan tersayat-sayat. Betapa tidak, ternyata yang melamar Mio adalah Salim Yuandi. Siapa lagi alumni SMA N 4 Lahat yang bernama Salim Yuandi? Salim adalah teman paling baikku di SMA, teman mentoringku, teman satu tim basketku dan teman di divisi media rohis Ash-Shaff. Yang lebih menyakitkan adalah Salim tahu betul perasaanku pada Mio karena hanya kepadanyalah dulu aku berani menceritakan bahwa aku mencintai Mio. Apakah ini alasan Salim tidak pernah bisa kuhubungi selama ini? Sungguh rumit bagiku mengartikan makna cinta dan persahabatan saat ini. —————————————–

Satu bulan telah berlalu dari masa-masa suramku. Aku tidak mau terjerat terus dalam urusan cinta dan persahabatan. Aku mulai menekuni kembali aktivitasku. Selain bekerja dan mengembangkan usaha, aku cukup disibukkan dengan situs jejaring sosial yang kurintis sejak awal kuliah di ITB, mentoring online. Aku tidak pernah melupakan bahwa salah satu tujuanku masuk ke kampus yang terkenal dengan teknologi ini adalah untuk mencari metode pendidikan Islam yang sesuai perkembangan zaman. Dan di masa serba canggih seperti sekarang, aku memilih media internet sebagai sarana. Awalnya situs yang kubuat hanyalah tempat diskusi agama dan distribusi mentoring bagi yang membutuhkan. Sekarang mentoring online sudah berkembang. Selain diskusi agama yang semakin ramai, pengajian online yang selalu didengarkan ratusan pengunjung, distribusi mentoringpun semakin efektif. Minimal ada dua kelompok mentoring yang terbentuk setiap minggunya. Konsepnya sederhana, orang-orang yang mendaftarkan diri untuk mentoring aku gabungkan dan kucari satu orang sebagai mentornya. Memang pendaftar masih dibatasi daerah Bandung karena aku kesulitan mencari mentor. Biasanya aku mencari mentor dari jaringan-jaringan pengajian yang aku ikuti, Daarut Tauhid, Pusdai, Salman, dan Lembaga-lembaga dakwah kampus. Melelahkan memang, namun aku ingin menjadi jalan hidayah bagi sebanyak-banyaknya orang. Cita-citaku untuk memecahkan permasalahan pendidikan Islam sedikit banyak sudah mulai terwujud.

Aku baru pulang dari Daarut tauhid ketika kulihat sebuah surat yang tergeletak di dekat pintu. Saat itu hujan cukup deras membasahi perjalanan pulangku sehingga aku harus mengeringkan badanku dahulu. Ditemani secangkir teh hangat, aku membuka surat itu. Kubaca secara perlahan.

—————————————– Bismillahirahmanirrahim, Assalamualaykum Wr Wb,

Untuk Kak Kurenai Wataru

Bermula dari nama yang engkau berikan, Muwaffaqah, yang diberikan petunjuk. Berlanjut dengan membaca tulisan-tulisanmu di buletin Al Banna. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu langsung denganmu dengan dalih mengantarkan buletin. Aku pikir aku jatuh cinta. Ditambah lagi sikap salah tingkahmu saat bertemu denganku, ketika itu, aku yakin Kakak mempunyai perasaan yang tidak jauh berbeda denganku. Itulah awal mula tumbuhnya rasa cintaku padamu. Sederhana dan singkat memang, namun jangan remehkan, rasa cintaku padamu terus berkembang, setidaknya sampai aku menulis surat itu. Harapanku padamu sangatlah besar, tapi aku tutup rapat rasa ini dalam hatiku dan menunggu saat dimana kau akan menjemputku dan mengakhiri penantianku. Tapi sampai kapan aku harus menunggu? Kudengar dari Kak Novri, Kakak sudah diwisuda, sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah tidak ada halangan lagi untuk mencari pendamping hidup. Tapi Kakak tidak kunjung menjemputku. Bahkan aku sampai ragu, jangan-jangan hanya aku yang merasakan ini, dan semuanya adalah harapan kosong. Jangan-jangan aku terlalu percaya diri dengan mengira kakak juga mencintaiku. Lamaran pertama kutolak dengan dalih yang dibuat-buat. Lamaran kedua kutolak dengan dalih yang lebih dibuat-buat lagi. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak lamaran ketiga yang datang padaku. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menunggu Kurenai Wataru datang melamarku, mustahil! Tak lama setelah lamaran diterima dan persiapan pernikahan sudah dimulai, aku mendapatkan kabar bahwa kakak melamarku. Sedih kak! Aku lebih baik tahu bahwa kakak sama sekali tidak mencintaiku daripada aku tahu kakak mencintaiku namun waktunya sudah terlambat. Episode final penantian cintaku padamu telah berakhir. Aku memang mencintaimu namun aku lebih mencintai Allah. Jadi aku tidak akan membatalkan pernikahanku dengan Mas Salim karena itu akan menyakiti dan membuat malu banyak orang, dan itu akan membuat Allah murka. Terakhir, izinkan aku menyampaikan kalimat yang sesungguhnya sangat ingin aku dengarkan darimu, “Aku mencintaimu karena Allah.” Mohon bakar surat ini sekaligus bakar kenanganmu padaku, hal yang sama juga akan aku lakukan. Dan surat ini akan menjadi surat terakhir aku menggunakan nama Muwaffaqah.

Yang membutuhkan petunjuk, Muwaffaqah —————————————–

Kuambil korek api dan kupenuhi permintaan terakhir Mio. Saat itu hujan tidak sederas tadi, namun gemericik suaranya ketika beradu dengan seng atap kamarku cukup memikatku untuk keluar. Kugenggam abu sisa surat Mio dan kubawa berlari ke luar. Air hujan membasahi tubuh dan wajahku, namun aku tidak yakin air hujan yang menetes ke wajahku mengalahkan banyaknya air mataku saat itu. Kuhamburkan abu surat Mio ke udara. Aku terduduk lesu di tanah becek, tak peduli ada orang yang melihat apa tidak. Aku memang sedih, namun aku sangat lega. Aku tau Mio juga pernah mencintaiku. Hujan mulai menghilang membawa serta kesedihan, kekecawaan, dan cinta. Entah karena merasa bebas atau karena semangat baru sudah merasuki diriku, aku tersenyum.

“Selamat datang hari esok, antarkan aku pada hari-hari yang lebih indah.”

http://akhidenli.wordpress.com

lagi-lagi menemukan tulisan seperti ini..


Ada sebuah riwayat yang menceritakan tentang keluhan orang kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, bahwa pada masa kepemimpinan tiga Khulafa Ar Rasyidin sebelum beliau (Saadaatina Abu Bakar, Umar ibn Al Khatthab dan ‘Utsman ibn ‘Affan radliyallahu ‘anhum) tidak terjadi perpecahan ummat seperti pada masa kekhalifahan Sayyidina ‘Ali.

Bagaimana jawaban Sayyidina ‘Ali? “Pada masa beliau bertiga itu, yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”

 

Kieru To Modoru


TSU ICHI DAKEGA KOKORO KARA KITAI SHITE IRU
NAMA TOSHI WATASHI WA ANATA KARA YURU
KURASA ALAM TAK BERPIHAK,
KINI HENDAK KEMANA KAKI BERPIJAK
DEDAUNAN PUN BERGUGURAN
ISYARATKAN LANGKAH YANG MERAPUH
RAGAKU PUN TERHEMPAS JAUH
TERSERET WAKTU HIDUPKU YANG MEMBISU
SALAH, SALAH YANG TELAH LALU
MELUKISKAN AKHLAQ KU YANG BEKU
AWASETE JIKO JIGA
OMO NI MODOSU NI WA
WATASHI O AISHI SHIZEN SUGIRU
ANATA NO AIGA IMAMADE ISHIKA
TSURU TSU MORI WA NAI NO YONA
NAIFU WA ANA WA ANAGA
WATASHI O ASHI OTOGA
CHUCHO SINAI
YA ALLOH, ANTA YAA RAHMAN YAA RAHIM
TSU ICHI DAKEGA KOKORO KARA KITAI SHITE IRU
NAMA TOSHI WATASHI WA ANATA KARA YURU
TUHAN AJARI AKU
TENTANG ARTI RELA
ATAS SEGALA YANG TERJADI
DALAM HIDUPKU
ANUGRAHKAN AMPUNAN
ATAS SALAHKU
SETELAH LAMA HILANG
IZINKAN KU KEMBALI
by: Aka Canovea

kita hidup juga untuk orang lain…


Ukhuwah adalah salah satu nikmat Allah yang tidak dapat digantikan, tidak bisalah kita ini membeli ukhuwah, kita telah dipersatukan oleh Allah dalam pekerjaan dakwah yang tidak semua orang memilikinya, karena dakwah itu pilihan hidup, dan tidak terpaksa untuk melaluinya, ada yang memilih untuk masuk berdakwah? Kalo bisa memilih mungkin lebih baik ga usah aja ya, udah mending ngurusi giginya sendiri, orang belajar 4 tahun jadi dokter gigi saja belum tentu blh mencabut, itu baru mengurusi gigi orang, apalagi kita ketika berdakwah, kita mengurusi umat, kalo 4 tahun trs dadaaahh dakwah,… tak cukup dakwah itu hanya berada dikampus saja.

Perjalanan ukhuwah pun begitu, tidak cukup sampai di taaruf saja, sampai ke taawun bahkan itsar itu pun mempunyai masa waktu yang panjang… seumuran hidup kita, dalam mengarungi dakwah ini. Setiap tahapan hidup yang kita pilih, kita tidak mengetahui kapan kita dipanggil oleh Allah, maka kalo kita diamanahi maka bersunguh-sungguhlah, pergunakanlah hal itu untuk meningkatkan kapasitas diri kita, kapasitas itu ada potensi ada pengembangan ada kemanfaatan, kalo orang sibuk itu malah cepat selesai/produktif, tapi kalo ga sibuk terkadang kita malah menyia-nyiakan waktu yang ada… artinya kita tidak boleh menafikan pertolongan Allah, nah pertanyaannya adalah layakkah kita menjadi orang yang ditolong Allah??? Allah itu memilih hamba dari apa yang telah kita lakukan/hasilkan, kesungguhannya dalam bekerja.

Bismillahirahmanirrahim,…. kita telah diamanahi oleh Allah, maka harapannya amanah ini yang dapat membanggakan diri kita ketika dipanggil oleh Allah. Senantiasa kita berusaha meningkatkan kapasitas kita diri bukan malah menjadi turun, dan tentu saja menjaga hati kita dari “ghil” ghil itu baru coretan dalam hati… belum sampai pada action.. baru perasaan tidak suka… perasaan ga sreg.. “kenapa kok saya diberi amanah ini” “mengapa saya di timkan dengan orang ini”… perasaan2 ini lah yang akan menggrogoti jama’ah kita, maka gigitlah keistiqomahan itu seperti akar pohon, sama seperti hudzaifah bertanya “ya rasulullah, bagaimana bila tidak istiqomah?” jawab rasul “gigitlah akar pohon” maksudnya tetap bertahan dalam jama’ah dan dalam naungan alqur’an dan sunnah.

*terinspirasi dari milis tetangga, semoga keberkahan menaungi kita semua