Archive | April 2020

hari ke-5


ini bukan tentang menghitung sudah berapa lama kita puasa, sudah berapa banyak tarawih di masjid, atau berapa kali memburu takjil.

ini tentang perpisahan sementara. berpisah dengan kebersamaan. berpisah dengan kenyaman. berpisah dengan keseharian bersama keluarga lengkap.

tapi ada satu perpisahan yang tidak boleh terjadi. berpisah dari asa rahmatNya.

selalu sabar, ikhlas dan memohon ampun atas yang terjadi di permulaan ramadhan tahun ini, semoga kita semua kembali dipertemukan, dibersamakan kembali di rumah.

 

semangat bunda…

Blame, Excuse, Denial


Salah satu penyakit yang sering muncul dalam dunia organisasi, entah itu dalam lingkup organisasi massa, komunitas bahkan perusahaan yaitu BED. Blaming, Excuse dan Denial. Tiga penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Kenapa disebut menyerang? karena mungkin saja tanpa sadar, seseorang yang menganggap dirinya terbebas dari sifat tersebut, ternyata melekat pada dirinya hal-hal negatif itu.

Pertama, Blaming: Selalu menyalahkan.

Cari aman. Cari muka. Cari Penghargaan. Begitulan ciri-cirinya, enggan disalahakan tapi sering menyalahkan. Mirip seperti orang main pingpong, jika dilempar bola, langsung dilempar ke lawannya. Jika mendapat suatu masalah langsung menyalahkan orang lain atas masalah tersebut. Cuci tangan? iya.Β  Namun, bila ada penghargaan, apresiasi, ia menjadi yang terdepat mengakuinya.

Kedua, Excuse: Cari-cari alasan.

Menghindar bila disalahkan, menyiapkan berbagai alasan jika ada kesalahn yang dilakukan atau yang disebabkan oleh dirinya. Tidak mau mengakui jika ada kekurangan, seolah ingin terlihat sempurna di depan, namun pada hakikatnya banyak kekurangan di belakang. Pecundang? iya.

Ketiga, Denial: Menolak, Menyangkal.

Jika diberikan arahan tidak sesuai dengan arahan. Diberikan nasehat tidak terima. Merasa diri paling berhak memberikan ide, bukan diberikan ide. Merasa diri punya kapasitas lebih, namun tdk pernah menerima masukan dari orang lain. Tinggi hati? iya.

Helicopter View & Farmer View


Seringkali kita membanding-bandingkan, mana yang lebih baik antara orang yang punya pandangan luas namun tidak paham detail dengan orang yang paham detail namun tidak memiliki pandangan luas.

Orang yang berada di atas helicopter (pemilik ladang) akan melihat dengan sudut yang sangat luas. Ia bisa melihat dalam radius yang panjang dan mudah sekali berpindah tempat dari satu titik ke titik lain dalam waktu singkat.

Sementara disisi lain, orang yang ada di ladang (dalam hal ini petani), ia sehari-hari berjibaku dengan ladangnya. Padangannya sempit, sejauh mata memandang hanya hamparan padi yang tersusun rapi. Setiap jengkal yang dilalui ia tahu betul bagaimana kontur ladangnya, dimana posisi parit dan tanaman apa saja cocok bisa ditumpangsarikan disitu.

Masing-masing punya wilayah keahlian masing-masing, punya kapasitas dalam menilai baik buruk, cocok tidakcocok, mudah atau sulit, memungkinan atau mustahil.

Si pemilik ladang perlu mendengarkan apa kata petani yang sehari-hari memantau kondisi lahan, si petani juga harus mampu memahami dan menerima permintaan pemilik ladang. semua perlu dikomunikasikan. Dan yang terpenting, salahsatu pihak tidak merasa paling jumawa, paling paham atas segala kondisi yang ada.

Perlu ada kolaborasi antara semua petani dan pemilik ladang, demi kemajuan hasil panennya. Sekian.