Archive | Agustus 2011

#13 Ramadhan: Ujian kapasitas dan kesabaran dalam menikmati setiap prosesnya…


Di sebuah mushola  saat TPA menjelang berbuka seorang anak bertanya, “kak, an-Nahl itu artinya apa?”

“Hmm, an-Nahl itu artinya lebah.”

Saat, masih ada gurat-gura kebingungan dalam wajahnya, kakaknya pun segera melanjutkan, “Lebah itu adalah sejenis serangga yang bisa menghasilkan madu dek.”

“Owwh….”

Sang anak usia 4 tahun yang ingin informasi tentang lebah, ternyata ‘hanya’ cukup diberi informasi mengenai lebah dalam penjelasan yang sederhana. Ia tak diberikan penjelasan mengenai apa fungsi dan manfaat lebah dalam tataran ilmiaah, nama ilmiahnya apa, apakah temasuk jenis serangga??????.”

Mungkin ia tak memerlukan penjelasan seperti:                       

“Lebah Adalah sejenis hewan serangga Hymenoptera (serangga bersayap selaput) dan termasuk ke dalam suku/familia Apidae. Ia mempunyai tiga pasang dan dua pasang sayap. Makanan sehari-harinya adalah nectar bunga dan serbuk sari.”

“Dalam menjalani metamormosisnya, lebah termasuk kategori serangga holometabola. Adek tahu apa artinya holometabola nggak?”

“Holometabola itu proses perubahan bentuk lebah yang terbagi menjadi 4 tahap, pertama telur, kedua larva, ketiga pupa (kepompong), dan terakhir imago.”

Sang anak, mungkin tak perlu penjelasan penjang lebar mengenai apa itu Hymenoptera, apa itu Apidae, apa itu Holometabola, apa itu pupa, apa itu imago dan lain sebagainya. Ia cukup diberitahu bahwa lebah adalah sejenis serangga penghasil lebah.

Informasi-informasi tambahan,  mengenai sesuatu yang lebih detail tentang lebah, mengenai proses perkembangbiakannya, mengenai familinya serta penamaan ilmiahnya belum saatnya untuk disampaikan kepada anak-anak usia 4 tahun. Mereka belum butuh informasi itu.

Kalaupuna ada pernyataan, “Lha kan  lebih baik disampaikan saja, toh itu adalah ilmu kok.”

Pertanyaannya adalah apakah urgent untuk disampaikan pada anak-anak. Memori mereka masih harus banyak digunakan untuk merekam dunia anak-anak yang penuh keceriaan dan keluguan, bukan dibebani dengan informasi ‘para ilmuan’ yang memberatkan. Toh, nanti juga dalam perjalanan menuju kedewasaa, sang anak akan terus belajar dan mendapat informasi yang lebih detail mengenai sesuatul.

Sebagai contoh, kita tak perlu menjelaskan berapa harta kekayaan Negara yang di salah gunakan oleh Nazaruddin, tokoh yang sering muncu di layar kaca saat ini. Kita belum saatnya menjelasakan unsur politik dalam permasalahan tersebut. Kita hanya perlu menjelaskan kepada anak-anak bahwa nazaruddin adalah seorang koruptor. Dan Mengambil uang Negara untuk kepentingan pribadi itu adalah perbuatan tercela.

Penjelasan kita, pada seorang balita, pada seorang anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua akan berbeda. Tergantung bagaimana kapasitas lawan bicara kita. Memilah dan  memilih bahasa penyampaian informasi bukan berarti merahasiakan informasi tersebut kepada orang yang kita ajak bicara. Hanya saja, pembatasan informasi yang disampaikan dalam tataran apakah si objek penerima informasi itu akan menerimanya dengan baik atau hanya sambil lalu saj informasi itu terbuah percuma karena dipaksa memenuhi ruang-ruang memori yang belum saatnya dipergunakan olehnya.

Ada sebuah parameter yang berpengaruh untuk menentukan seberapa jauh informasi kita berikan pada orang lain, yaitu kapasitas.  Mungkin tak ada ukuran secara mendetail bagaimana menilai kapasitas seseorang, kita hanya bisa menilai secara global saja apakah kapasitasnya sudah memenuhi syarat untuk menerima sebuah informasi atau belum .Dalam bahasa sederhananya, apakah orang tersebut sudah layak menerima informasi yang akan kita berikan.

Banyak orang yang menuntut untuk diberikan informasi-informasi penting tentang sebuah ‘rahasia’. Akan tetapi tak mengimbanginya dengan meningkatkan kapasitasa atau kelayakan dalam dirinya. Ia hanya ingin,“pokoknya saya mau tahu ini dan itu.”

Tentang kelayakan, tidak semua penjelasan mengenai sesuatu bisa disampaikan secara langsung saat ini juga, adakalanya informasi-informasi tertentu harus ditunda penyampaiannya sambil menunggu momen yang tepat dan ‘kelayakan’ si penerima informasi terebut.

Kapasitas seseorang, bukannlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Ia bisa ditingkatkan levelnya seiring dengan perjalanan hidupnya. Karena hidup senantiasa bergerak, hidup senantiasa berubah. Bila kapasitas internal tak ditingkatkan, pada akhirnya kedewasaan usia seseorang akan mendahului kedewasaan berpikirnya.

Berbicara apakah kapasitas itu bisa ditingkatkan adalah pasti. Berikanlah ruang dan daya tamping pada diri kita untuk menerima semua kemapuan yang bisa dimiliki. Perluaslah cara berpikir, perluaslah sudut pandang dan cakrawala ilmu pengetahuan, Ambillah semua kesempatan untuk terus meng-upgradekemampua kapasitas kita.

Sebuah contoh, saat masih SD, mungkin permasalahan bagi seorang anak hanya sebatas mengerjakan PR sekolah dan saat tidak diberi uang jajan oleh orang tua. Anak itu menangis Cukup dengan menangis saja, kadang masalah bisa selesai. Butuh uang jajan nanti juga dikasih sama orang tua, butuh bantuan mengerjakan PR, nanti juga ada kakak yang membantu. Beda pula ketika sang anak memasuki masa SMP, problem-problem baru semakin banyak bermunculan dan masalah-masaalah yang datang sudah tidak bisa selesai lagi dengan menangis. Apalagi meningkat jenjang sampai SMA, perguruan tinggi, kehidupan rumah tangga, kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara. Semakin banyak saja permasalahan yang harus dihadapi.

Di sinilah lagi-lagi kapasitas itu penting untuk ditingkatkan. Jangan hanya menuntut beban lebih tapi tak mau meningkatkan kapasitas diri. Hanya menuntut diberikan sebuah informasi, tapi tak jelas apa yang selanjutnya ia kerjakan setelah mendapat informasi tersebut.

Perjalanan waktu menjadi ujian bagi peningkatan kapasitas seseorang, ia butuh banyak waktu untuk belajar, menyerap infomasi, meng-upgrade kemampuan diri dan wawasan berpikirnya.Diperlukan kesabaran untuk menikmati setiap prosesnya. Mengapa meikmati? Karena proses menuju peningkatan kapasitas seseorang itu adalaah sebuah keniscayaan yang akan kita jalani sebagai manusia. Setiap orang akan menjalani proses yang bernama ujian kapasitas. Bagi mereka yang tidak menikmatiny dan hanya ingin instan, segera mencapai level tertinggi tanpa melewati ujian kapasitas, tak akan bisa menimatinya.

Layaknya mendaki sebuah gunung, ujian kapasitas ibarat terus mendaki dan mendaki. Kita harus melewati tapak-demi tapak setiap langkah yang harus dilalui. Jangan pernah menuntut untuk bisa melihat pemandangan dari puncak gunung tanpa mau berlelah-lelah meniti setiap terjal tebih-tebing dan panasnya terik matahari. Jangan pernah menuntut untuk bisa melihat edelweiss tanpa mau berusaha mendaki setiap tanjakan-tanjakan curam dan menghalau dinginnya udara yan menusuk-nusuk kulit.

Nikmati saja setiap prosesnya, jalani ujian kapasitas yang ada dengan penuh kesabaran. Jangan pernah menuntut instan ingin ini ingin itu. Karena sebuah informasi hanya akan diberikan kepada orange yang kapasitasnya memenuhi kriteria dan layak untuk mendapatkanya. Saat ada yang bertanya, “kenapa banyak yang dirahasiakan kepada saya?”, jawabannya adalah “apakah saya sudah layak untuk menerimanya.”

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan”. (At-Taubah: 105)

 

 Saat-saat menjelang sahur, Pukul 03.20 WIB

Bojong, 13 Ramadhan 1432 H


#12 Ramadhan: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino…


Saya mulai jatuh cinta… pada kampung ini. Pada anak-anaknya.

Saya mulai jatuh cinta… pada keceriaan mereka. Senyum dan keluguan mereka.

Saya mulai jatuh cinta… pada kebersamaan mereka, keakraban dan persaudaraannya.

Saya mulai jatuh cinta… kadang tangis pun jadi bagian dari canda tawa mereka.

Saya mulai jatuh cinta… anak-anak, yang entah besarnya nanti seperti apa.

Saya mulai jatuh cinta… pada kedamaian, pada keheningan malam, pada setiap hempasan angina yang megorbitkan layang-layang di angkasa.

Ah, bahkan saking cintanya, tiap saya harus pulang-pergi jogja tempo hari, sempat terpikir, apakah saya bisa bertemu mereka lagi? Suatu saat nanti.

Memang benar apa kata orang jawa, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa, yang kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia artinya menjadi “Cinta tumbuh karena terbiasa”. Memang kalau dipahami maksudnya, akan bisa dimengerti bahwa cinta itu akan bisa tumbuh karena terbiasa. Terbiasa bertemu, terbiasa bersama-sama. Kalaupun mungkin pada awalnya cinta itu belum tumbuh, tetapi karena sering bertemu dan sering bersama-sama akhirnya cinta itupun mulai tumbuh.

 

Bojong, Malam ke-12 Ramadhan 1432 H

Pukul 21.00 WIB

#11 Ramadhan: Manja…


Manja, entah kenapa saya ingin me-repost tulisan ini kembali. Yang dulu pas ngetiknya saat-saat ‘galau’ berorganisasi, dan sekarangpun virus galau nya mulai terdeteksi lagi. Semoga saja nggak seperti dulu :-), 

oiya, btw tulisan ini tulisan ketiga saya yang di muat di dakwatuna.com dan  pernah nongol di twitter DPP PK*,  sampe sekarang masih nangkring di web beberapa DPD dan DPC *KS, (hadeeeeh apa gunanya pake bintang segala :-)), yah, meski ada yang sepakat dan juga yang nggak pokoknya saya mau me-repost tulisan ini. (he2 maksa)

Duh kader-kader manja, maunya selalu mendapat, tapi enggan memberi.  Maunya diperhatikan, tapi tak mau memperhatikan. Maunya dihargai, tapi tak mau menghargai.

Duh kader-kader manja, merasa paling dibutuhkan dalam dakwah hingga tinggi hati menyerang niat nan suci. Merasa paling berkontribusi tapi lupa diri, bahwa yang diperbuatnya tak begitu berarti.

Duh kader-kader manja, masalah pribadi jadi masalah lembaga. Harusnya fokus memikirkan umat, tapi sibuk mengungkit masalah internal yang dibuat buat. Kapan kita geraknya sobat?

Duh Kader-kader manja, selalu enggan datang rapat, kalaupun datang pasti bilangnya “afwan telat”

Duh kader-kader manja, inginnya selalu instan. Ingin dapet jabatan. Ingin terlihat mapan. Kalau tidak berhasil jadinya menjauh dari perkumpulan. Barisan patah hati pun jadi bermunculan.

Duh kader-kader manja, ingin ini ingin itu tapi tak mau bergerak. Hanya bisa berteriak-teriak, duhsampe suaranya serak, tak banyak manfaat.

Duh kader-kader manja, senangnya mengkritisi tapi tak memberi solusi, panjang lebar berdiskusi tapi tak ada aksi.

Duh kader-kader manja,

ternyata usia tak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Bersikap seperti anak-anak padahal beban dakwah semakin banyak.

Umat ini sedang butuh kontribusimu, jangan kau tambah lagi masalah umat dengan kemanjaanmu. Ingat, Komitmen kita di jalan dakwah ini akan Allah bayar, jauh lebih mahal dari materi yang selama ini kita kejar. Jadi jangan beralasan meninggalkannya hanya karena disibukkan dengan permasalahan-permasalahan pribadi. Syurga itu amat mahal takkan dapat dicapai dengan upaya seadanya saja. Buanglah sifat manja, buktikan bahwa kita kader-kader dakwah yang siap bekerja untuk umat dan bangsa.

Bojong

Ba’da Subuh Pukul 05.30

11 Ramdhan 1432 H

#10 Ramadhan: dia pun terbang menemui ayahnya…


“Kamu…” dengan nada marah pamannya berkata, “…sudah diberi uang untuk bayar SPP, tapi ternyata tidak kau bayarkan ke sekolah!”

“Untuk apa saja uang yang sudah om berikan pada fathin?”

Fathin, seorang anak SD yang sudah ditinggal ayahnya sejak kecil, kini harus tinggal bersama paman dan bibinya. Ibunya yang setahun lalu bekerja di Jordan sebagai TKI, kini mulai sakit-sakitan. Karena tak sanggup lagi untuk membiayai sekolah Fathin, akhirnya ia dititipkan ke keluarga Pak Kusnadi, pamannya.

Siang itu, pak Kus menerima surat tagihan dari sekolah Fathin yang isinya adalah tagihan uang SPP selama 6 bulan yang belum dibayarkan. Padahal pak Kus selalu memberinya uang SPP tiap bulan ditambah uang jajan tiap harinya.

“ma…maa…af om.” Sambil menahan sakit di punggungnya yang sejak tadi terkena lecutan sapu lidi itu.

Sesenggukan dan tetes air mata mengalir deras membasahi wajah lugu dan mungil itu. Seorang anak kelas 4 SD yang sudah tidak berayah, kini harus menahan sakit akibat lecutan di punggungnya.

“sebagai hukumannya, mulai sekarang uang jajan kamu saya stop.”

Pak kus berlalu ke kamarnya, meninggalkan fathin begitu saja.

Selang beberapa waktu, datanglah segerombolan teman-teman sekolahnya. Mereka berniat menjenguk Fathin yang pagi tadi tidak masuk sekolah. Mereka mengira fathin sedang sakit, karena tidak biasanya fathin bolos sekolah.   

“Assalamu’alaikum.” Serentak mereka menunggu si depan rumah pak Kus.

Pak Kus pun menemuinya hingga teras rumah.

“Kami kesini mau menjenguk Fathin om, sekalian mau memberikan uang ke Fathin.” Ucap salah seorang teman Fathin

“Uang? Uang apa?”

“ini om, minggu ini fathin yang dapat kocokan arisan kelas 4.”

Sambil menyodorkan amplop putih berisi uang 100 ribu, temannya itu berkata,”ini untuk fathin om, harusnya tadi pagi kami kasih, tapi fathinnya nggak masuk sekolah.”

Fathin, seorang anak yang cerdas dan sederhana ternyata menggunakan uang jajan sehari-harinya dan uang SPP untuk mengikuti arisan kelas, bukan untuk dijajankan yang tidak-tidak.

“Untuk Fathin kami berikan tanpa uang potongan administrasi om, karena kami kasihan melihat Fathin.”

“Dia ikut arisan ini supaya suatu saat, bisa terkumpul uang yang banyak. Uang yang bisa ia gunakan untuk membeli tiket pesawat. Terbang menemui ayahnya.”

Wajah polos Fathin mulai Nampak dibayangan pak Kus, tanpa disadarinya bulir air mata mengalir keluar dari persembunyiannya di kelopak mata. Ia telah merasa bersalah pada fathin karena telah memukulinya karena menduga fathin telah menyalahgunakan uang SPP.

Segera, pak Kus masuk ke dalam kamar fathin, ingin meminta maaf padanya. Pak Kus membangunkan Fathin, suara sesenggukan yang tadi begitu desah terdengar, ini berganti kesunyian, berkali-kali dipanggil fathin ternyata tidak bangun.

Karena ia, anak kecil itu, fathin, sekarang sudah terbang menemui ayahnya dengan uang arisannya tersebut.

Ternyata, lecutan sapu yang dilayangkan Pak Kus tadi, mengenai tulang belakangnya yang rawan, hingga sakit yang dialaminya benar-benar sakit teramat sangat.

“Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang Mengadakan perbaikan. dan Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs Al-Baqoroh 220).

Bojong, malam ke-1o Ramadhan 1432 H

Pukul 23.30 WIB

#9 Ramadhan: Pertengahan…(bag-1)


Beberapa hari yang lalu saya menonton salah satu tayangan di sebuah stasiun televisi swasta yang katanya, edisi ‘spesial’ ramadhan. Sebuah tabligh akbar yang mengundang ustadz yang sedang naik daun. Awalnya terlihat sepintas sangat bagus, lihat saja para jama’ahnya bukan orang-orang berpeci atau berkoko dan bahkan ada para remaja putri tak berjilbab. Hebat bener ni ustadz bisa menarik perhatian kalangan orang-orang yang jarang tersentuh oleh dakwah.

Namun,,, iklan berselang,,, kamera berpaling ke panggung seberang dan dimulailah aksi tak karuan,,,loncat-loncatan, teriak sampai suara gak kedengeran, hah…. Band-band-an pun mengalihkan perhatian. Yang semula khusyuk ikut pengajian, tapi kini tertutupi lagi oleh nyanyian. Duh, memang zaman sudah edan.

Mungkin niatan awalanya pihak stasiun televisi itu adalah ingin menggambarkan bahwa dakwah bisa untuk kalangan yang seperti itu. (Bagi saya itu sudah bagus, bahkan sangat bagus bila dibandingkan dengan stasiun tv yang sama sekali tidak menyiarkan dakwah Islamnya selama Ramadhan). Tapi, kok rasanya justru suasana hura-hura lebih terasa kental ketimbang dakwahnya ya… Dakwah dikemas lebih komersil, mendatangkan ustadz bukan dari kapabilitas dan kedalaman ilmunya, tapi karena ketenaran dn ‘kelucuan’nya yang menarik hati jamaah.

Tabligh akbar yang seharusnya diisi lantunan ayat suci al-qur’an malah diisi band-band-an. Udah gitu pemuda-pemudi histeris teriak menakjubkan.

Pertengahan itu bukan menarik kanan ke tengah, akan tetapi mengajak yang kiri agar semakin mendekat ke tengah…

Atau dalam sebuah lembaga ‘dakwah’, yang kental dengan bahasa ana antum akhi ukhti, yang ingin melebarkan sayap dakwahnya ke semua kalangan. Al hasil syuro pun tanpa hijab lagi, bahasa loe gue mulai bermunculan, tilawahpun tergantikan dengan candaan tak bermutu yang semakin mengkhawatirkan.

Logikanya, sepertinya harus dibalik, bukang men-umum-kan lembaga dakwah akan tetapi  meng-islam-kan lembaga umum tersebut.

Pertengahan itu bukan menarik kanan ke tengah, akan tetapi mengajak yang kiri agar semakin mendekat ke tengah…

Terakhir, saya juga melihat sebuah majalah Islami khusus untuk remaja. Yang sekarang tampilannya anak muda banget. Wanita-wanita tak berjilbab pun bermunculan disana.

Dulu, ketika pertama kali bersentuhan dengan majalah tersebut, saya sangat berharapa agar nilai-nilai Islaminya tetap terjaga. Terjaga agar tidak terkontamnasi dengan budaya ikut-ikutan globalisasi. Tapi kini, kok gayanya mengikuti majalah-majalah anak muda lainnya ya, hanya berbeda nama Islami dan tidaknya.

Logikanya, lagi-lagi harus dibalik. Bukan membuat majalah Islam menjadi lebih ‘bebas’, akan tetapi membuat majalah-majalah ‘gaul’ menjadi lebih Islami.

Yang kanan, ya sudahlah tetap di kanan. Jangan ikut-ikutan ke kiri dengan alasan Cuma mau ke tengah khawatirnya nanti pergerakannya kebablasan, niatannya ke tengah tapi nanti keterusan ke kiri Na’uzubillah…

Pertengahan itu bukan menarik kanan ke tengah, akan tetapi mengajak yang kiri agar semakin mendekat ke tengah…

wallahu a’lam bish showwab..

Malam ke-9 Ramadhan 1432 H Pukul 00.00 WIB

Bojong, Panjatan, Kulonprogo

#8 Ramadhan: Pinta hamba ya Rabb….


Rabbi…, jika dengan prasangka ini hanya membuat hamba  terlena,

Maka, cukuplah kesudahan ini yang menjadi akhirnya.

 

Rabbi…, jika kegundahan ini adalah sebuah pertanda,

Maka, mengingatiMu adalah penawar segalanya.

 

Rabbi…, jika keheningan ini terus berlanjut hingga akhir masa,

Maka, pintaku takkan ada yang pernah kecewa karenanya.

 

Rabbi…, jika dengan sikap dan tuturku banyak makhlukMu yang terluka,

Maka, berikanlah hamba waktu untuk memintakan maaf kepadanya.

 

Rabbi…, jika dan hanya jika firasat hamba itu benar,

Maka, , di sepanjang hamba mengingatiMu, izinkan hamba untuk terus menjaganya.

 

Nurul Barokah, 8 Ramadhan 1432 H

Pukul 06.30 WIB

 

#7 Ramadhan: Pensil Ajaib…


Masih ingat dengan episode pensil ajaib SpongeBob??? Itu lho yang pensilnya bisa membuat gambar menjadi hidup dan bergerak.  Kartun yang pertama kali tayang tanggal 26 Oktober 2000 ini telah banyak menyedot perhatian anak-anak. Betapa tidak, bahkan di sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia kartun ini ditayangkan pada tiga waktu, pagi, siang dan sore dalam sehari.

Kisah tersebut bermula saat Spongebob dan Patrick menemukan sebuah pensil ajaib.  Pensil tersebut ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk menggambar, akan tetapi juga hasil gambarnya dapat bertransformasi menjadi kenyataan. Menjadi makhluk hidup.

Spongebob mencoba untuk menggambar dirinya sendiri. Namun tak disangka gambar tersebut berubah menjadi spongebob tiruan yang jahat. Nama tiruannya itu adalah DoodleBob. Saking jahatnya, DoodleBob itu mengambil pensil ajaib spongebob dan membuat onar dengan merusak rumah spongebob dengan menggunakan ujung penghapus pensilnya.  Penghapus tersebut digunakan untuk menghapus apa saja yang diinginkan DoodleBob termasuk bagian tubuh spongebob.

Singkat cerita ulah keonaran DoodeBob itu akhirnya berakhir setelah spongebob berhasil menangkap DoodleBob dengan memasukkannya ke dalam buku tulis. DoodleBob pun akhirnya terperangkap di dalam buku tulis tersebut.

—TAMAT—

Berbicara mengenai pensil, saya jadi teringat sebuah intermezzo yang disampaikan oleh seorang guru KWN (Kewarganegaraan) saat mengajar di kelas waktu di IC. Beliau  menyampaikan sebuah kisah tentang asal-usul pensil diciptakan.

Jadi begini, dahulu sebelum pensil ada, sang pembuat pensil menitahkan kepada pensil sebelum turun ke dunia agar selalu ingat 5 keistimewaan yang diberikan padanya.

Pertama, bahwa kamu hanya dapat digunakan untuk menulis bila ia berada dalam genggaman siapa yang memilikimu.

Kedua, Untuk meningkatkan kejelasan goresan catatanmu, maka kau harus selalu ditajamkan secara berkala.

Ketiga, Bagian terpenting darimu bukan kulitmu, akan tetapi apa yang ada di dalammu, itulah arang hitam yang bisa menuliskan catatan.

Keempat, kamu juga dibekali penghapus di sisi yang lain agar kamu bisa menghapus setiap kata yang kau salah catat.

Dan yang terakhir, kelima, apa yang kamu tulis akan dibaca orang lain, akan menjadi bukti sejarah bahwa kau bisa bermanfaat untuk yang membaca tulisanmu.

Setelah dibacakan keistimewaan-keistimewaan pensil  tersebut, barulah pensil itu diturunkan ke dunia.

Lalu, guru saya tersebut menyampaikan hikmah dibalik kisah imajinasi tersebut.

Pertama, kita sebagai manusia harus senantiasa ingat bahwa keberadaan kita di dunia ini tentu berada dalam genggaman Allah, berada dalam kekuasaanNya, berada dalam pengawasanNya. Oleh karena itu kita baru akan bisa berkarya bermanfaat bagi umat ini bila kita menyadari hal tersebut, kita hambaNya yang mempunyai tugas untuk beribadah dan mnsyukuri segala nikmatNya.

Kedua, dalam setiap fase kehidupannya manusia selalu menghadapi berbagai cobaan dan ujian. Dimana ujian dan cobaan tersebut tidak lain adalah untuk ‘menajamkan’ kematangan berpikir dan bersikapnya dalam mendewasakan karakter pribadi manusia tersebut. Bila ingin naik tingkat di hadapanNya, maka kitapun harus siap untuk melewati ujian yang tersedia.

“Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk [67]: 1-2)

Ketiga, setiap manusia diciptakan Allah dengan berbagai keistimewaannya, ada yang ganteng ada yang cantik dan juga sebaliknya, ada yang cerdas, ada yang kaya, juga ada yang bodoh dan miskin. Namun, Allah memiliki satu parameter untuk menilai hambaNya, bahwa yang menentukan derajat manusia di sisiNya adalah ketaqwaanNya, bukan ‘fisik’ yang terlihat. Bukan ketampanan dan kecantikan yang membuat manusia lebih istimewa, akan tetapi apa yang ada di dalam hatinya. Yaitu Iman dan taqwa.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, bila ia baik niscaya seluruh jasad akan baik, dan bila ia rusak, niscaya seluruh jasad akan rusak pula, ketahuilah segumpal daging itu ialah hati.” (H.R. Bukhari)

Keempat, manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Baik besar maupun kecil. Atas kemurahanNya, Allah memeberikan kesempatan ‘penghapus’ taubat bagi manusia untuk bisa men-delete dosa-dosa yang telah dilakukannya di masa lampau. Kesempatan waktu yang banyak itulah yang harusnya digunakan oleh manusia untuk memuhasabah diri dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya.

“Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami’ Shagir – 5235)

Kelima, rangkaian perjalanan hidup kita ini akan menjadi catatan sejarah yang akan diwariskan kepada anak cucu kita nanti. Baikkah atau burukkah catatan perjalanan hidup kita. Apa yang sudah kita ‘tuliskan’ dalam lembaran sejarah ini tentunya akan menjadi sumber inspiirasi bagi generasi penerus kita sesudahnya.

Pensil memang ‘ajaib’ , meski kecil namun bila kita merenungkannya, ada banyak pelajaran yang dapat diambil…

 

Bojong, 6 Agustus 2011

Malam ke-7 Ramadhan 1432 H

Pukul 21.45 WIB

#6 Ramadhan: Sidang…


Mengejar matahari. Ya, pagi ini saat matahari mulai meninggi di ufuk timur saya meluncur dari tempat kkn menuju kampus untuk ujian remediasi. Saya baru berangkat jam 9, padahal ujian akan dimulai jam 10. Karena saking terburu-burunya, saya lupa bawa uang padahal kondisi motor sudah hampir kehabisan bensin. Tak dinyana, untunglah di tengah perjalanan saya ketemu teman satu kkn. Segera saya susul untuk pinjam uang dulu untuk isi bensin.

Perjalananpun dilanjutkan. Demi mengejar waktu ujian, sayapun menambah laju motor agar bisa sampai lebih awal di kampus. Sampai di sebuah peremapatan, saking kencangnya saya tidak sempat untuk menghentikan laju motor dilampu merah. Karena jarak 10 meter lampunya masih hijau, maka sayapun jalan terus.

Mungkin sudah takdirnya ya, ada pak polisi yang melihat di pos tersebut sampai akhirnya saya dikejar sampai jembatan kali progo. Hmm, mau gimana lagi. Singkat cerita, penilanganpun terjadi. Terjadi diskusi yang sangat alot (yang ini nggak ding), pak polisi menawarkan:

“gini mas, mau pilih mana, bayar di bank *** sekarang atau di bawa ke pengadilan?”

“emangnya kalo bayar di bank berapa pak?”

“ya, sekitar 250 ribu.”

Whatttt. Gedhe banget, (mikir mode:ON). Klau Cuma 5 ribu saya bayar tuh. Hehe… (*astaghfirullah).

“kalau sidang nanti 2 minggu dari sekarang.” Dengan wajah sangar pak polisi itu berkata.

Mikir lagi…. Lagi… dan lagi…

Lama banget,,,,,

“Ntar deh pak, mikir-mikir dulu (lama banget mikirnya), saya soalnya mau ujian jam 10, sekarang harus segera ke kampus.

“Jadi maunya gimana?”

Yee si bapak, udah dibilang mau mikir dulu.

“Ntar abis  jumatan saya ke sini lagi pak.”

“yasudah, STNK kami tahan dulu, kalau mau bayar ke bank, kami tunggu sampai sore, ini surat tilangnya. Kalau mau disidang nanti tanggal 16.”

 

Yupz, secuplik kisah pagi hari yang menggemaskan.  Baru kali ini saya harus berurusan sama polisi, apalagi sampe di sidang segala. Menggemaskan sekaligus memberi pelajara yang teramat besar. Lain kali, jangan pernah melanggar peraturan lalu lintas yaa. Ada atau tidak ada polisi ya harus tetap tertib. 🙂

Saya jadi membayangkan, persidangan yang menunggu 2 minggu saja sepertinya lama banget nunggunya, apalagi persidangan di akhirat nanti ya. Persidangan dimana, aib kita akan dibeberkan dengan gamblang. Saat mata, tangan, kaki akan jadi saksi apa yang telah kita perbuat. Mata ini akan bersaksi untuk apa saja ia gunakan, apa saja yang dilihatnya selam di dunia. Sudahkah sesuai dengan aturanNya? Tangan juga akan bersaksi atas segala usaha yang telah diperbuatnya, kaki akan bersaksi, menjelaskan dimana saja tempat-tempat yang sudah dikunjunginya, mana saja tapak-tapak jalan yang telah dilaluinya. Dan semua indera kita akan bersaksi dihadapanNya nanti saat persidangan.

Saat kita menyadari bahwa ada suatu masa dimana seua amal akan dipertanggungjawabkan, kitapun akan lebih berhati-hati dalam berbuat. Mencoba untuk memilah dan memilih setiap aktivaitas yang kita lakukan, apakah sudah sesuai dengan tuntunannya atau belum. Dalam kehidupan ini hanya ada 2 kemungkinan amal kita. Apakah itu amal baik atau amal buruk. Di setiap detiknya, dua kemungkinan ini akan silih berganti memenuhi catatan-catan amal yang sudah Allah siapkan.

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” ( Al-Insyiqaq: 7-8)

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: ‘celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yag menyala-nyala (neraka).” (Al-Insyiqaq: 10-12)

 ‘Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan ttidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?.’ Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan rabb-mu tidak menganiaya seorangpun.” (Al-Kahfi: 49)

Dan yang menjadi tugas kita sebagai hambaNya adalah bagaimana membuat kemungkinan-kemungkinan amal tersebut selalu diisi dengan catatan kebaikan.

Semoga di persidanganNya nanti kita sudah siap dengan bekal-bekal pembelaan melalui amalan baik selama di dunia ini. 🙂

*5 agustus 2011, Pukul 23.50 WIB

#5 Ramadhan: Maaf dengan sangat…


“saya selaku imam masjid meminta maaf kepada para jamaah shalat maghrib, karena tadi di rakaat pertama ada kesalahan bacaan surat, yang harusnya dibaca sabiila Tadi saya baca saabila”

Tidak jarang saya mendengar permohonan maaf tersebut ketika sang Imam melakukan kesalahan bacaan dalam shalatnya. Sang Imam meminta maaf kepada jamaah di atas mimbar sesaat setelah zikir dilaksanakan, bahkan ada yang langsung meminta maaf sesaat setelah salam diselesaikan. Ya, meskipun ‘hanya’ salah baca tajwidnya,  sang Imam segera meminta maaf.

Begitulah kondisi di masjid Insan Cendekia. Masjid yang memberikan kesempatan kepada para santrinya untuk latihan menjadi Imam masjid. Di setiap tahunnya terekrut sekitar 8-10 orang Imam masjid yang telah diseleksi oleh para guru Pembina asrama dan di tes bacaannya oleh sang Syeikh utusan kedubes Mesir.  Meski demikian, kesalahan, kekhilafan tetap saja tak bisa dipungkiri. Kadang sang imam lupa bacaan surat-suratnya, kadang tajwidnya salah dan macam-macam kekhilafan lainnya. Namun yang unik adalah, baru kali itu saya mendapati para Imam langsung tergerak hatinya untuk segera meminta maaf kepada para jamaah. Budaya yang memang dibiasakan kepada para santrinya (meski banyak  yang tidak setuju kalau dibilang santri), budaya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.

 

 

 

 

———————————————————

Malam ini, malam ke-5 ramadhan, saya mendapati kejadian yang hampir sama, namun berbeda endingnya. Sang Imam lupa melakukan ruku’ , selesai I’tidal ia langsung sujud tanpa melakukan ruku’. Dan di akhir salam saya sempat bingun juga karena tidak juga dilakukan sujud syahwi. Al hasil, shalat tarawih dua rakaat terakhirpun diulang kembali. Tanpa sepatah katapun dari sang Imam.

Dua kondisi di atas hanyalah gambaran saja bahwa sebuah permintaan maaf seharusnya tidak mengenal apakah kesalahan-kesalahan itu kecil atau besar. Sekecil apapun kesalahan itu, seringan apapun efek yang ditimbulkannya, sesedikit apapun orang yang tersakiti olehnya, kata maaf adalah kata yang mujarab untuk mencairkan suasana. Meluluhkan segala kebekuan yang ada dan menjadikan orang lain merasa dihormati atas permintaan maaf kita.

Bangsa ini juga sedang menunggu-nunggu permintaan maaf dari para pejabatnya, dari para anggota dewan dan para pemimpin bangsa ini. Sebuah kata-kata yang senantiasa dinanti oleh rakyatnya. Permintaan maaf atas ketidakadilan yang menyiksa, permintaan maaf atas kesejahteraan rakyat yang hanya janji belaka, permintaan maaf atas konflik yang tak kunjung reda, permintaan maaf atas banyak kasus-kasus korupsi yang semakin menggurita, dan masih banyak lagi permintaan maaf yang ditunggu rakyat negeri merah jambu ini.

Itu dalam konteks kehidupan bernegara, bisa jadi para pemimpinnya enggan untuk meminta maaf atau bisa jadi ketidakpekaan mereka bahwa banya kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Begitupun diri kita, adakalanya meminta maaf itu berat sekali untuk dilakukan atau kadangkala ketidakpekaan kita menghalangi bashirah kita dalam mengenali masalah yang ada.

*Teruntuk semua sahabat-sahabatku, kalau ada salah (pasti ada) yang belum terlontar kata maaf dari lisan saya, mohon untuk dimaafkan. Maaf dengan sangat…..

“Do’a Malaikat Jibril menjelang Ramadhan “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang ekitarnya” Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang mengaminkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at”.

Pojok rumah di pinggir pematang, Bojong, Kulonprogo

Pukul 22.10 WIB

4 Agustus 2010

#4 Ramadhan: Mughits, Barirah dan romantikanya


Bumi yang luas terhampar ini terasa sempit baginya kala itu. Putaran waktu seakan berhenti menyisakan kebisuan mendalam di hatinya. Kerumunan orang berlalu lalangpun tak diindahkannya, seakan hidup ini terpasung, terhenti bahkan detak jantungpun terasa beristirahat memompakan aliran darahnya.

Sebuah permintaan untuk berpisah dari sang istri tercinta. Istri yang sudah bertahun-tahun ia cintai namun tak pernah membalas cintanya dengan sepenuh hati.

Dialah Mughits. Seorang budak hitam yang sangat amanah, jujur dan bersemangat dalam berkhidmat kepada tuannya yaitu Abu Ahmad bin Jahsy. Ia sangat banyak membantu tuannya tersebut, sehingga apa saja yang diinginkan mughits selalu diupayakan untuk diringankan oleh tuannya. Sampai suatu ketika, Mughits meminta kepada tuannya untuk menikahkannya dengan seorang wanita yang sangat dicintainya, Barirah.

Meski demikian, tak ada sepercik butir-butir cinta yang dirasakan oleh Barirah atas cinta Mughits. Tak ada getar-getar kerinduang yang terekam dalam memori hatinya. Pada awalnya, Barirah tak mau menerima pinangan Mughits kepadanya, namun atas desakan yang terus menerus dari tuannya-karena Barirah juga adalah seorang budak-ia menerima pinangan Mughits. Secara lahirnya saja, namun bathinnya tersiksa , menolak cinta Mughits.

“Demi Allah, aku dipaksa oleh keluargaku untuk menikah dengannya. Dalam hatiku tidak ada kecondongan (kecintaan) sedikitpun kepadanya, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.”

Mughits amat bahagia pinangannya kepada Barirah sang gadis cantik pujaanya di terima, namun di sisi lain, isak tangis dan gundah gulana menghantui sosok Barirah yang terpaksa menerima pinangan Mughits.

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Waktupun terus berlalu meninggalkan segala kesedihan yang ada, namun tetap saja tak terpercik sedikitpun  tetes-tetes cinta membasahi hatinya. Yang ada hanya tetes air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajahnya.

“Demi Allah wahai ummul mukminin, sungguh hatiku ini sangat membenci Mughits, aku sudah berusaha mencintainya dan aku tetap tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lakukan dalam hidup bersamanya.” Ungkap Barirah pada Bunda Aisyah.

Aisyah pun menasehatinya: ”Bersabarlah wahai Barirah, semoga Allah memberikan jalan keluar dari masalahmu ini.”  

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Mughits amat terpukul, bertahun-tahun cintanya tak pernah terbalaskan, beratus bahkan beribu kata cinta selalu ia sampaikan pada istrinya, namun tak mampu menyentuh menggetarkan hati sang istri.

“Kenapa kamu ini wahai Mughits! Sepertinya kamu terlalu memikirkan Barirah, wanita selain dia kan banyak.” Ucap tuannya.

Mughits Menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai tuanku, aku tidak bisa membencinya, aku tidak bisa mencintai wanita selainnya.”

 

Takdirpun berkata bahwa memang Mughits memang harus berpisah dari Barirah.

Setelah Barirah merdeka dari tuannya, ia segera meminta cerai dari Mughits dan memiih untuk hidup tanpanya. Bumi yang luas terhampar ini terasa sempit baginya kala itu. Putaran waktu seakan berhenti menyisakan kebisuan mendalam di hatinya. Kerumunan orang berlalu lalangpun tak diindahkannya, seakan hidup ini terpasung, terhenti bahkan detak jantungpun terasa beristirahat memompakan aliran darahnya.

Sebuah permintaan untuk berpisah dari sang istri tercinta. Istri yang sudah bertahun-tahun ia cintai namun tak pernah membalas cintanya dengan sepenuh hati.

Ah, cinta memang tak bisa dipaksakan. Cinta sang lelaki yang justru terbalaskan dengan kebencian sang wanita menjadi sebuah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup dua shahabiyah tersebut. Cinta yang berbalas kebencian akan meninggalkan kesedihan mendalam dan menggerus luka yang semakin besar di dinding hatinya. Namun, cinta sejati sang lelaki takkan pernah hilang, meski kini ia tak tahu apakah cintanya itu akan terbalas. Ia hanya yakin bahwa masalah hati hanyalah masalah waktu. Karena al-qalb akan berbolak-balik sesuai dengan maknanya.

 

*Pukul 23.59, Malam ke-4 ramadhan

#3 Ramadhan: Jangan sepelekan yang kecil


Setelah sepanjang  siang tadi saya sedikit merasakan peradaban Jogja, menikmati hilir mudik anak- anak kecil di sepanjang ringroad barat, berpeci dan berselempang mukena di pagi hari sambil meledakkan petasan di kanan kiri jalan, menjenguk kamar yang sudah 3 minggu tidak dikunjungi, berkeliling kampus UGM, UNY dan UIN, ikut ujian dan presentasi tugas sampai buka puasa bersama di ‘gedung’ MPR, malamnya saya harus segera kembali ke habitat sementara ini. Pondokan KKN.

Saat menjelang isya sayapun mencari masjid terdekat dari jalan wates, masuk ke gang-gang dan agak sedikit memilah-milih, (*kira-kira yang rakaatnya 11 yang mana ya :-)) biar cepet maksudnya. Dan supaya nggak kemaleman balik ke tempat KKN nya. Selepas tarawih, perjalanan pulangpun berlanjut. Menelusuri kelamnya jalan tanpa marka, yang sewaktu-waktu cahaya spion truk-truk besar dan bus malam cepat bermunculan secara tiba-tiba. Agak sport jantung memang ketika melewati jalan wates itu. Apalagi kemarin pas perjalanan ke Jogja ada 2 truk yang terguling akibat saling bertabrakan.

Di tengah perjalanan, teringat sesuatu…… Kayaknya tadi ada yang nitip pesenan deh. …. Dan…Haduh lupa klw ada yg nitip beliin sesuatu di apotek. Untung apotek ada di mana-mana, jadi bisa sekalian nyari di dekat patung kuda. Sesampainya di sana biasalah terjadi percakapan antara si penjual dan si pembeli (apa sih?), si mbak2nya pun memberikan apa yang saya cari. Tapi kok ada yang aneh lagi ya,,,,, merogoh kantong kanan dan kiri, membuka tas dan membolak-balikkan buku, ternyata dompetnya gak saya bawa. Gubrakzzz…

Jadi-nggak-jadi-nggak…. Mikir dulu. Dan ternyata saya masih bawa uang receh ‘celengan’ yang selalu saya bawa-bawa di tas (makanya itu tas selalu saya jaga baik2  dan nggak boleh lepas :-)),  

“sebentar ya mbak, mau ngitung uang recehnya dulu… errrr tapi mau kan mbak uang receh?”

Eh ternyata, si mbaknya malah nawarin

“kalau ada banyak, sekalian tukerin recehnya di sini aja mas.” (widih.. kebetulan. sekalian buat ngisi bensin juga nih)

Dan….. setelah diitung, 38.000. TIGA PULUH DELAPAN RIBU. (kebayang nggak uang recehan seratusan ada segitu di dalem tas :-)). Segeralah saya tukarkan uang receh itu ke penjaga apotek, sambil berlalu dengan uang penggantinya.

Tidak terpikirkan sebelumnya, kalau uang seratusan yang saya simpen tempo hari dulu itu bakalan bermanfaat disaat dompet ketinggalan, dan bisa beli obat-obatan dan juga ngisi bensin.

Uang yang terkumpul sedikit demi sedikit itu mengajarkan pada saya bahwa, tidak ada yang sepele di dunia ini. Bahkan dengan nilainya yang bahkan mungkin orang tidak menganngap uang seratus itu bernilai. Dan juga bahwa apa yang saya kumpulkan dulu manfaatnya baru bisa dirasakan dikemudian hari.

Pun, begitulah hidup kita yang singkat di dunia ini. Tidak semua yang kita lakukan pada hari ini, manfaatnya  dapat kita rasakan hari ini juga. Tidak semua yang kita lakukan pada minggu ini, manfaatnya dapat kita rasakan minggu ini juga. Tidak semua yang kita lakukan pada tahun ini, manfaatnya dapat kita rasakan tahun ini juga. Adakalanya manfaatnya baru dirasakan dikemudian hari Selain itu, sekecil apapun amal yang kita lakukan hari ini, kalau itu dilakukan secara kontinyu, maka ia akan menjadi amalan besar dikemudian hari. Begitupun sebaliknya, perbuatan buruk yang diulang-ulang sekecil apapun itu, maka akan menjadi sebuah dosa besar yang tanpa sadar telah menggerogoti berkah kehidupan kita.

Sepanjang manusia hidup, proses untuk menjadi baik adalah sebuah keniscayaan. Menggapai rahmatNya, merasakan cintaNya dan menyelami samudera kasihNya adalah sebentuk harapan yang pasti ingin dirasakan oleh setiap hamba-hambaNya yang beriman.

Amalan kita adalah saksi dikemudian hari, baikkah atau burukkah ia, banyakkah atau sedkitkah ia, ikhlas atau tidakkah amal itu dilakukan, semuanya akan menjadi pengiring kita kelak. Semoga di bulan ramadhan ini, menjadi momentum untuk terus berusaha memperbanyak amalan baik dan belajar untuk meng-istiqomah-kannya,baik itu amalan baik yang besar maupun yang kecil. Wallahu a’lam bish showwab.

*Bojong, Malam ke-3 Ramadhan, ditemani siaran langsung Tabligh Uje

Pukul 23.50 WIB

 

#2 Ramadhan: Cemburu…


Suatu ketika datang seorang nenek tua menghadap Rasulullah. Nenek tua itu mendekat dan ingin berbicara dengannya. Rasulullah yang saat itu sedang berkumpul dalam kerumunan, memisahkan diri dan menyambut nenk itu lalu duduk disampignya. Melihat kejadian itu ‘Aisyah bertanya, “siapa gerangan nenek tua itu yang sudah berhasil membuat  engkau begitu serius dalam berbincang-bincang dengannya?.”

Rasulullah menjawab,”dia adalah sahabat Khadijah.”

‘Asiyah kembali bertanya pada Rasulullah,”Apa yang engkau bicarakan dengannya wahai Rasulullah?”

Lalu Rasulullah menjawab,”kami membicarakan hari-hari yang indah bersama Khadijah.”

Wajah ‘Aisyah memerah, gurat-gurat cemburu mulai terlukis diwajahnya, mendentangkan getaran kecemburuan pada seorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Apakah engkau masih mengingat-ingat orang yang sudah tua dan menjadi tanah itu, sementara Allah sudah memberikan ganti untuk engkau yang lebih baik?”

Rasulullah pun segera menjawab,”Demi Allah, Allah tidak pernah menggantinya dengan seorang perempuan yang lebih baik darinya, dia banyak memberikan bantuan moral dan material, dia melindungi aku ketika penduduk Mekkah ini mengusirku, dia membenarkan aku ketika manusia mendustakan aku.”

‘Aisyahpun tersadar, bahwa Rasulullah begitu marah mendengar ucapannya tersebut. Seketika itu pula ‘Aisyah meminta Rasulullah untuk memintakan ampunan Allah padanya.

Minta ampunlah kepada khadijah, baru aku akan memintakan ampun bagimu.” Tegas Rasulullah

Ya, ‘Aisyah memang sangat cemburu. Cemburu yang teramat sangat. Cemburu pada Khadijah yang begitu dibangga-banggakan dan dicintai Rasulullah. Bahkan ketika ada seorang wanita datang kepada Rasulullah, bathinnya berkata,”jangan-jangan  wanita ini menyerahkan dirinya untuk diperistri.”  Sebuah kontemplasi bathin seorang wanita yang sedang cemburu ,”Tidakkah aku menarik perhatian beliau?”

Dan cemburu itupun buka sebuah aib, ia adalah anugerah cinta yang tersemai dalam ranumnya bunga-bunga cinta yang tumbuh bermekaran. Cemburu itu tak bisa dipaksakan atau dikekang. Ia lahir murni dari sebuah gejolak bathin yang bergemuruh memenuhi ruang-ruang hati terdalam manusia.

Cemburu adalah bentuk cinta paripurna, ia pula terejawantahkan dalam kesempurnaan cinta.

Tanpa kecemburuan mungkin cinta akan terasa hampa. Karena cemburu adalah telaga ditengah kegersangan cinta.

*Pukul 23:30 WIB @Pondokan Putra KKN Unit Al-A’laa (87) disaat 3 orang lainnya sudah tepar 🙂