sebuah level


“Ketika kulihat bangsaku tiada lagi menyisa cinta.

Putuskan segala buhul ikatan, putuskan segala hubungan.

Bersumpah setia kepada musuh yang geram menggigit jari, dendam!

Kusabarkan hati menanggung nasib kelabu penuh permaafan.

Menahan putih kemilau kilatan pedang.

Kubawa sanak ahliku ke bait,,,Kugenggam erat tenun kainnya.”

 

Paman tercinta tak pernah henti membela. Ia menjadi tameng pertama saat Quraisy Mekkah menyakiti Rasulullah. Amarah sang paman semakin membuncah tatkala detik demi detik kehidupan Rasulullah selalu diselimuti cercaan dan ancaman kematian. Ia yang mengecam kabilah-kabilah Abdi Manaf. Menantang bani Umayyah dan Bani Naufal yang melancarkan permusuhan kepada Rasulullah.

“Amatlah kurang ajar suatu kaum yang meninggalan pemimpinnya, padahal dia melindungi mereka dari kehinaan tanpa kenal lelah.”

Serunya kepada para penentang dakwah Rasulullah. Dengan lantang ia berkata demikian. Begitulah cintanya pada baginda. Mungkin cinta karena keturunan, mungkin cinta karena kewarganegaraan. Bukan atas dasar cinta keimanan. Cinta yang pada akhirnya akan memberikan pembelaan kepada yang dicintainya.

Tapi…Seberapa besarpun cintanya pada Rasulullah, di akhir hayatnya ia tetap tak mau mengikuti ajaran Rasulullah dan kembali kepada Islam. Masalah hati, memang tak ada yang tahu. Kecuali DIA. Manusia hanya bisa menghukumi yang zhahir saja.  “Al-hukmu bizh-zhahir.” Kita menghukumi yag zhahir saja.

Sosok Abu Thalib memang membuat kita bertanya-tanya. Cinta macam apakah yang membuatnnya tak mau berikrar:  “Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyyhadu anna muhammadan rasulullah”.

Tentu bukan itu yang kita inginkan dalam sosok sang pencinta. Pecinta sejati bukanlah mereka yang mencinta karena rasa belas kasihan. Bukan karena tanggung jawab pembelaan,. Cinta sejati adalah cinta yang berdasar pada sebab yang tidak akan pernah hilang. Bukan belas kasih, yang suatu saat dapat tercerabut. Bukan…. Bukan itu. Tapi pembelaan atas dasar keimananlah sebentuk manifestasi cinta yang hakiki. Yang kadangkala kita harus bertanya pada diri. Sudah sejauh mana level cinta kita pada Rabb semesta alam?. Pada Allah, zat yang telah memberikan cintaNya pada manusia.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: