beban


seseorang merasa terbebani bukan karena tugas itu berat, tapi karena ia tak merasa memiliki atas apa yang dikerjakannya dan tidak merasakan kepentingan atas hasil yang diperoleh.

Saat seseorang jatuh cinta, biasanya ia akan mengerjakan segala sesuatu agar orang yang dicintainya bahagia. Ia melakukan apa saja meski kadang diluar batas kemampuannya. Apapun yang diminta akan segera direspon. Dipenuhi permintaanya dengan semangat dan dilalui sebesar apapun hambatan yang akan menimpanya. Seberat atau sebesar apapun itu

Bekerja, beribadah dan melakukan rutinitas harian lainnya bisa menjadi sebuah kebahagian atau justru sebaliknya, menjadi beban. Bangun pagi, masuk kerja tepat waktu, mengerjakan tugas, bisa dilakukan dengan ringan maupun berat tergantung seberapa paham ia akan manfaat yang diperolehnya. Apakah itu untuk kepentingan orang lain, perusahaan atau untuk dirinya sendiri. Sedekah, sholat, tilawah dan beragam amal baik lainnya pun seperti itu. Apakah ia merasa manfaat ibadah tersebut untuk Allah atau untuk dirinya sendiri. Naik turunnya iman, rutin jarangnya amal sama sekali tidak mempengaruhi kebesaranNya. Justru manusialah yang sesungguhnya berkepentingan untuk merasakan manfaat dari amal kebaikannya.

Tidak ada tugas yang berat, yang ada adalah cinta yang belum cukup.

Cintalah yang menghilangkan beban. Cintalah pula yang menghilangkan keberatan. Jika seseorang sudah mencintai pekerjaanya, tenaga dan waktupun dikorbankan asal tugasnya selesai. Tanpa pamrih, tanpa mengharap imbalan.

Selain itu, ada satu hal yang membuat pekerjaan akan terasa lebih ringan, yaitu rasa memiliki atas pekerjaan tersebut. Ia paham betul mengapa harus dikerjakan. Apa dampaknya jika diabaikan dan apa resikonya jika tak diselesaikan. Why factor ini penting untuk dipahami lebih dulu sebelum mengerjakan segala sesuatu.

Mencintai dan memahami. Adalah kata kunci untuk menjadikan beban seolah-olah hanya riak-riak kecil yang menemani setiap perjalanan kita. Ia ada, tampak nyata. Namun tak boleh menjadi penghambat bagi kita untuk terus melangkah. Bukan justru jatuh, mengeluh dan berhenti.

Beban yang menggunung, tugas yang menumpuk, amanah yang besar akan bisa dilalui dan diselesaikan dengan baik sepanjang kita meyakini bahwa para pemikul beban akan merengkuh manisnya perjuangan dari waktu, tenaga dan pikiran yang telah dikorbankan.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Q.S 2:286)

#CHSI #CatatanHarianSelepasIsya

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: