Arsip | Catatan Harian RSS for this section

(mencoba) ikhlas


Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

-antara karawang dan bekasi (Chairil Anwar)

ada jalan terjal, panjang, dan sunyi. juga ada jalan indah, singkat dan penuh riuh.

para pahlawan mungkin tak peduli bagaimana sulitnya perjalanan, sakitnya perjuangan. ia hanya memikirkan jalan mana yang akan menyelamatkan ribuan nyawa. sampai lupa berapa derita, luka yang akan mendera.

bukan tepuk tangan. bukan selebrasi teriakan. bukan pula aneka macam hidangan. secara manusiawi ia butuh, bahkan sangat butuh untuk membangkitkan semangatnya.

tapi jalan kesunyian, pengorbanan, dan cinta yang ia pilih. ia sadar, semua yang tak murni akan mudah hilang. semua yang dibanggakan takkan dibawa pulang.

hanya satu hal yang bisa membuatnya tetap seperti itu. ikhlas

berat? memang

sanggup? tak yakin

tapi ia terus berjalan. sampai catatan kebaikannya dipenuhi dengan kata mencoba. mencoba untuk ikhlas.

Tegal.31.08.20 – 05.30

Jeda


Tak ada jeda antara malam dan senja.

Seperti tak ada jeda antara kau dan do’a

Tegal.30.08.20

festivalisasi


saya termasuk yang kurang begitu menyukai festivalisasi. membangga-banggakan diri atas kerja, karya, hasil yang sebenarnya minim effort.

loh bukannya itu penting untuk mengapresiasi diri?

bukan… bukan itu maksudnya.

apresiasi tetap penting. perlu.

mensyukuri hasil sebagai buah dari usaha dan pertolonganNya.

yang dimaksud festivalisasi disini adalah; membuat kerja kecil nampak seolah besar, menjadikan proses ringan nampak lebih berbobot, melakukan hal biasa nampak luar biasa, di saat yang bersamaan hal tersebut dilakukan untuk menutupi ketidakmampuannya mengerjakan sesuatu yang justru menjadi inti masalahnya.

Tegal.29.08.20

Menyalahkan Orang Lain


salah satu cara yang biasa digunakan oleh sesorang yang sering berbuat salah, adalah dia selalu menyalahkan orang lain.

membuat gemuruh. gaduh. dan segala cara ditempuh.

padahal….

itu hanya untuk menutupi bahwa dia tidak mampu.

~ ada dalam draft yang entah kapan dan dalam kondisi apa ditulis.

W.H.Y


mengapa? apa? bagaimana? berapa? siapa? kapan?

itulah beberapa kata tanya yang sering kita dengar. sebuah tanya untuk mendapat kepuasan atas keingintahuan kita. bahkan, untuk membuat sebuah proposal sederhanapun kita harus memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. membuat proposal bisnis, skripsi, sampai proposal nikah juga harus disusun sampai menemukan jawaban atas tanda tanya yang dibuat.

dari beberapa jenis pertanyaan tersebut, ada satu yang paling penting untuk terjawab dan menjadi landasan untuk kita melangkah ke tahap-tahap selanjutnya. “mengapa?”

Mengapa? Kata ini menjadi penting untuk dijawab terlebih dahulu karena inilah alasan terkuat bagi kita untuk mengerjakan sesuatu.

Ketika memulai sesuatu tanpa alasan yang jelas, biasanya pekerjaan tersebut akan dijalankan seperti robot, kaku, hanya sekedar rutinitas, tanpa ruh, tanpa nilai, tanpa orientasi mengapa harus dikerjakan.

apakah hanya sekedar taklid, ikut-ikutan, terpaksa, pasrah, atau cari muka?

sering kita melihat banyak dari saudara-saudara kita yang baru masuk diin ini, atau baru hijrah, justru ghirah nya jauh lebih besar, jauh lebih kuat dibandingkan dengan kita yang sudah sejak lahir mengikuti agama orang tua, Islam KTP. Karena mereka paham mengapa harus memeluk islam, mengapa harus menyembah Allah, mengapa harus ibadah ini itu, dan lain sebagainya.

bukan sekedar masuk sekolah madrasah, ikut TPA, lanjut pesantren, tapi semua terpaksa. tanpa penjelasan dan pemahaman yang kuat.

alhasil, pelajaran-pelajaran agama hanya sambil lalu saja, mengisi otak tanpa masuk ke hati, dan berbuah menjadi akhlak.

karena itulah, al fahmu menjadi penting. paham terhadap semua yang dikerjakannya. lurus niatnya. kuat landasannya. kokoh semangatnya, dan jelas orientasinya.

dalam beberapa aspek, saya menyadari banyak sekali aktivitas yang dulu dikerjakan tanpa pemahaman, mengapa harus belajar ini, mengapa harus mengerti itu. semua hanya diikuti untuk mengejar sebuah titel, juara kelas. lalu setelah itu? …….

perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadari dan menemukan “why factor” dari segala aktivitas kita dimasa lalu. belajar sejarah misalnya, dulu kita menghafal tahun-tahun dimana perang ini itu terjadi, siapa tokohnya, dimana lokasinya, tahun berapa kejadiannya. lalu? tidak memberikan dampak signifikan bagi kita dalam membaca peristiwa di balik sejarah tersebut. apa maknanya, ibroh apa yang bisa dipetik, dan keterkaitannya dengan rangkaian peristiwa yang terjadi.

kalau seandainya sebelum belajar sejarah tersebut, kita sudah mengetahui “mengapa” harus belajar sejarah, rasanya akan jauh lebih mudah memahami tanpa perlu banyak menghafal. pun begitu juga dengan pelajaran-pelajaran lainnya.

sebuah aktivitas tanpa diawali dengan niat yang benar, maka setiap langkah yang dilalui terasa hampa, hanya mengikuti jejak waktu dalam lorong-lorong peristiwa yang tak bisa dikendalikan.

karena itu, mulailah sesuatu dengan pemahaman yang utuh, mengapa harus dikerjakan, mengapa dengan langkah ini, mengapa bukan dengan cara itu, dan seterusnya.

pun begitu juga, jika ingin memberikan statemen, kebijakan, arahan, berilah pemahaman kepada yang kita tuju, agar mereka memahami dengan utuh mengapa hal tersebut harus dilakukan. Jika ada yang bertanya, mengoreksi, sebenarnya itu bukan sikap skeptis, tapi itu adalah proses untuk menemukan ghirah yang kuat untuk menjalankannya.

Tegal.28.08.20

Helicopter View & Farmer View


Seringkali kita membanding-bandingkan, mana yang lebih baik antara orang yang punya pandangan luas namun tidak paham detail dengan orang yang paham detail namun tidak memiliki pandangan luas.

Orang yang berada di atas helicopter (pemilik ladang) akan melihat dengan sudut yang sangat luas. Ia bisa melihat dalam radius yang panjang dan mudah sekali berpindah tempat dari satu titik ke titik lain dalam waktu singkat.

Sementara disisi lain, orang yang ada di ladang (dalam hal ini petani), ia sehari-hari berjibaku dengan ladangnya. Padangannya sempit, sejauh mata memandang hanya hamparan padi yang tersusun rapi. Setiap jengkal yang dilalui ia tahu betul bagaimana kontur ladangnya, dimana posisi parit dan tanaman apa saja cocok bisa ditumpangsarikan disitu.

Masing-masing punya wilayah keahlian masing-masing, punya kapasitas dalam menilai baik buruk, cocok tidakcocok, mudah atau sulit, memungkinan atau mustahil.

Si pemilik ladang perlu mendengarkan apa kata petani yang sehari-hari memantau kondisi lahan, si petani juga harus mampu memahami dan menerima permintaan pemilik ladang. semua perlu dikomunikasikan. Dan yang terpenting, salahsatu pihak tidak merasa paling jumawa, paling paham atas segala kondisi yang ada.

Perlu ada kolaborasi antara semua petani dan pemilik ladang, demi kemajuan hasil panennya. Sekian.

Sampai Jumpa… Bandung


26 November:  hari dimana saya dikabari untuk mengemban amanah baru (a.k.a harus pindah). Pindah dari kota yang sudah menjadi bagian penting dalam perjalana hidup 3 tahun kebelakang. Bandung.

30 November: Dapat info resmi mengenai rencana awal rotasi via email. Tapi belum bisa memastikan dan menyampaikan ke teman-teman.

5 Desember: Dapat informasi lebih detail kapan dan apa yang harus disiapkan 1bulan kedepan.

8 Desember: Serasa waktu begitu cepat, meeting K3 terakhir dengan admin. dan untuk pertama kalinya saya sampaikan secara resmi ke teman-teman.

24 Desember: Handover dimulai.

2 Januari: Pamitan ke Cimuncang, tapi ga ada orang, huhu. dan hari itu juga dapat kabar mengejutkan bahwa tanggal 4 sudah harus ke luar kota untuk tugas perdana (Tj. Pinang). Rencana awal, baru akan pindah tanggal 6 jadi masih ada waktu utk pamitan ke tmn2. Untungnya sudah diagendakan jauh hari bahwa malam tgl 2 januari farewell dengan admin dan logistik. Foto Studio dan Makan-makan di Jonas Bubat. Dapat kenangan yang gak akan sy lupakan.

3 Januari: Hari terakhir bertugas di Bandung. huhu. Briefing terakhir. Tak kuasa menahan apa yang dirasa saat briefing. Menjadi momen paling cengeng saya di bandung. Pamit ke semua tim di Kopo, habis itu ritual penting. Foto-foto di Jonas Banda. Selesai, hrs kembali ke kopo menyelesaikan tugas terakhir. 17.15 pulang dengan kondisi belum menyiapkan apa-apa untuk berangkat ke jakarta.

Sampai rumah 17.45. Tiba-tiba bingung harus mulai darimana. Masih ada waktu kurang lebih 1.5 jam untuk prepare. Untungnya baju dan perlengkapan sudah disiapkan istri. Tinggal mengkondisikan Izzan supaya ga nangis ditinggal jauh dan lama. Ngajak ke warung dulu, beli cemilan kesukaannya. Yupi. Beli banyak sekalian biar ga rewel saat ditinggal. Sedih ga? Ga usah ditanya. Hanya hati yang bisa menjawabnya.

Tepat 19.45 berangkat dari rumah. Kereta pukul 20.50, Bandung-Jakarta. Alhamdulillah persis 20.46 menduduki kursi yang sudah dipesan. fiuuh… Perjalanan Cileunyi (rumah) sampai stasiun Bandung dikebut kurang dari 1 jam.

4 Januari: Pukul 01.30 dinihari tiba di Jakarta. Istrirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Tj. Pinang esok paginya.

Selesai sampai disini?

Pergolakan hati belum selesai, tapi takdir sudah berjalan. Semua harus diterima. Amanah harus dijalankan. Dan Perjalanan selanjutnya dari episode kehidupan ini akan dimulai di Jakarta. Mulai hari ini.

=====

Teruntuk teman-teman Paragonian Bandung. saya ga bisa mengungkapkan kata-kata panjang lebar lagi, akan terlalu mengulang kembali memori perpisahan kemarin :(. cukup satu kata buat kalian: “Terimakasih”.

Terimakasih sudah mengisi hari-hari 3 tahun terakhir saya di Bandung. Sampai jumpa kembali di lain waktu.

Buat istriku, izzan, harika. Sabar ya. Sebulan lagi insya Allah kita akan bersama-sama lagi.

Jakarta, 5 Januari 2019

img_20181225_070509

 

 

 

 

tak menyapa bukan berarti lupa


masa lalu adalah romantisme. masa depan adalah harapan.

melupakan masa lalu tidak mungkin. apalagi kembali ke masa lalu.

memang banyak kenangan, banyak keindahan, banyak kesukacitaan yang ingin diulang atau atau paling tidak bertemu berjuma aktor-aktor dibalik setiap kejadian masa lalu. mereka kini entah dimana, ada yang masih aktif di media sosial, juga ada yang hilang dari peredaraan jagad maya yang tak bisa ditelusuri berada dimana.

kini, kita punya waktu hanya saat ini dan masa depan. waktu kini yang pasti dan masa depan yang masih tertutup tabir sampai kapan akan dijalankan.

terimakasih untuk semua kenangan, setiap kebaikan, canda tawa, kehangatan untuk orang-orang yang pernah singgah dalam hidup saya sejak kecil hingga kini. do’a terbaik untuk kalian semua yang telah memberi arti bagi hidup saya.

tak menyapa bukan berarti lupa, hanya saja tak mengerti mulai dari mana. karena mungkin kalian sudah punya dunia sendiri.

 

Bandung.21.10.18

 

 

 

 

 

 

mengejar waktu


waktu begitu cepat berlalu.  entah karena selama ini ia tak dihargai, hingga perputarannya menyisakan penyesalan. atau karena perubahan-perubahan itu bergerak melaju tak diimbangi dengan kesiapan diri.

satu hal yang pasti, setiap waktu mengukirkan cerita. suka maupun duka. terkadang pahit di masanya, namun bisa menjadi pemanis kisah yang indah untuk dikenang.

waktu yang menjadi penanda pertemuan, ia juga yang megharuskan perpisahan. satu bulan, dua bulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun lamanya, ia hanya bisa bercerita lewat lembaran hitam putih dalam potret kehidupan.

meskipun tak bisa terjelaskan dengan pasti, apa rasa yang terkandung didalamnya. ada kerinduan, muncul kegelisahan.

jika waktu sudah berlalu pergi menjauh, sementara diri terdiam meratapi jejak langkah yang telah dilalui. maka langkah terbaik adalah memulai mengejar waktu itu.

mengejar tapak demi tapak jarak yang tertinggal, detik-demi detik jarum yang berputar.

hingga saatnya nanti kau bertemu waktu itu, jangan siakan. jangan lepaskan.

 

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

 

 

cengkerama


pagi ini baru selesai interview beberapa orang. dan interview merupakan tempat belajar dari orang lain. tempat bermuhasabah, evaluasi, mencuri info yang bisa dijadikan pelajaran untuk diri sendiri.

bahwa di tempat yang lain, orang lain, mungkin tidak seberuntung kita. bahwa ditempat lain bisa jadi ada orang-orang yang usahanya lebih keras namun tidak mendapatkan hasil “fisik” yang setara dengan kita.

terkadang, cerita-cerita bahkan curhatan seseorang bisa membuat kita belajar mensyukuri hidup. belajar untuk tidak kufur atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita.

dan pagi ini, saya belajar bahwa ada orang tua yang sudah selayaknya kita ingat jasa-jasanya. ada orang tua yang sudah lama tak melihat wajah anaknya. ada orang tua yang butuh bercengkrama dengan anaknya.

seseorang itu menangis, menitikkan air mata. ia yang kehidupannya tinggal bertiga dengan kedua orang tua. setelah kehilangan 2 adiknya yang meninggal. ternyata juga harus kehilangan waktu bercengkerama dengan kedua orang tuanya yang sama-sama bekerja. mencari nafkah kebutuhan keluarganya. hingga harus kehilangan kehangatan malam bersama kedua orang tua dan harus rela terlambat berangakat kerja karena pagi itu adalah satu-satunya waktu untuk bertemu mereka.

“iya, saya terlambat. karena kangen dengan orang tua. ingin bercengkerama dulu dengan mereka yang seharian bekerja.”

lalu

“pernah terbersit niat untuk menggantikan beban mereka?”

dan hening pun mengakhiri cengkerama pagi ini.

Bandung.03.10.16

 

 

 

Begini kalau sudah menikah?


sebuah teori antah berantah menyatakan, “semakin banyak populasi jomblo dalam grup WA, maka grup itu semakin aktif. Semakin sedikit populasi jomblo, grup WA cenderung sepi.”

dulu, ada teman yang rameee banget di grup WA, tiap apa aja yg muncul langsung dikomenin, eh setelah menikah tiba-tiba menghilang. jarang komentar lagi di grup.

dulu, ada teman yang rajin banget update status, hampir tiap aktifitasnya diupdate. lagi ngapain, mau apa, pergi kemana, dll. tapi setelah menikah, jarang lagi tuh bikin status-status fenomenal.

dulu, ada teman yang statusnya galau-galau, temanya tentang cinta terus. mengundang orang lain untuk komentar. setelah menikah, hmm.

coba deh perhatikan, ada gak yang seperti itu di lingkungan sekitarmu?

*sambil lihat cermin*

 

 

ngepo berujung perenungan


Salah satu cara mengingat masa lalu dan orang-prang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita adalah dengan kepo. Ngepoin medsosnya yang juga sama-sama sudah usang tak ada update-annya. Ah mungkin orang-orang juga sudah jenuh dengan medsos. Ada yang dulunya aktif mendsos , ngeblog, twitteran, fb-an, instagraman pas zaman waktu masih di kampus. Tapi sekarang dunia seperti sudah berubah. (termasuk ngelirik diri sendiri).

Dulu, ketika awal fb booming, hampir tiap hari ada yang update status, tiap jam bahkan, eh bahkan 5 menit sekali ‘nyetatus’. Pas twitter booming juga sama, sampe bikin kultwit panjang dengan hestek khas yang mengundang orang untuk kepo lebih lanjut. Namun sekarang, entah sayanya yang kurang update apa  gimana ya, makin kesini makin sepi medsosnya. hoho.

Termasuk blog ini yang ga keurus sama sekali. Dulu mah tiap malem nongkrongin laptop. Entah sekedar bikin coretcoretan yang ga jelas, atau sekedar update -update yang ga jelas juga sih.

Eh balik lagi ke awal kalimat di atas, jadi dg membuka-buka kembali ‘aktivitas’ di medsos yang lama udah ga kepake kita bisa jadi termotivasi. si ini sekarang udah dimana, udahjadi apa, udah punya anak berapa #eh, udah punya bisnis apa, udah kemana-mana dan udah-udahan yang lainnya.

… akhirnya kepo pun berujung perenungan.

dan saya, udah jadi ‘apa’ sekarang?

 

Bandung.15.03.16

 

 

 

 

 

Hormati yang tidak puasa


sering terdengar di telinga, atau bertebaran di media-media sosial ketika Ramadhan tiba,

“Hormatilah yang tidak puasa.”

“jangan karena ibadahmu, mereka yang tidak puasa sulit mencari warung makan, bla-bla-bla.”

bahkan mereka yang bilang seperti itu adalah dari kalangan kita sendiri yang sudah tersuap dollar dan beasiswa.

Lalu sekarang, di Desember ini, masih lantangkah mereka berkata yang serupa?

Mungkin harta dan asupan diperutnya sudah membutakan hati mereka!

 

 

Kabar Baik


Dua pekan terakhir ini lagi iseng-iseng nge-japri beberapa teman kuliah dulu. Entah kebetulan atau tidak, ternyata 3 dari 4 orang yang di japri Januari besok mau nikah.. awalnya hanya iseng-iseng menyapa ternyata berujung pada sebuah kabar baik.

“insya Allah, ane nikah januari besok.”

“iya, ane lg proses.”

“iya, ini lagi bikin undangan, minggu depan launchingnya.”

“sst.. jangan sebar ke teman-teman dulu ya. :D”

 

barakallahu lakum….. DKI, DIY dan NTT

 

 

kembali


sudah memasuki bulan Desember, dan tiga bulan sudah tak menyapa tempat ini. bergelimpangan rasa yang tercecer entah tak beraturan hingga tak sempat untuk menatanya kembali dalam barisan tuts tuts hitam yang berjajar setiap hari. Padahal ianya selalu dijumpai, namun tak sempat lagi menuliskan yang menjadi bisikan suara hati.

satu tahun lalu, di bulan ini, adalah hari-hari penantian yang mengaduk-aduk rasa tak henti bergoncangan. antara harap, cemas, bahagia, takut, dan semuanya tiba-tiba semakin mendekati. aku hari ini, bukanlah aku tahun lalu. karena kini tak ada aku lagi dalam keseharianku. ia bersama menjadi kita dalam mengarungi samuderaluas penuh gelombang uji dan terpaan badai yang sewaktu-waktu datang menghadang. kita yang bersama-sama menarik ulur biduk bahtera ini menuju ujung penantian indah bernama syurga.

semoga kita selalu bersama… selamanya.

============

dan akupun kini bahagia mendengar kabar dari seorang di barat Jakarta sana sedang mempersiapkan hari bahagianya di 3 Januari nanti. Barakallahulakum.

 

 

160 hari


tadi malam…. terakhir saya menyupirinya di kota ini.

tadi malam…. terakhir saya terpejamkan mata berada di sampingnya di kota ini.

tadi malam…. terakhir makan soto bersamanya di kota ini.

tadi pagi…. terakhir saya dibangunkan subuhnya di kota ini.

kota ini istimewa bukan karena seribu sungainya, bukan karena rawanya, bukan karena intan permatanya, bukan pula hiruk pikuk orang berjualan di atas airnya. kota ini istimewa karena ada dia. karena bersamanya. di kota ini.

kota yang menjadi tempat singgah pertama kami dalam rantauan.

28 Desember 2014 – 5 Juni 2015

monolog


siang tadi perjalanan darat Banjarmasin-Hulu Sungai hampir 5 jam, diselimuti mendung dan hujan lebat sepanjang perjalanan.

padahal sudah hampir lebih dari dua bulan kota ini tak diguyur hujan. belum pernah selama dan sederas ini.

dalam hati, akupun bertanya: “wahai langit, mengertikah kau dengan yang ku rasa hari ini?”

 

Hulu Sungai, 7.11.14

23.55 WITA

maaf dengan sangat


kalau boleh diungkapkan hari ini, saya ungkapkan dengan segera hari ini juga. tapi, waktu belum mengizinkannya.

terimakasih atas pengingat dan nasehatnya. maaf dengan sangat.

kita sama-sama menjaga agar ia tidak menguap sebelum waktunya.

 

Hulu Sungai, 7.11.14

Terimakasih sudah menjaganya…


Terimakasih sudah menerimanya… Terimakasih sudah bersedia menjaganya… dan Terimakasih atas kepercayaannya.

senantiasa melangitkan do’a-do’a agar berkahNya menaungi kita semua.

 

Banjarmasin.29.10.14

 

 

 

dua kemungkinan


Lagi males nulis, kemungkinan cuma dua.

memang lagi males beneran atau pesan nya sudah tersampaikan lewat media lain? #eh