Archive | September 2014

menunggu dua purnama


malam ini menatap langit.. bulan sabit, meski hanya seperempat utuhnya, namun tetap terang.

dan akupun berkata padanya:

“aku menunggu dua purnama mu, bersabarlah.”

Banjarmasin. 30 September 2014

 

#random


saya termasuk yang telat pakai WA, baru mulai pakai April 2013.. awalnya sepi bgt, karena kontak selama di kampus hilang semua. otomatis kontak yang saya punya hanya tmn2 yang saya hubungi dan menghubungi saya setelah lulus. padahal justru kontak terbanyak itu semasa di kampus. -_-

makin ke sini, grup yang ada makin banyak. entah grup angkatan, jurusan, lembaga, dan komunitas-komunitas lainnya. sebetulnya agak males dengan grup yang banyak. selain karena hp sering nge-hang dan nggak sering baca-baca isi grup pengennya left. Tapi sejauh ini saya berusaha tidak akan pernah left grup kecuali di keluarkan 🙂 karena pasti mereka yang meng-invite tujuannya baik, untuk menjaga silaturahim.

kadang ada grup yang progressif banget, baru ditinggal beberapa menit, notifnya udah ratusan. Karena setiap buka udah ganti topik, dan ini yang biasanya paling males untuk saya ikutin. *no offense* mood-moodan sih.. tergantung kondisi.

kadang kalau lagi banyak kerjaan sampe sehari gak dibuka, kadang kalau lg selo, cukup lihat notifnya aja. dan lama-lama saya juga malu kalau justru lebih sering buka wa daripada baca buku yang bermanfaat apalagi baca qur’an.

memang sih seharusnya anggap aja wa  itu sebagai hiburan. hanya senda gurau untuk sekedar melihat senyum teman2, meski hanya merupa emoticon.

dari 30 grup exist non kantor dan 3 grup kantor yang ada, paling yang sering diikutin cuma 6 grup, kalau grup kantor wajib diikutin. sisanya hanya melihat notifikasi dan percakapan yang ada dalam grup itu. bukan karena males komen yah (tapi sebenernya males juga sih). hehe

Selamat ya Bu Penny


1901608_10202953768950084_834287060864487514_n

Selamat ya bu.. semoga IC tambah sukses.

*guru biologi terkeren yang pernah saya temui 🙂

Dzulhijjah dan Amal Soleh di Dalamnya


Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Jum’at besok kita akan menyambut 1 Zulhijjah 1435 H. Bulan terakhir di tahun 1435 ini. Bulan yang terdapat 10 hari istimewa  yang malam (al fajr:2) dan siangnya penuh berkah (al Hajj: 28). semoga menjadi momentum bagi kita untuk menyembelih sifat kebinatangan yang selama ini masih melekat menggerogoti amal-amal kita.

 

 

Selamat Milad IC yang ke-18


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203873843558678&set=a.3667131729084.145095.1598521776&type=1

Foto di ambil dari fb pak Away  Tampak dalam gambar, suasana milad yang amat sangat sederhana sekali, Dr. Suwardi menyerahkan sejumput nasi tumpeng kepada Bu Persahini Sidik…

kalau lihat mereka jadi ingin kembali merasakan indahnya masa-masa SMA #eh MAN 🙂

 

jam 04.30-05.00: shalat subuh + asmaul husna + tilawah. Hitungan poin 4 dimulai….. petugas keliling kamar mencari siapa saja yg ngumpet di lemari, di balkon, di kolong tempat tidur atau bahkan yang pura-pura sakit.

jam 05.00-06.00: antri di kantin + makan + mandi atau pola siswa tipe ke-2 : mandi +antri di kantin +makan

jam 06.00-06.30: beres-beres kamar (tapi jarang deh)

jam 06.30: panggilan apel menggema….. poin 4 kembali menghantui.

jam 06.45: udah rapi baris per angkatan. yang cowok di depan gedung F, yang cewek samping kantin. biasanya ada pengumuman kamar terbersih dan terkotor.  kalau pas kyk gini biasanya apel digabung cewek-cowok biar yg cowok pada malu pas namanya dipanggil 🙂

jam 06.50: pemberangkatan di mulai, kejar-kejaran antara barisan cewek dan cowok. siapa cepat masuk kelas dia yang bebas pilih kursi. yang cowok lewat jalur timur, cewek lewat jalur barat.

jam 07.00-07.15: tilawah

jam 07.15-09.30: hening

jam  09.30-10.00: istirahat, ada yang ke perpus, ke kantin, ke masjid, ke poliklinik sekedar ngukur berat dan mengoleksi vitamin C  dan…… ke asrama (yang ini terlarang sebenarnya)

jam 10.00-12.00: hening

jam 12.00-12.30: sholat zuhur + tausiyah + diiringi dengan dengkuran siang hari

jam 12.30-13.00: antri di kantin + makan siang (plus ada lempar-lemparan gelas dan sendok). duduk satu meja dengan sesama anak gurah. satu gurah (guru asuh)  ada sekitar 10 orang

jam 13.00-15.30: hening

jam 15.30: sholat ashar

jam 16.00-18.00: pilihan (rapat acara+basket+bola+perpus+kantin+suplemen), tapi kalau udah kelas XII pilihannya cuma 1: PEMANTAPAN

jam 18.00: shalat maghrib + asmaul husna +tilawah.

jam 18.30-19.30: antri di kantin + makan malam

jam 19.30: shalat isya

jam 20.00: Muhadhoroh, Kajian Tematik, BINTEK, pelajaran tambahan, ngerjain PR dan lain-lain

jam 22.00: kehidupan asrama yg sebenarnya di mulai 😀

——————————————————————————–

Berkah waktu


Bukan amanah yang dikurangi, tapi pengorbanan yang ditingkatkan.

Apa yang dimaksud dengan berkah waktu? bisa melakukan banyak hal dalam waktu sedikit, itulah berkah waktu. Dengan alQur’an membuat kita mudah mengefektifkan waktu. Bukan kita yang mengatur waktu, melainkan Allah.

Padahal teorinya orang yang yang membaca alQur’an menghabiskan banyak waktu dan mengurangi jatah aktivitas lain. Tapi Allah yang membuat waktu menjadi berkah, hingga menjadi begitu efektif. Dan Allah akan mencurahkan banyak berkah kebaikan pada kita karena alQur’an.

Majalah Pondok Qur’an

Catatan Untuk Diri Sendiri


Sekarang ini jalan satu-satunya adalah mendekat pada Allah. Meminta untuk diistiqomahkan rasa ini. Memohon ada kebaikan yang berlimpah dari tiap kesabaran yang diperjuangkan.

Mungkin apa yang kita rasakan saat ini sama; cemas, khawatir dan kumpulan-kumpulan rasa lainnya yg membuat diri tidak tenang. Saling mendo’akan agar Allah memberi kekuatan untuk menghadapi semua ini.

Catatan Untuk Diri Sendiri.

Esensi Qurban | Ustadz @bachtiarnasir


kita semua adalah sekumpulan orang-orang hina dan penuh salah di hadapan Allah ‘azza wajalla. Kita semua adalah sekumpulan orang yang memilik potensi kebinatangan diri, yang kadang menang melawan kebinatangan itu, namun kadang juga mengalami kekalahan.

lalu, predikat hamba-hamba yang terbaik kalau sudah bisa menyembelih sifat ‘kebinatangan’ yang ada dalam diri.

 

cinta dan rindu


cinta bisa melahirkan ketenangan, namun rindu kadang menimbulkan kecemasan.

sebab rindu dalam cinta adalah sekumpulan rasa cemas yang dipagari oleh untaian do’a-do’a.

 

Rindu kepada orang tercinta setelah perjumpaan akan lebih bertambah. Sebab, kerinduan yang pertama hanyalah sekedar berita dan tak nyata (terselubung). Namun ketika telah nyata dan terealisasi, melihat betapa indah dan agungnya yang dicinta, maka bertambahlah kerinduan mereka kepadanya karena telah bersamanya. #Tarbawi302

keranda di persimpangan akhir


subuh tadi, ketika melewati rumah-rumah warga, ada satu pemandangan yang membuat bulu kuduk saya merinding. seperangkat keranda jenazah teronggok di depan rumah warga, persis di pinggir jalan. merinding bukan karena iseng  suasana masih gelap dan sepi, tapi bertanya-tanya: “untuk siapakah keranda itu?”

pada suatu hari nanti, bahkan mungkin amat dekat, keranda itu pasti akan digunakan untuk mengantar seorang manusia menuju tempat peristirahatan terakhirnya. bisa mereka yang berusia senja, atau bahkan anak muda seperti saya ini. karena kematian tak mengenal usia ketika menghampiri. ada waktu yang berbatas pada masa kita singgah di dunia.

ketika persinggahan itu hanya sementara, lalu kenapa saya dan banyak manusia ini sering terperdaya dunia, terlena dengan segala kenikmatan fananya. pun seharusnya saya menyadari bahwa tak lama lagi harus segera meninggalkan tempat ini. berusaha menjadi penyintas yang baik dalam gubuk persinggahan bernama dunia. berharap semoga masih ada waktu yang tersisa untuk memperbaiki khilaf yang selama ini sering dilakukan. berharap ada jalan hidayah dalam menapaki sesisa waktu yang ada ada, agar tak seperti ‘butiran debu’-nya Rija Abbas: “aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.”

kembali pulang. mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita perbuat. meninggalkan banyak catatan, entah kebaikan atau keburukan. di sisa waktu ini masih ada kesempatan untuk mempersembahkan yang terbaik. gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan kebaikan-kebaikan yang terus mengalir. Sudahkah kita mempersiapkan itu semuanya?

15.09.14

 

 

Karunia rasa


Jika hati adalah semacam media perekam, maka di sanalah tersimpan berbagai relasi sosial. Kita sering menyebutnya sebagai kenangan, yakni gambaran suasana di masa yang telah berjalan, berapapun batas waktunya.

Begitu banyak karunia rasa ditanam Allah SWT dalam diri manusia sebagai bukti sempurnanya kita diciptakan; yang dengannya kehidupan ini terasa selalu menghadirkan sensasi dan menjadi lebih indah; yang dengannya jiwa kita selalu menemukan semangatnya untuk menjalani kehidupan, termotivasi melakukan yang terbaik, bergerak dan berbuat yang maksimal untuk berbagai macam tujuan.


Salah satu karunia itu rasa rindu. Ya, rasa rindu; sebuah rasa yang menurut ulama merupakan turunan dari rasa cinta. Seperti Imam Al Ghazali rahimahullah yang menjelaskan, “Sesungguhnya cinta kepada Allah adalah batas tertinggi dari tempat berdiri dan puncak tertinggi dari derajat. Tidak ada kedudukan setelah cinta sekedar buah dari buah-buahnya, dan turunan dari turunan-turunannya, seperti rindu, rasa senang dan ridha.”

#Tarbawi302

Maaf :(


Yaa Allah… maafkan hamba yang sering tdk merespon sms. Padahal itu sms penting….

maafkan hamba yaa Rabb…. :(((

T.T

*setelah ngecek inbox ternyata ada belasan sms penting yg nggak dibales…. T.T

tentang rasa


aku menyebutnya bertumbuhan. karena ia tumbuh secara tiba-tiba, dalam jumlah yang banyak.

senja.09.09.14

Agar Allah Ridho ~


sebuah nasihat dari guru kami:

“…lebih dekatkan diri kepadaNya, agar Allah ridho dengan semua ini.”

 

kita berharap ada kebaikan yang terus mengalir. karena hari-hari ke depan mungkin akan terasa lebih berat.

Ya Rabb… jagalah kami untuk senantiasa beradaada dalam lindungan dan kasihsayangMu.