Transformasi


Kita bisa membuat rencana apapun, pada akhirnya Allah yang menentukan jalannya.

Jika saat ini kita ditugaskan disebuah unit pekerjaan, ada satu hal yang harus selalu kita pahami, yaitu memahami keadaan, situasi dan tantangan-tantangan yang ada di unit tersebut. Memahami dengan melakukan analisa SWOT merupakan salahsatu metode untuk mengetahui keadaan unit dimana kita ditempatkan dan apa saja yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya. Selain itu, ada banyak metode yang bisa dilakukan, misal analisis fishbone, RCPS (Root Cause Problem Solving), dan lain-lain.

beberapa pertanyaan mendasar harus terjawab setelah melakukan analisa tersebut, diantaranya untuk apa kita berada di tempat tersebut, apa pesan terbesar yang diharapkan oleh penugas kepada kita. kenapa bisa ditempatkan disitu? dan lain sebagainya.

ingat, bahwa jika kita ditugasi disebuah unit yang tidak terlalu baik kondisinya, bisa jadi ada harapan dari pemberi tugas untuk kita yang memperbaikinya. dengan cara apa? tentu cara yang berbeda dengan yang sudah dilakukan sebelumnya. karena, untuk mendapatkan hasil berbeda, harus dilakukan dengan cara yang berbeda pula.

jangan mengatakan “saya akan meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu saya” namun berkatalah “saya akan melakukan perbaikan atas yang sudah dilakukan oleh pendahulu saya“.

Setiap mendapat penugasan, tugas pertama yang harus dilakukan seorang leader adalah melakukan transformasi, melakukan perubahan. Kenapa kita harus bertransformasi?

Pertama, lingkungan kerja berubah setiap waktu. setiap mas ada tantangan dan masalahnya sendiri. masalah hari ini tentu akan berbeda bahkan bertambah dikemudian hari. jika tak ada antisipasi dan solusi atas masalah-masalah yang muncul, bisa dipastikan hari-hari akan dilewati dengan tumpukan masalah menggunung yang menyita banyak waktu untuk diselesaikan.

Kedua, Dibutuhkan cara berbeda untuk menghasilkan yang berbeda. Seperti kata einstein, “hanya orang gila yang berharap hasil berbeda dengan mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama”

Ketiga, selalu ada ruang perbaikan yang memungkinkan untuk terus memperbaiki keadaan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11)

Yang survive bukan yang paling pintar, bukan paling besar, bukan paling kuat. Namun yang bisa survive adalah yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang berubah. Karena itu melakukan transformasi atau perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kapanpun dan dimanapun kita berada.

The largest room in the world is room for improvement.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: